Selasa, 29 Januari 2013

That XX

THAT XX (part.5-end)





“Geu xx naega motan ge mwoya…
Dodaeche wae naneun gajil su eomneun geoya…
Geu xx neoreul saranghaneun ge anya…
Eonjekkaji babogachi ulgoman isseul goya…”


Aku memacu motor yang ku kendarai dengan kecepatan tinggi, tidak memepedulikan lagi teriakan orang-orang yang terganggu dengan cara ku berkendara. Di dalam pikiran ku hanya ada satu yaitu keselamatan CL. Aku tidak peduli dengan situasi jalan kota Seoul yang ramai, tidak peduli hujan yang membasahi jalan yang ku lalui sekarang, dan tidak peduli bunyi klakson dari pengendara lain. Aku hanya terfokus pada jalan dan waktu yang ku tempuh untuk sampai rumah sakit. Aku tidak peduli lagi apa yang terjadi dengan ku, aku hanya memikirkan sahabat ku, sahabat yang aku cintai melebihi cinta ku pada diri ku sendiri.

Dengan rem yang berdecit nyaring ku hentikan motor ku tepat di depan pintu rumah sakit. Orang-orang hanya bisa memandangi ku dengan tatapan heran. Aku segera membuka helm ku dan mematikan motor ku lalu mencabut kuncinya secara paksa. Aku segera berlari ke dalam dan menuju meja resepsionis. Disana ada dua suster yang tengah sibuk, suster pertama tengah sibuk menerima telepon dan suster yang kedua tengah sibuk melayani seorang pria tua berjas hitam yang tampaknya juga sedang terburu-buru. Ku hampiri meja resepsionis lalu segera bertanya pada suster yang sedang melayani pria berjas hitam tersebut.
“Suster, di ruang mana korban kecelakaan lalu lintas yang baru masuk?”,tanya ku terburu-buru.
“Maaf tuan silahkan mengantri terlebih dahulu?”, pinta suster itu sopan. Sang pria berjas hitam hanya memandang ku dengan tatapan heran.
“Aku harus tahu dimana Chaerin Lee dan Taeyang dirawat sekarang!”, pinta ku mendesak.
“Tapi tuan anda harus mengantri terlebih dahulu?”,pinta suster itu mulai kesal.
“’Tidak apa-apa biar anak muda ini dulu.”, pinta pria berjas hitam itu mengalah. Aku hanya bisa menundukkan kepala sebagai ucapan terima kasih.
“Baiklah tuan.”, suster itu pun segera mencari data di komputernya,
“Nyonya Chaerin Lee dan Tuan Taeyang sedang di operasi akibat luka yang mereka alami. Nyonya Chaerin Lee dan Tuang Taeyang berada di ruang I.C.C.U.”, jelas perawat itu.
“Terima kasih.”, aku segera berlari menuju ruang I.C.C.U untuk melihat keadaan CL.

Saat aku sampai di ruang I.C.C.U lampu ruangan operasi masih berwarna merah itu berarti operasi belum selesai. Aku hanya bisa menunggu dengan perasaan gundah sampai operasi selesai. Aku segera mengabari sahabat CL, pertama aku menghubungi Sandara. Sudah hampir tiga puluh menit berlalu sejak kedatangan ku ke rumah sakit dan aku ingat untuk menelepon sahabat dan juga orang tua CL. Aku segera mencari nomornya Sandara di kontak telepon ku.
“Yeoboseo?”,jawab Sandara pada ku.
“CL mengalami kecelakaan sekarang dia sedang di operasi di rumah sakit Seoul, tolong kau kabari Park Bom dan juga Minzy.”
“Ne~”, Sandara pun langsung memutuskan sambungan teleponnya kepada ku.
Lalu aku segera menghubungi orang tua CL yang tinggal di pulau Jeju.
“Yeoboseo?”, tanya ibu CL saat pertama mengangkat teleponnya.
“Eomma-nim, ini aku G Dragon.”,terang ku.
“Iya, ada apa menelepon malam-malam?”,tanyanya heran.
“Eomma-nim, aku hanya memberi tahu bahwa CL mengalami kecelakaan lalu lintas dan sekarang sedang di operasi.”, jelas ku.
“Wae? Lantas bagaimana keadaan dia sekarang?”, tanya ibu CL panik.
“Aku juga tidak tahu, tapi ku mohon eomma-nim jangan panik, aku yang akan menjaganya disini.”,jelas ku mencoba menenangkan kepanikan ibu CL.
“Aku mohon jaga anak ku G Dragon, aku belum bisa datang ke Seoul sekarang, mungkin beberapa hari lagi aku dan ayah CL akan berangkat ke Seoul.”, jelasnya.
“Arraseo, eomma-nim, sudah sekarang eomma-nim jangan khawatir,bila ada perkembangan lebih lanjut aku akan segera menghubungi eomma-nim.”,jelas ku.
“Baiklah, tolong jaga putri ku.”, ibu CL segera mematikan sambungan teleponnya.
Tidak lama berselang telepon ku pun berbunyi, aku segera melihat layar telepon ku dan mengangkat sambungan telepon itu.
“Yeoboseo?”
“GD, dimana kau sekarang? Kami sudah ada di rumah sakit.”, jelas T.O.P
“Aku sedang ada di depan ruang I.C.C.U”,jelas ku
“Baiklah kami akan ke sana.”

