“Geu xx naega motan ge mwoya…
Dodaeche
wae naneun gajil su eomneun geoya…
Geu xx
neoreul saranghaneun ge anya…
Eonjekkaji
babogachi ulgoman isseul goya…”
Dia adalah seorang wanita yang tepat untuk ku, tapi mengapa dia memilih si b******k itu dari pada diri ku yang jelas-jelas telah menyukainya sejak pria itu datang dalam hidupnya. Mungkin memang salah ku juga kenapa pada saat itu aku tidak mengungkapkan perasaan cinta ku ini padanya. Sekarang semua telah terlambat untuk melakukannya, dia sudah bertemu dengan si b******k itu dan memilih si b******k itu untuk menjadi pasangan hidupnya. Seakan didunia ini sudah tidak ada celah dan harapan lagi untuk ku. Roda dunia sudah berhenti dan aku tepat berada dijantung neraka saat ini…
***
Hari minggu ini benar-benar
hari yang buruk untuk ku tapi disaat yang bersamaan adalah hari paling bahagia
seumur hidup ku. Saat aku sedang bekerja di tempat kerja ku tidak sengaja aku
melihat tunangan wanita yang ku cintai sedang berkencan dengan gadis lain di
salah satu café yang berada di distrik gangnam. Dia telah melepas cincin
tunangannya dengan CL demi berkencan dengan gadis lain. Saat itu seakan hati ku
terbagi menjadi dua, aku tidak tahu apakah aku harus menceritakan kejadian ini
kepada CL, tapi bila aku bercerita dengannya dia pasti akan membenci ku karena
telah mencoba merusak hubungannya dengan Taeyang tapi jelas memang itu yang
terjadi, Taeyang telah mengkhianati cinta CL padanya.
Dengan penuh percaya diri aku
menghampiri Taeyang dengan gadis itu dimeja nomor empat belas yang terletak
disudut ruangan café ini dengan pakaian pelayang yang ku kenakan.
“Mau pesan apa tuan?” tanya ku
pada Taeyang yang sedang membaca daftar menu.
“’Aku mau sirloin steak dan orange
juice,” lalu ia menatap wanita yang berada didepannya, “Dan kau mau apa
sayang?’ tanyanya manis pada wanita itu sambil mengelus wajah wanita itu dengan
sentuhan hangatnya.
“Aku juga sama dengan mu,
oppa.” Jawabnya dengan nada manis yang menggoda.
“Baiklah aku memesan sirlon
steak dan orang juice dua.” Sambil menyebutkan pesanannya Taeyang berbalik
kearah ku.
Lalu dengan tatapan sombong dia
menyapa ku, “Hei, kau pria yang tinggal bersebelahan dengan arpatemen CL kan ?”
“Iya,” jawab ku menahan emosi
“Jadi hanya itu pesanan anda, tuan?”
“Benar, cepatlah kami sedang
terburu-buru.”, perintahnya sombong.
Aku pun menunduk dan segera
menuju dapur untuk membeikan pesanannya kepada koki. Saat pesanan mereka selesai
dibuat aku pun segera menyajikan hidangan tersebut dimeja mereka. Ternyata
mereka sedang asik memadu kasih dibangku restoran. Aku pun menyajikan pesanan
mereka terburu-buru, aku tidak tahan melihat kesakitan CL nanti bila dia
mengetahui bahwa tunangan yang dia cintai dan selalu di eluh-eluhkan ternyata
mengkhianti cintanyaa dan bahkan telah mencampakkannya secara diam-diam.
Sebelum aku beranjak pergi
meninggalkan mereka yang sedang memadu kasih, dengan rasa penasaran aku
berbalik lagi kearahnya untuk menanyakan perasaan yang ada dihati ku saat ini.
“Hmm~ Taeyang–shhi bukankah kau
sudah bertunangan dengan CL?”, Tanya ku padanya tanpa tending alih-alih.
Dengan menahan tawa dia
menjawab pertanyaan ku dengan rasa yang menurut ku tanpa dosa, “Iya aku sudah
bertunangan dengannya tapi aku sudah mulai bosan dengan perempuan yang naïf
seperti CL mu itu, jadi bolehlah aku bermain sebentar untuk melepas kejenuhan?”
jawabnya tanpa senang.
Dengan emosi yang hampir
memuncak aku mencoba menahan diri ku untuk tidak bertengkar dengannya, “Bila
kau sudah bosan segeralah lepaskan CL, dia wanita yang tidak pantas berpasangan
dengan pria b******k seperti diri mu!”
Lagi-lagi dengan nada yang
meledek dan tidak serius menanggapi perkataan ku, “Ambillah dia bila aku sudah
benar-benar bosan dengannya.”
Belum sempat aku membalasnya
tiba-tiba kepala manager restoran memanggil ku, aku pun segera menghampirinya
dimeja kasir.
“Siapa pria itu sayang?”, Tanya
teman kencan Taeyang dengan rasa penasaran.
“Dia hanya seorang pecundang
yang telah lama mencintai CL tapi tak akan bisa mendapatkan CL.”, jawabnya
sinis.
Aku pun menguatkan diriku agar
tidak terjadi keributan dan segera
menghampiri manager.
“Ada apa bos?”, tanya ku saat aku sampai
dimeja kasir.
“Tolong antarkan pesanan ini
kealamat ini, tadi T.O.P mendadak tidak enak badan, jadi tolong gantikan dia
sebentar bisakan GD?”, pinta manager pada ku.
Aku pun melihat alamat yang
dituju didalam daftar pesanan, dan ternyata itu adalah alamat arpatemen CL. Ini
suatu hal yang benar-benar sangat kebetulan sekali untuk ku. Aku tidak tahan
menerima penderitaan ini. Dengan perasaan gundah-gulana aku pun mengantarkan
pesanan itu kealamat yang dituju.
Saat aku hendak meninggalkan
pesanan sekali lagi aku bertemu Taeyang dengan teman kencannya dipintu keluar.
Dia berjalan menghampiri ku dan menatap wajah ku dengan pandangan seperti
memandang orang rendahan lalu perlahan dia mendekati ku lalu berbisik kepada
ku,
“Jangan coba-coba kau
mencampuri urusan pribadi ku!,” ancamnya pada ku.
Dengan langkah yang hampir
gontai aku pun mencoba berlalu dan tidak memerdulikan perkataannya tadi.
Taeyang dan teman kencannya pun
berlalu dan segera menuju mobil mewahnya yang terparkir didepan café.
Aku merasa putus asa, aku tidak
tahan lagi melihat kegilaan ini. Aku tidak tega melihat kebohongan ini, tidak
tahan melihat apa yang akan dilakukan CL nanti bila mengetahui bahwa
tunangannya sendiri yang telah menghancurkan rasa cintanya.
Saat aku sampai diarpatemen CL
ku mencoba memberanikan diri untuk menemuinya dan memantapkan hati ku
seolah-olah tadi tidak terjadi apa-apa dicafe. Aku pun sudah berada didepan
pintunya, dan lalu memencet bel yang ada didepan pintunya. Bunyi bel pertama
tidak ada jawaban, aku pun mencoba membunyikannya untuk kedua kalinya dan tepat
setelah bunyi kedua berhenti suara CL pun bergema untuk menjawab panggilan ku.
“Tunggu sebentar.”
Tidak lama CL pun membukakan
pintu dan tersenyum pada ku. Dia sedang sibuk menerima telepon dari seseorang,
aku pun menaruh pesanannya diatas meja lalu menunggunya untuk membayar
pesanannya. Dengan rasa penasaran aku pun mendengarkan percakapan CL dengan
seseorang didalam telepon. Dan setelah aku menyimak beberapa pembicaraannya
ternyata itu telepon dari Taeyang. Hati ku langsung rapuh karena disaat yang
bersamaan aku mengingat kejadian di café tadi.
Setelah CL selesai berbincang
dengan Taeyang ditelepon, dia pun menghampiri ku yang sedang menunggunya dimeja
ruang tamu.
“Tumben kali ini kau yang datang
GD-sshi, biasanya T.O.P yang bertugas mengantarkan makanan?”, tanyanya dengan
menyunggingkan senyum manisnya pada ku.
Hati ku semakin teriris saat dia
memberikan senyuman manisnya itu, aku akan mengutuk si b******k itu atas apa
yang dia lakukan terhadap CL.