Lima menit kemudian aku melihat T.O.P, Seung Ri, Daesung, Sandara, Bom, dan juga Minzy datang ke ruang I.C.C.U. mereka jalan terburu-buru dan akhirnya sampai di depan ruang I.C.C.U
“Kenapa bisa CL mengalami keceklakaan?”,tanya Sandara panik.
“Dia sedang bersama Taeyang lalu mengalami kecelakaan di jalan tol.”, jelas ku berusaha tenang.
Sontak Sandara hanya bisa menutupi mulutnya sambil menahan tangis yang akan keluar. Sementara Park Bom dan Minzy pun sudah menangis terlebih dahulu.
“Sudah sekarang kita semua berdoa saja yang terbaik untuk keduanya.”, bujuk T.O.P
“Apa kata mu? Baik untuk ke duanya? Kalau CL saja yang baik aku setuju tetapi tidak untuk si b*******k itu!”, tuntut Park Bom ditengah isak tangisnya.
“Sudahlah disaat seperti ini tidak usah memakai emosi Bom,”bujuk T.O.P yang mencoba menenangkan Park Bom yang sedang kalut. Bom hanya bisa menangis di pundak T.O.P karena tidak kuasa melihat sahabatnya terlibat kecelakaan seperti ini.

Entah sudah berapa jam kami menunggu didepan ruang operasi, mungkin sudah hampir sepuluh jam kami menunggu. Seung Ri, Daesung, Bom, Minzy, dan Sandara sudah terlelap di bangku rumah sakit sementara aku dan T.O.P masih terjaga menunggu selesainya operasi.
“Sebaiknya aku belikan kopi untuk mu.”, ucap T.O.P sambil beranjak menuju lobby rumah sakit.
“Gomawo hyung.”
Tetapi saat T.O.P hendak meninggalkan ruang operasi tiba-tiba pintu ruang operasi terbuka dan lampu operasi sudah kembali berwarna hijau sontak aku menahan bahu T.O.P untuk beranjak dari tempat ini.

Dokter dan beberapa suster keluar dari dalam ruang operasi aku pun segera menghampiri dokter tersebut sementara aku dan T.O.P membangunkan yang lainnya.
“Bagaimana dokter? Apa yang terjadi pada CL dan Taeyang?”, tanya ku panik.
“Apakah anda anggota keluarga dari kedua korban?”, tanya dokter itu pada ku.
“Aku sahabatnya, bagaimana ke adaannya?”, tuntut ku lagi.
“Tuan Taeyang mengalami kelumpuhan pada kedua kakinya sementara nona Chaerin mengalami koma akibat benturan keras di kepala saat terjadinya kecelakaan.”, jelas dokter itu pada ku.
“Koma?”, tanya ku dengan rasa tidak percaya.
“Iya, tuan Taeyang segera kami pindahkan ke ruang perawatan sementara nona Chaerin tetap berada di ruang I.C.C.U.”, jelas dokter itu lalu pergi meninggalkan kami yang terdiam karena shock mendengar kabar tersebut.

Sandara, Minzy, dan Park Bom hanya bisa menangis menerima kenyataan yang ada sementara T.O.P, Seung Ri, dan Daesung mencoba menenangkan mereka.
dengan tubuh yang gontai aku mencoba untuk masuk ke dalam ruangan operasi. Suster menahan ku sejenak di depan pintu masuk.
“Maaf tuan, hanya boleh satu orang yang masuk ke dalam dan tolong mengenakan baju yang telah di sediakan dan mematuhi peraturan yang ada.”, jelas suster itu kepada ku. Aku hanya bisa mengangguk mengiyakan dan segera masuk ke dalam.
Aku kenakan pakaian yang di sediakan pihak rumah sakit lengkap dengan memakai maskernya. Aku pun di arahkan oleh suster yang berjaga di ruangan untuk menuju tempat dimana CL berada. Saat aku sampai di ruangan CL suster meninggalkan kami. Aku langsung menuju sisi kasur tempat CL berbaring. Aku genggam tangannya, nafasnya masih tidak teratur di layar monitor. Aku hanya bisa menangis menatapnya seperti ini. Kepala CL penuh dengan perban dan sedikit darah segar terlihat dari sela-sela perba yang membalut kepalanya. Aku hanya tertunduk sambil menangis dan menggenggam tangannya.

Andai saja tadi aku menghalanginya untuk pulang bersama Taeyang. Andai saja tadi aku langsung menelepon CL saat mendapat firasat itu. Andai saja semua ini aku yang alami, aku tidak mungkin melihat CL terbujur lemah di dalam ruangan ini. Andai saja semua ini aku yang alami, aku tidak mau melihat CL seperti ini, biarkan aku saja yang menggantikannya. Biar aku saja yang menderita seperti ini. Biar aku saja yang terbujur lemas dan koma di ranjang ini. Kenapa harus wanita yang aku cintai yang harus melewati ini semua?
Aku hanya bisa menangis dan terus menangis dan menyesali kejadian ini sambil terus berada di sisi CL dan terus menggenggam tangannya yang lemah tak berdaya.

Setelah empat hari berselang, orang tua CL yang tinggal di Busan pun datang. Mereka tidak kuasa mendengar penjelasan dari dokter tentang kondisi CL yang sejak hari pertama sampai hari ke empat tidak kunjung menunjukkan perubahan. Aku hanya bisa menenangkan mereka dan berjanji  akan selalu menjaga CL di rumah sakit.

Sudah hampir seminggu aku berjaga untuk CL di rumah sakit. Aku memberikan surat pengajuan cuti ku dan CL kepada pihak kampus melalui T.O.P. setiap hari yang ku lakukan adalah menjaga CL di pagi sampai sore hari sedangkan malam hari aku melanjutkan beberapa pekerjaan paruh waktu ku. Begitu pola hidup ku sekarang setiap hari. Walau pun orang tua CL datang ke Seoul untuk membantu ku berjaga di rumah sakit tetapi aku tidak tega melihat tubuh mereka yang sudah tua termakan usia, terkadang aku menyuruh mereka pulang lebih dahulu agar mereka memiliki waktu istirahat yang cukup.

# dua bulan kemudian #

Siang itu aku sedang berjaga di ruang I.C.CU tempat dimana CL masih terbujur lemas di ranjang rumah sakit. Saat itu aku sedang membaca catatan kuliah yang diberikan T.O.P pada ku, walau aku sudah menyatakan izin dari perkuliahan tetap saja T.O.P tidak mau melihat ku tertinggal banyak pelajaran. Aku tengah serius membaca dan membaca semua catatanya sampai ada seseorang yang membuka pintu kamar CL. Orang itu masuk dengan mendorong orang lain di kursi roda, sontak aku menoleh ke asal suara pintu yang terbuka. Aku melihat seorang pria tua yang waktu itu yang mengalah dengan ku saat di meja resepsionis saat hari kecelakaan CL terjadi. Sementara pria di kursi roda itu adalah Taeyang, dengan perasaan kaget aku langsung berdiri dan menatap mereka dengan tatapan yang menurut ku aku juga tidak tahu apa yang aku rasakan saat ini.
“Taeyang?”, tanya ku tidak percaya ke pada pria di kursi roda itu.
“GD…”, Taeyang menghentikan kata-katanya lalu memegang tangan pria tua itu.
“Aku bisa sendiri appa.”, jelasnya pada pria tua itu. Ternyata pria tua berjas hitam itu adalah ayahnya Taeyang.
Taeyang menghampiri ku dengan menjalankan kursi rodanya sendiri.
“Maafkan aku GD, saat itu aku sedang kalut, aku tidak bermaksud mencelakakan CL?”, jelasnya pada ku dengan tangis yang mulai membasahi wajah tampannya.
“Bukan kepada ku kau harus meminta maaf tetapi kepada orang tua CL dan juga CL.”, jawab ku dingin.
Taeyang hanya bisa tertunduk malu sambil berderai air mata. Aku pun tidak kuasa melihatnya selemah ini, aku pun menghampiri Taeyang dan memeluknya sebagai sahabat.
“Sudahlah ini semua sudah terjadi, sekarang kita hanya bisa berdoa saja untuk kebaikan kita semua.”, jelas ku, mata ku pun memerah karena menahan air mata yang akan keluar. Taeyang hanya bisa mengangguk pasrah dan mencoba menerima kejadian yang telah ada.
Akhirnya mulai hari itu Taeyang sering bergantian menjaga CL dengan ku. Aku tahu Taeyang masih mencintai CL tetapi selama ini dia dibutakan oleh harta dan kesenangan sesaat. Dan mulai saat itu aku dan Taeyang berjanji akan menjadi sahabat yang baik dan selalu menjaga wanita yang kami cintai dengan setulus hati.

# enam bulan kemudian #

Sudah enam bulan CL tidak sadarkan diri, aku masih tetap menunggunya dan menjaganya di ruang I.C.C.U. Malam ini adalah jadwal kerja paruh waktu di café bersama Seung Ri, aku pun bersiap karena sebentar lagi aku di jemput oleh Seung Ri. Saat aku hendak keluar kamar tiba-tiba layar monitor menunjukkan bunyi dan gerakan yang aneh, sontak aku segera merapat ke samping ranjang CL dan menggenggam tangannya. Jari-jari CL sedikit demi sedikit mulai bergerak, kelopak matanya juga sedikit demi sedikit bergoyang. Aku segera memencet tombol darurat yang ada disamping tempat tidur CL dan tidak lama kemudian suster dan dokter pun masuk ke dalam ruangan.
“Apa yang terjadi dengan CL dokter?”, tanya ku panik saat dokter memeriksa CL.
“Ini suatu ke ajaiban Tuhan.”, kata dokter dan aku pun hanya bisa terdiam melihat kesibukan dokter yang tengah memeriksa CL. Tidak lama kemudian mata CL terbuka dia memandang sekelilingnya dengan tatapan yang lemah.
Aku hanya bisa menangis karena kaget menerima kenyataan bahwa CL sudah sadarkan diri, “CL…”, kata ku lirih.
“Suster tolong segera hubungi orang tua nona ini, ada yang perlu aku bicarakan dengan mereka.”, kata dokter itu seraya meninggalkan ruangan.
“Baik dokter.”, jawab suster itu singkat lalu mereka semua meninggalakan ruangan ini.

Aku pun menghampiri CL yang masih lemah di ranjangnya. Ku tatap wajahnya yang sedang tersenyum lemah kearah ku. Ku usap air mata ku yang sudah terlanjur jatuh membasahi wajah ku. “CL…”, panggil ku lirih.
“GD…”, jawabnya lemah.
“Sssst~ sudah kau istirahat saja dulu, kau baru sadar dari koma mu jadi kau harus banyak istirahat.”, pinta ku.
CL hanya bisa tersenyum manis kearah ku. Aku pun membalas senyuman manisnya aku segera mengirim pesan singkat kepada Seung Ri…

“Seung Ri-ah, hari ini tolong liburkan aku dari tempat kerja karena CL baru saja sadar dari komanya.
Tolong kau beritahu T.O.P hyung, dan yang lainnya aku akan berjaga di rumah sakit.”

Tulis ku pada Seung Ri dan tidak lama berselang Seung Ri membalas pesan ku…

“Baik hyung, akan aku sampaikan berita ini pada yang lainnya dan kami akan segera ke sana.”

Lalu aku pun segera meminta  izin ke luar ruangan pada CL untuk menelepon orang tuanya.
“Aku segera kembali, aku mau menelepon orang tua mu dulu.”, jelas ku pada CL
CL hanya bisa mengangguk menyetujui. Aku segera keluar ruang I.C.C.U lalu menelepon orang tua CL dan menjelaskan pada mereka bahwa CL telah sadar dari koma yang dideritanya.
Setelah selesai menelepon orang tua CL aku mengingat seseorang yang penting, aku pun segera menelepon Taeyang untuk mengabarkan kabar bahagia ini. Telepon ku diangkat pada saat deringan pertama.
“Yeoboseo?”
“Taeyang-sshi, CL sudah sadarkan diri, cepatlah kau datang ke rumah sakit.”, pinta ku pada Taeyang.
“Baiklah GD aku segera ke sana , tolong jaga dia sampai aku datang.”, pinta Taeyang lalu mematikan sambungan teleponnya dengan ku. Aku pun segera masuk ke dalam ruang I.C.C.U lagi dan duduk di samping CL.
“Tadi aku sudah menelepon teman-teman yang lain serta orang tua mu dan memberi tahu mereka bahwa kau sudah sadar dari koma mu dan  aku juga…”, ku hentikan pembicaraan ku lalu menatap wajah CL yang tampak bingung.
“Tadi aku juga memberi tahu Taeyang tentang ke adaan mu yang sudah sadar dari koma mu.”, jelas ku sambil menundukkan kepala karena merasa bersalah.
“Oppa?”, tanyanya kaget, “Bagaimana keadaan oppa GD?”, tanyanya mulai panik.
“Tenanglah CL jangan seperti ini, kau baru saja siuman.”, pinta ku.
“Baiklah, tetapi ceritakan tentang keadaan oppa?”, pintanya.
Aku pun menarik nafas panjang untuk menenangkan diri ku lalu aku pun bercerita pada CL yang sedang terbaring lemah.
“Setelah kejadian hari itu kau mengalami benturan yang sangat parah di kepala sementara Taeyang mengalami kelumpuhan karena kedua kakinya terjepit saat kecelakaan terjadi.”, jelas ku lirih.
CL hanya bisa menangis  dan memangil-manggil Taeyang dengan lirih, “Oppa… Oppa… Oppa…”
Aku hanya bisa terdiam dan tanpa ku sadarai aku ikut menangis bersama CL.

Setelah tiga puluh menit kemudian teman-teman kami dan juga orang tua CL datang ke rumah sakit aku pun bergantian dengan mereka keluar masuk I.C.CU untuk melihat ke adaan CL di dalam. Pertama ke dua orang tua CL masuk kedalam setelah mereka T.O.P dan Park Bom pun masuk ke dalam dan begitu seterusnya. Aku hanya menunggu di luar ruang I.C.CU dan hanya menunggu satu orang yang masih di nantikan CL setelah apa yang sudah terjadi selama ini pada CL.

Tepat setelah T.O.P dan Park Bom keluar ruangan di saat itu Taeyang datang dengan mengenakan kursi roda yang sekarang akan setia menemani langkah Taeyang serta ayah Taeyang yang setia menemani Taeyang.
Kami pun menatap ke datangan Taeyang bersama ayahnya dengan perasaan yang bercampur aduk. Mendadak Taeyang menghentikan langkahnya saat melihat Bom bangkit untuk menghampiri Taeyang.
“Kau! Mau apa kau datang ke sini! Mau buat CL mati! Ini semua gara-gara kelalaian mu!”, tuntut Bom dengan emosi yang berapai-api.
“Tenagkan diri mu Bom-ah.”, pinta T.O.P sambil memegangi bahu Bom yang kemudian di tepis oleh Bom.
“Park Bom, maafkan aku, aku tahu ini semua salah ku, tujuan ku datang kesini untuk menebus kesalahan ku pada CL.”, pinta Taeyang lirih.
“Percuma, ini semua sudah terlambat!” pangkas Bom.
“Sudahlah Bom-ah, aku yang memberi tahu ke adaan CL yang sudah sadar, dia juga punya hak karena dia masih tunangan CL.”,jelas ku pada Bom.
“Apa maksud mu GD? Kau membela si b*******k ini GD!,” tanyanya penuh amarah. Aku hanya bisa mengangguk mengiyakan.
“Sudahlah Bom, ini rumah sakit, jangan buat keributan disini.”, pinta T.O.P lagi.
Bom hanya bisa melipat kedua tangannya di dada dan segera duduk disamping Sandara dengan perasaan yang masih kesal.

Setelah kejadian itu tidak lama suster keluar dan memanggil nama ku, “Tuan G Dragon?”, tanyanya. Aku pun bangkit dan menghampiri suster itu.
“Iya saya G Dragon, ada apa suster?,” tanya ku heran.
“Nona Chaerin meminta kepada anda untuk membawa semua orang yang ada diruang tunggu untuk masuk kedalam, ada sesuatu yang ingin dia sampaikan, tetapi saya mohon jangan membuat keributan.”, jelas suster tersebut.
“Baiklah.”, jawab ku singkat lalu masuk bersamaan dengan yang lain. Saat Taeyang hendak masuk dia menoleh ke arah ayahnya,
“Kali ini biar GD saja yang membantu ku appa.”, pintanya pada ayahnya.
Aku hanya mengangguk dan segera mendorong kursi roda Taeyang ke dalam ruang I.C.C.U
Sesampainya kami di kamar CL kami pun segera berdiri di samping-samping ranjang CL. CL menatap tunangannya dengan lirih, “Oppa…”, panggilnya lemas. Segera Taeyang memegang tangan CL yang terkulai lemah.
“Aku disini.”, jawabnya.
“Oppa maafkan aku, maaf bila persahabatan ku dengan GD membuat mu cemburu, maaf bila aku tidak bisa mendampingi mu lagi..”, ucapnya pelan.
“Anniya, aku yang harusnya meminta maaf pada mu, aku yang sudah membuat hubungan kita seperti ini, aku mohon maafkan aku chagiya?”, pinta Taeyang sambil meneteskan air mata kesedihan.Mereka berdua pun menangis bersama-sama. Kami yang melihat hal ini juga ikut larut dalam kesedihan dan ikut menangis bersama-sama.
CL pun menoleh ke arah Bom,
“Bom-eonnie, Sandara-eonnie, Minzy-ah, terima kasih sudah menjadi sahabat ku selama ini, maafkan aku bila aku tidak mendengarkan saran-saran kalian, memiliki sahabat seperti kalian adalah hal yang terindah sepanjang hidup ku, sekali lagi terima kasih.”, ucap CL
“CL-ah…”, ucap Sandara sambil menangis tersedu-sedu.
“CL-ah, aku sangat mencintai mu dan juga persahabatan kita yang terjalin selama ini,”, ucap Bom menimpali.
“CL-eonnie, ku mohon jangan berkata seperti itu lagi, aku yakin kau akan kembali sehat dan bisa berkumpul bersama lagi.,”pinta Minzy sambil mengeleng-gelengkan kepala.
CL hanya tersenyum halus kearah mereka dan melanjutkan pembicaraannya lagi.
“T.O.P-hyung tolong jaga GD baik-baik dan terima kasih kalian sudah menjadi bagian dalam persahabatan kita selama ini.”
T.O.P, Seung Ri, dan Daesung hanya bisa menganggukkan kepala sambil menangis tersedu-sedu. Lalu tatapan CL kembali kepada Taeyang. Dia menatap tunangannya itu dengan senyuman manis yang berkembang di tengah-tengah tangis haru yang membasahi pipinya.
“Oppa, aku tidak menyesal telah mengenal mu dan menjadikan diri mu  bagian terpenting di dalam hidup ku selama ini, aku sudah memaafkan segala kesalahan mu pada ku karena aku percaya kau melakukan ini semua karena  kau cinta pada ku.”, ucap CL sambil mengerahkan tenaganya untuk mencium tangan Taeyang yang sedari tadi erat menggenggam tangannya.
“Ku mohon jangan berbicara seperti itu, aku janji setelah kau sembuh kita akan segera menikah dan hidup bahagia selamanya.”, ucap Taeyang.
CL hanya bisa tersenyum manis ke arah Taeyang.
Lalu CL menoleh ke arah orang tuanya yang berada disamping kanan ranjangnya.
“Eomma, Appa, terima kasih telah melahirkan dan menjaga ku selama ini, terima kasih untuk segalanya dan maafkan atas kesalahan ku selama ini kepada kalian.”, ucap CL lirih kepada ke dua orang tuanya. Mereka hanya bisa menangis melihat anaknya seperti ini. Lalu CL menggenggam tangan ku,
“GD-ah, terima kasih sudah mau menjadi sahabat ku selama ini, terima kasih atas bantuan mu dan kepercayaan mu selama ini kepada ku. Jujur aku juga mencintai mu tetapi rasa cinta ku pada mu tidak sebesar rasa cinta ku pada oppa, aku juga mencintai mu GD, maaf bila aku telat mengatakan ini pada mu.”, ucapnya.
Aku pun secara perlahan mencium bibir CL,entah apa yang sedang aku lakukan tetapi hal ini aku lakukan dengan spontan.
“Saranghae CL…”
CL pun tersenyum dan secara perlahan mata CL mulai tertutup dan suara di monitor pun menjadi datar dan kami pun hening di dalam tangis yang membanjiri ruangan ini.


# dua tahun setelah ke matian CL #

Hari ini tepat dua tahun CL meninggalkan bumi ini, aku pun sudah berjanji kepada yang lain untuk mengunjungi makamnya. Aku sudah menunggu yang lainnya didepan gerbang pemakaman cukup lama dan tidak lama kemudian yang lainnya pun datang.
“Dari mana saja kalian?”, tanya ku kesal.
“Maafkan kami, tadi aku dan T.O.P. sedang mencoba gaun pernikahan kami.”, ucap Bom senang sambil merangkul T.O.P  yang berdiri di sebelahnya.
“Kalian yang menikah kenapa yang lain juga ikut terlambat?”, gerutu ku kesal. Mereka hanya bisa tertawa berirama saat melihat kekesalan ku.
“Ayo cepat aku sudah ada janji ditempat lain.”, ucap ku ke pada yang lain
“Waaaah~ hyung kamu sudah punya pacar ya?”, tanya Seung Ri.
“Rahasia.”, jawab ku usil sambil mengedipkan mata pada  Seung Ri.
“Hyung~”, rengek Seung Ri.
Aku pun meninggalkan Seung Ri yang tengah merengek pada ku. Kami pun segera ke makam CL tanpa mempedulikan rengekan Seung Ri lalu kami pun berdoa untuk ke abadian CL di surga. Setelah selesai berdoa aku pun memisahkan diri dari mereka dan segera pergi ke laut. Tempat dimana sejarah persahabatan dan cinta aku pada CL terjalin.

Setelah melalui tiga puluh menit perjalanan aku pun sampai di pantai yang aku maksud, disana aku menelusuri pinggiran pantai sambil mengingat-ingan kenangan ku tentang CL. Setelah aku merasa lelah maka aku putuskan untuk beristirahat dan tidur sebentar di hamparan pasir pantai yang hangat. Udara hari ini sangat cerah namun tidak panas makanya aku berani memutuskan untuk beristirahat sejenak.

Entah sudah berapa lama aku tertidur di pasir pantai sampai aku menyadari matahari sudah mau berlabuh di ujung samudra sana. Aku pun bangkit dan membersihkan sisa-sisa pasir yang tertinggal di baju dan celana khaki yang ku kenakan saat aku tertidur tadi. Aku pun beranjak pulang tetapi sesaat langkah ku terhenti melihat siluet gadis di tepi pantai. Rasanya aku pernah melihat gadis itu, aku pun membersihkan mata ku lalu menatap siluet itu lagi. Dan ternyata siluet itu tampak seperti CL yang sedang tersenyum sambil menunggu ku. Karena tidak kuasa aku pun meneteskan air mata bahagia ini sambil tersenyum ke arah siluet itu, CL Saranghae…


# The End…