“Ada apa dengan mu GD? Kenapa kau terdiam?”,
tanyanya heran.
“Tidak ada apa-apa CL-sshi.”
“Baiklah ini bayarannya dan
kembaliannya kau ambil saja,” dia pun menyodorkan beberapa lembar uang kepada
ku.
Aku pun hanya tersenyum lalu
bergegas meninggalkan apartemen dengan perasaan yang tidak menentu.
Sesaat sebelum aku meninggalkan
apartemen, sentuhan halus CL mendarat tepat ditangan ku. Dia mendaratkan genggamannya
dilengan ku dan menahan ku.
“Tunggu sebentar GD, bisakah
besok kita berangkat bersama kekampus? “, pintanya.
“Baiklah, besok jam delapan
pagi aku tunggu dibawah.”, jawabku dengan bahagia yang tertahan.
CL pun tersenyum pada ku lalu
mengangguk untuk mengiyakannya.
Setelah mengantarkan makanan
aku pun kembali ke tempat kerja ku. Saat aku hendak masuk kedalam café aku
dihadang oleh seorang pria. Aku pun mencoba melihat wajahnya, sebelum aku
hendak melihat wajahnya tiba-tiba pria itu sudah memukul wajah ku. Sontak aku
pun kaget lalu rubuh didepan pintu masuk. Aku pun langsung bangkit dan segera
meluncurkan pukulan ku kearah wajahnya tapi lagi-lagi pukulan ku dihadangnya
dan dia segera menarik kerah baju ku,
“GD, awas saja bila kau berani
berkata macam-macam kepada CL! Akan ku bunuh kau!”
Ternyata itu adalah Taeyang
yang sudah memukul wajah ku. Rupanya setelah dia mengantar temen kencannya dia
kembali lagi ke café ini lalu menunggu ku. Dia panik saat tahu tadi aku yang
mengantarkan pesanan ke apartemen CL. Rupanya tadi CL sempat memberitahu
kedatangan ku padanya. Dengan tawa kecil aku pun mencoba menjawab ancamannya.
“Untuk apa aku berurusan dengan
pria b******k seperti mu!”, tantang ku padanya.
“B******k kau GD!”, Taeyang
mencoba memukul ku kembali tetapi kali ini pukulannya berhasil ku hindari dan
malah sebaliknya aku memukul wajah tampannya itu.
“Aku tidak akan memberi tahu
kejadian hari ini kepada CL, tetapi bila kau berani macam-macam dengan CL, kau
akan berurusan dengan ku Taeyang!”, ancam ku padanya.
Taeyang bangkit untuk berdiri,
dia hanya tertawa geli mendengar ancaman ku tadi.
“Lucu sekali, seorang pecundang
seperti mu berani melawan ku?! Bahkan derajat mu saja lebih rendah dari pada
binatang! Kau yang akan mati duluan bila kau berkata macam-macam pada CL!”,
tuntutnya.
Sebelum aku sempat mengucapkan
sepatah kata Taeyang sudah beranjak pergi meninggalkan ku yang hampir babak
belur didepan pintu masuk café.
Dia segera menuju mobil sport
mewahnya yang terparkir diseberang jalan.
Aku pun masuk kedalam café
dengan keadaan yang lumayan buruk. Manager café pun menghampiri ku.
“Apa yang terjadi diluar tadi
GD? Aku dengar ada keributan?”, tuntutnya pada ku.
“Tidak terjadi apa-apa bos,
hanya kesalah pahaman saja.”, elak ku pada manager.
“Bila benar apa yang kau
katakana seperti itu baiklah aku percaya tapi bila sampai merugikan café ini
gaji mu bulan ini akan ku potong, dan sekarang cepatlah kembali bekerja, dan
jangan lupa obati luka-luka mu GD.”, perintahnya.
Aku hanya mengangguk dan segera
berlalu menuju dapur dan melaksanakan pekerjaan ku.
Tidak terasa hari ini berlalu begitu berat,setelah melihat
kejadian tadi pagi,hati ku benar-benar sangat hancur. Aku sangat bersimpati
sekali terhadap CL. Dia tidak tahu bahwa tunangan yang selalu dia banggakan dan
selalu ia cintai telah melukai hatinya. Aku tidak tahu apakah besok aku akan
kuat menghadapi rona kebahagiaan yang terpancar dari diri CL setiap kali dia
membahas Taeyang.
Malam ini aku berusaha tidur
lebih cepat untuk mempersiapkan diri ku besok.
#saat itu didalam apartemen CL#
Telepon genggam CL terus
berdering berkali-kali, disaat yang bersamaan CL sedang tertidur dengan
lelapnya. Pada saat deringan yang kedelapan CL pun bangun dan segera melihat
layar telepon genggamnya. Dia heran saat melihat nama yang ada dilayar
teleponnya, “Seung Ri ? Ada
apa dia telepon malam-malam begini?”
Belum sempat CL menelepon balik
Seung Ri , Seung Ri
pun kembali menelepon CL dan CL pun menjawab teleponnya sambil
terkantuk-kantuk.
“Annyong-haseyo?”
“CL? Kau ada dimana?”, tanya Seung Ri
dengan terburu-buru.
“Seung Ri
bila kau cuma ingin mengajak ku bercanda ini bukan saat yang tepat! Apakah kau
tak tahu jam berapa ini Seung
Ri ?”,keluh CL dengan kesal.
“Aku tahu CL, aku kira kau
sedang bersama Taeyang sekarang?”
“Oppa? Ada
apa Seung Ri ?”,
tanya CL dengan rasa penasaran.
“Kwaench’anayo CL.”,elak Seung Ri
pada CL.
“Katakan pada ku yang
sejujurnya Seung Ri !”,tuntut
CL pada Seung Ri .
“Maaf kan
aku, aku tidak bermaksud merusak hubungan mu dengan Taeyang, tetapi barusan aku
melihatnya dengan seorang wanita ditempat kerja ku, aku pikir itu kau
CL?”,jawab Seung Ri dengan menyesal.
Lama sekali CL terdiam
diteleponnya sampai-sampai Seung
Ri juga ikut terdiam. Entah sudah
berapa lama kediaman yang terjadi didalam telepon sampai tiba saatnya CL
berkata,
“Aku yakin itu bukan oppa, dia
sedang ada rapat dengan pemegang saham, aku kira kau salah melihat orang Seung
Ri.”, elak CL dengan rasa percaya diri yang dipaksakan.
“CL…”, Seung Ri pun
tidak bisa berkata apa-apa lagi dia hanya terdiam.
Sesaat terdengar suara isakan
tangis yang pelan dari CL. Seung Ri tahu CL sedang bersedih akhirnya dia pun
mencoba memutuskan sambungan teleponnya dengan CL dengan sopan, “Maaf CL aku
harus melanjutkan pekerjaan ku, Annyong.”
Tanpa berkata-kata lagi Seung Ri
langsung memutuskan sambungan teleponnya dengan CL.
CL pun hanya bisa menangis
didalam apartemennya dengan perasaan tidak percaya atas cerita yang diceritakan
Seung Ri .
Dengan perasaan yang tidak menentu CL pun memaksakan dirinya untuk tidak
mempercayai cerita Seung Ri . Karena dia percaya Taeyang yang dia
cintai tidak seperti itu. Dengan rasa penasaran CL pun akhirnya mencoba
menelepon ke ponsel Taeyang tapi setelah ditelepon beberapa kali teleponnya
tidak kunjung diangkat. Setelah dia menenangkan diri, CL pun melanjutkan
tidurnya dengan gelisah.
#Keesokan paginya di apartemen
G Dragon#
Pagi ini aku terbangun lebih
awal, sebagian diri ku gelisah dengan apa yang telah aku alami kemarin dan
sebagian lagi merasa bahwa aku ini seorang pecundang besar yang payah.
Seperti biasa aku hanya sarapan
dengan semangkuk sereal dan bergegas meninggalkan apartemen untuk bertemu CL
dibawah. Saat aku tiba dibawah ternyata CL sudah ada lebih dahulu dibawah. Aku
hanya tersenyum dan menghampirinya.
“Annyeonghi
Jumusyeotseumnikka?”, tanya CL dengan nada ceria seperti biasanya. Tetapi aku
merasa sapaannya kali ini terasa dipaksakan, atau itu cuma pendapat ku saja,
aku tidak tahu?
“Pagi CL, hanya sedikit
kecapekan dengan pekerjaan paruh waktu ku.”
“ Apa yang terjadi pada mu GD? Luka apa ini?”, CL
menyentuh luka memar ku dengan halus. Sontak disaat yang bersamaan aku sedikit
meringis karena masih mengalami sedikit rasa sakit. “Aaa~ aku tidak apa-apa CL,
hanya kecerobohan ku saja ditempat kerja”,dusta ku pada CL.
“Lain kali kau harus lebih berhati-hati
lagi ya GD?”, pintanya sambil mengusap-usap halus rambut ku.
Aku hanya tersenyum mengiyakan.
Lalu kami pun berjalan bersama menuju halte bus untuk pergi kekampus.
Disepanjang jalan CL lebih
banyak mendominasi percakapan, dia menceritakan tentang beberapa hasil lukisan
muralnya yang akan dipamerkan dibalai kota
pada akhir pekan ini, lalu tugas dan teman-teman kuliahnya dan sampai pada
akhirnya dia bercerita tentang si b******k itu.
Ditengah cerita mengenai
Taeyang raut wajah CL tampak begitu sedih tetapi rasa sedih itu berusaha dia
tahan.
“GD?”, tiba-tiba CL memandang
ku dengan raut wajah yang seakan ingin menahan tangis. Karena tidak kuasa
melihat kegundahannya aku pun mencoba merangkul CL kedalam pelukan ku. Dia pun
memendamkan wajahnya ke bahu ku, lalu ia pun menceritakan kerisahan hatinya
pada ku.
“Aku mendengar kabar yang tidak
enak untuk ku dengar, Seung
Ri menelepon ku tadi malam, dia berkata bahwa dia telah
melihat oppa bersama wanita lain ditempat hiburan malam, mereka kelihatan mesra
sekali…”, mendadak cerita CL terhenti dan setetes air mata CL telah membasahi
bahu ku.
Yang bisa ku lakukan hanyalah
menenangkan dirinya, aku takut bila aku bilang juga padanya tentang Taeyang dia
akan lebih kalut.
“CL-sshi sudahlah kuasai diri
mu.”
“Tidak GD, aku yakin yang
dilihat Seung Ri bukanlah oppa melainkan orang lain aku
sangat yakin.”, ucapnya dengan penuh percaya diri. “Oppa tidak mungkin seperti
itu, dia orang yang baik-baik dan dia hanya akan selalu mencintai ku, benarkan
GD?”, mendadak CL pun menatap ku dan menghapus air mata yang sempat membasahi
wajahnya.
Saat dia menatap ku dengan mata
polosnya seketika itu juga amarah ku memuncak, aku cengkram erat bahu CL dan
menatap matanya dalam-dalam.
“Cukup CL-sshi! Aku muak
melihat mu seperti ini! Sudah tolong hentikan! Setiap kali kau membicarakan si
b******k itu aku selalu menahan amarah ku, tetapi untuk kali ini tidak!”, ku
tatap lagi wajah CL yang terlihat kebingungan, “Mulai saat ini kau berpikirlah
secara positif, si b******k itu tidak pantas untuk mu! Perhatikan disekeliling
mu, banyak orang yang sangat mencintai mu dan rela mempertaruhkan hidupnya demi
melihat mu selalu tersenyum dan selalu bahagia.”
“Kau? Kau bicara apa GD? Apa
maksud mu? Aku benar-benar mencintai oppa, itu hanya gossip belaka, sudah
lupakan kejadian yang tadi GD, kumohon?”
“Apa kata mu? Cinta? Apakah kau
yakin si b******k itu juga benar-benar mencintai mu, bukannya hanya
memanfaatkan mu?”
“Cukup GD! Aku benci pada mu!”,
CL pun menghentikan bus lalu segera bergegas turun sementara aku hanya bisa
menahan marah ku terhadap si b******k itu.
Tanpa sadar air mata ku menetes
dari sudut mata ku, mata ku mulai memerah dan terasa perih tetapi perih mata ku
tidaklah seperih hati ku yang memang sudah perih menjadi lebih perih lagi mendengar
pernyataan CL tadi. Aku benar-benar mengutuk si b******k itu karena telah
melukai hati wanita yang sudah lama ku cintai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar