Nama : Hilla Aprilla Mardika
Kelas : 2PA11
Npm : 13512478
1. HUBUNGAN INTRAPERSONAL
Hubungan
Interpersonal adalah
adanya komunikasi secara langsung atau face to face communication pada waktu
dan tempat yang sama . Interpersonal Skill bukan merupakan bagian dari karakter
kepribadian yang bersifat bawaan, melainkan merupakan ketrampilan yang bisa
dipelajari. Interpersonal Skill yang baik dapat dibangun antara lain dari
kemampuan mengembangkan perilaku dan komunikasi yang asertif . komunikasi yang
dilakukan dengan orang lain sehingga tindak balas dan evaluasinya memerlukan
orang lain. Tidak bisa dipungkiri bahwa internet sangat dibutuhkan semua orang
di jaman yang sudah modern ini, seperti menonton video melalui youtube,
melakukan komunikasi dengan teman atau pacar melalui jejaring sosial yang ada
di internet dengan menggundakan facebook dan twitter. Internet juga memiliki
sisi positif dan sisi negatifnya. Sisi positifnya itu seperti mencari informasi
dengan menggunakan internet dan juga dapat mendapat pelajaran dari internet.
a)
Model – Model Hubungan Interpersonal
Dalam suatu interaksi, dapat dimungkinkan munculnya hubungan
interpersonal dimana hubungan antara pihak-pihak yang berinteraksi telah
menjadi lebih jauh. Dalam hubungan interpersonal terdapat beberapa unsur yang
dapat digunakan dalam mengklasifikasi hubungan interpersonal tersebut. Unsur
tersebut meliputi jumlah individu yang terlibat, tujuan yang ingin dicapai,
jangka waktu hubungan, serta tingkat kedalaman atau keintiman hubungan. Hubungan
interpersonal sendiri dibagi kedalam empat model. Model sendiri menurut B.
Aubrey Fisher merupakan analogi yang mengabstraksikan dan memilih bagian dari
keseluruhan unsur, sifat, atau komponen yang penting dari sebuah fenomena.
Dengan kata lain model adalah gambaran informal untuk menjelaskan atau
menerapkan teori.
o
Model
pertama adalah Model Pertukaran sosial( social exchange model)
dimana didefinisikan secara singkat bahwa hubungan interpersonal
diidentifikasikan dengan transaksi dagang. Untuk memperoleh sesuatu ada harga
yang arus dibayar (cost-reward).
o
Model
hubungan interpersonal yang kedua adalah Model Peranan (role model). Dalam model ini, hubungan interpersonal digambarkan
sebagai panggung sandiwara. Individu akan dipandan baik bila dapat memainkan
perana sesuai ekspektasi lawan hubungan. Bila individu tersebut bertindak jauh
dari ekspektasi, maka hubungan interpersonal cenderung akan menjadi lebih
renggang.
o
Model
yang ketiga adalah Model Permainan ( games people
play model). Untuk menjelaskan
model ini digunakan analisis transaksional dimana manusia diklasifikasikan
dalam tiga karakter, yaitu kepribadian anak-anak, dewasa, dan orang tua.
o
Model
hubungan transaksional keempat adalah Model Interaksional. Model interaksional inilah yang
akan saya jelaskan secara lebih mendalam
b)
Memulai
Hubungan
Menurut kamus besar bahasa
Indonesia kata “mulai” mempunyai arti mengawali berbuat, bertindak, atau
melakukan. Dan kata mulai tersebut bisa ditambah kan dengan imbuhan-imbuhan
seperti me-mulai salah-satunya. dengan menyisipkan imbuhan “me-“ otomatis kata
mulai berubah bentuk jadi ‘memulai’ dan berubah arti menjadi, ‘sesuatu kegiatan
yang diawali dari pribadi kepada epribadi’.Dengan demikian epribadi dapat
disimpulkan bahwa kata ‘memulai’ memiliki arti yang luas dan estetik mendalam,
merupakan level kesulitan kata tertinggi dalam kasta pengaplikasian kata.
c)
Hubungan
Peran
Peranan merupakan aspek
dinamis dari kedudukan, yaitu seseorang yang melaksanakan hak-hak dan
kewajibannya. Artinya, apabila seseorang melaksanakan hak dan kewajibannya
sesuai dengan kedudukannya, maka dia telah menjalankansuatu peranan. Suatu
peranan paling tidak mencakup tiga hal berikut :
o
Peranan meliputi norma-norma yang dihubungkan
dengan posisi atau tempat seseorang dalam masyarakat.
o
Peranan merupakan suatu konsep perihal apa yan
dilakukan oleh individu dalam masyarakat sebagai organisasi.
o
Peranan juga dapat dikatakan sebagai perilaku
individu yang penting bagi struktur social.
Peranan yang melekat pada
diri seseorang harus dibedakan dengan posisi dalam pergaulan masyarakat. Posisi
seseorang dalam masyarakat(social-posistion) merupakan unsure statis yang
menunjukan tempat individu dalam masyarakat. Peranan lebih banyak menunjuk pada
fungsi, penyesuaian diri, dan sebagai suatu proses. Jadi, seseorang menduduki
suatu posisi dalam masyarakat serta menjalankan suatu peranan. Dalam peranan
yang berhubungan dengan pekerjaannya, seseoang diharapkan menjalankan
kewajiban-kewajiban yang berhubunga dena peranan yang dipegangnya.
Gross, Masson, dan McEachren
mendefisikan peranan sebagai seperangkat harapan-harapan yang dikenakan pada
individu yang menempati kedudukan social tertentu. Harapan-harapan tersebut
merupakan imbangan dari norma-norma social dan oleh karena itu ditentukan oleh
norma-norma di dalam masyarakat. Selanjutnya
Berry mengungkapkan bahwa di dalam peranan terdapat 2 macam harapan,yaitu:
o
harapan-harapan dari masyarakat terhadap
pemegang peran atau kewajiban dari pemegang peran,dan
o
harapan-harapan yang dimiliki oleh sipemegang
peran terhadap masyarakat atau terhadap orang-orang yang berhubungan dengannya
dalam menjalankan perannnya atau kewajiban-kewajibannya.
Sedangkan Hendropuspito
mengungkapkan bahwa istilah peranan (dalam sandiwara) oleh para ahli sosiologi
dialihkan ke panggung sandiwara, diberi isi dan fungsi baru yang disebut
peranan social. Istilah peranan menunjukan bahwa masyarakatmempunyai lakon,
bahkan masyarakat lakon itu sendiri. Masyarakat adalah suatu lakon yang masih
actual, lakon yang besar, yang terdiri dari bagian-bagian dan pementasannya
diserahkan kepada anggota-anggota masyarakat. Lakon masyarakat itu disebut
fungsi atau tugas masyarakat. Jadi peran social adalah bagian dari fungsi
social masyarakat.
Kata social dalam peranan
social mengandung maksud bahwa peranan tersebut terdiri atas sejumlah pola
kelakuan lahiriah maupun batiniah yang diterima dan diikuti banyak orang.
Bertolak dari sudut pandang
diatas, peranan social dapat didefinisikan sebagai bagian dari fungsi social
masyarakat yang dilaknsanakan oleh orang atau kelompok tertentu, menurut pola
kelakuan lahiriah dan batiniah yang telah ditentukan.
d)
Intimasi
dan Hubungan Pribadi
Intimasi adalah keakraban. Hubungan pribadi selalu ditentukan oleh banyak faktor,
termasuk situasi, pengaruh, dan perilaku. Bila mampu menjadi lebih sadar untuk
memahami pengaruh, situasi, perilaku, dan dampaknya terhadap hubungan Anda
dengan orang lain; maka, hubungan Anda dengan siapa pun pasti selalu dalam
keharmonisan.
e) Intimasi dan
Pertumbuhan
Intimasi adalah keakraban. Pertumbuhan ( Growth ) adalah perubahan kuantitatif ( berupa pembesaran atau
pertambahan dari tidak ada menjadi ada, dari kecil menjadi besar, dst ) pada
materiil sesuatu akibat dari adanya pengaruh dari lingkungan. Contoh :
munculnya gigi baru, semakin bertambahnya jumlah gigi, semakin bertambahnya
tinggi badan, dst.
2.
CINTA DAN
PERKAWINAN
Cinta adalah sebuah perasaan yang
diberikan oleh Tuhan pada sepasang manusia untuk saling saling mencintai,
saling memiliki, saling memenuhi, saling pengertian. Cinta itu sendiri sama
sekali tidak dapat dipaksakan, cinta hanya dapat berjalan apabila kedua belah
pihak ikhlas, cinta tidak dapat berjalan apabila mereka mementingkan diri
sendiri. Karena dalam berhubungan, pasangan kita pasti menginginkan suatu
perhatian lebih dan itu hanya bisa di dapat dari pengertian pasangannya.
Perkawinan adalah ikatan sosial atau ikatan perjanjian
hukum
antar pribadi yang membentuk hubungan kekerabatan dan yang merupakan
suatu pranata
dalam budaya
setempat yang meresmikan hubungan antar pribadi - yang biasanya intim dan
seksual.Perkawinan umumnya dimulai dan diresmikan dengan upacara pernikahan.
Umumnya perkawinan dijalani dengan maksud untuk membentuk keluarga.
Tergantung budaya
setempat bentuk perkawinan bisa berbeda-beda dan tujuannya bisa berbeda-beda
juga. Tapi umumnya perkawinan itu ekslusif dan mengenal konsep perselingkuhan
sebagai pelanggaran terhadap perkawinan. Perkawinan umumnya dijalani dengan
maksud untuk membentuk keluarga. Umumnya perkawinan harus diresmikan dengan pernikahan.
a)
Memilih Pasangan
Setiap orang bila sudah dewasa akan memiliki hasrat untuk
mempunyai pasangan hidup, orang yang akan mendapinginya dalam hidup suka
dan duka. Pasangan
hidup menjadi sangat penting sekali karena idealnya pasangan kita akan
selalu bersama dari bangun tidur pagi hari sampai menjelang tidur di malam
hari.
Pasangan hidup yang tidak harmonis, atau pasangan yang
mempunyai karakter dan pola hidup yang bertentangan mempunyai potensi
masalah yang lebih besar, karakter dan pola hidup masing-masing
pasangan tidak harus sama tetapi paling tidak bisa saling mengisi atau
tidak menggaggu pasangannya. Sebaiknya kita menggunakan konsep Cara Memilih
pasangan hidup yang baik, adalah memilih individu yang bisa menerima
keadaan kita apa adanya, bukan bisa menerima hanya sebagian keadaan kita,
atau hanya memilih karena kelebihan kita saja.
Pasangan hidup yang harmonis adalah pasangan yang bisa
saling mencocokkan semua keadaan masing-masing, baik sikap, tingkah
laku, dan konsep pribadinya baik. Bisa saja terjadi pasangan hidup salah
satu atau dua-duanya mempunyai karakter dan tingkah laku yang menyimpang
dan bertentangan, seperti selingkuh atau yang lainnya, namun keduanya masih
bisa tetap bersama dalam satu atap rumah tangga, hal ini bisa terjadi
karena keduanya mempunya kekuatan lebih dari orang normal biasanya yang
kuat untuk bisa mencocokkan dirinya dengan pasangannya.dan tentunya secara
normal kita tidak menginginkan hal seperti itu.
b)
Hubungan Dalam Perkawinan
Pendapat Dawn J.
Lipthrott, LCSW, seorang psikoterapis dan juga marriage and
relationship educator and coach, dia mengatakan bahwa ada lima tahap
perkembangan dalam kehidupan perkawinan. Hubungan dalam pernikahan bisa
berkembang dalam tahapan yang bisa diduga sebelumnya. Namun perubahan dari satu
tahap ke tahap berikut memang tidak terjadi secara mencolok dan tak memiliki
patokan batas waktu yang pasti. Bisa jadi antara pasangan suami-istri,
yang satu dengan yang lain, memiliki waktu berbeda saat menghadapi dan melalui
tahapannya. Namun anda dan pasangan dapat saling merasakannya.
o
Tahap
pertama : Romantic Love.
Saat ini adalah saat Anda dan pasangan merasakan gelora cinta yang
menggebu-gebu. Ini terjadi di saat bulan madu pernikahan. Anda dan pasangan
pada tahap ini selalu melakukan kegiatan bersama-sama dalam situasi romantis
dan penuh cinta.
o
Tahap
kedua : Dissapointment or
Distress. Masih menurut Dawn, di tahap ini pasangan suami istri kerap
saling menyalahkan, memiliki rasa marah dan kecewa pada pasangan, berusaha
menang atau lebih benar dari pasangannya. Terkadang salah satu dari pasangan
yang mengalami hal ini berusaha untuk mengalihkan perasaan stres yang memuncak
dengan menjalin hubungan dengan orang lain, mencurahkan perhatian ke pekerjaan,
anak atau hal lain sepanjang sesuai dengan minat dan kebutuhan masing-masing.
Menurut Dawn tahapan ini bisa membawa pasangan suami-istri ke situasi yang tak
tertahankan lagi terhadap hubungan dengan pasangannya. Banyak pasangan di
tahap ini memilih berpisah dengan pasangannya
o
Tahap
ketiga : Knowledge and
Awareness. Dawn mengungkapkan bahwa pasangan suami istri yang sampai pada
tahap ini akan lebih memahami bagaimana posisi dan diri pasangannya. Pasangan
ini juga sibuk menggali informasi tentang bagaimana kebahagiaan
pernikahan itu terjadi. Menurut Dawn juga, pasangan yang sampai di tahap ini
biasanya senang untuk meminta kiat-kiat kebahagiaan rumah tangga kepada
pasangan lain yang lebih tua atau mengikuti seminar-seminar dan konsultasi
perkawinan.
o
Tahap
keempat: Transformation.
Suami istri di tahap ini akan mencoba tingkah laku yang berkenan di hati
pasangannya. Anda akan membuktikan untuk menjadi pasangan yang tepat bagi
pasangan Anda. Dalam tahap ini sudah berkembang sebuah pemahaman yang
menyeluruh antara Anda dan pasangan dalam mensikapi perbedaan yang terjadi.
Saat itu, Anda dan pasangan akan saling menunjukkan penghargaan, empati dan
ketulusan untuk mengembangkan kehidupan perkawinan yang nyaman dan tentram.
o
Tahap
kelima: Real Love. “Anda
berdua akan kembali dipenuhi dengan keceriaan, kemesraan, keintiman,
kebahagiaan, dan kebersamaan dengan pasangan,” ujar Dawn. Psikoterapis
ini menjelaskan pula bahwa waktu yang dimiliki oleh pasangan suami istri seolah
digunakan untuk saling memberikan perhatian satu sama lain. Suami dan istri
semakin menghayati cinta kasih pasangannya sebagai realitas yang menetap. “Real
love sangatlah mungkin untuk Anda dan pasangan jika Anda berdua memiliki
keinginan untuk mewujudkannya. Real love tidak bisa terjadi dengan sendirinya
tanpa adanya usaha Anda berdua,” ingat Dawn.
Lebih
lanjut Dawn menyarankan pula, “Jangan hancurkan hubungan pernikahan Anda dan
pasangan hanya karena merasa tak sesuai atau sulit memahami pasangan. Anda
hanya perlu sabar menjalani dan mengulang tahap perkembangan dalam pernikahan
ini. Jadikanlah kelanggengan pernikahan Anda berdua sebagai suatu hadiah
berharga bagi diri sendiri, pasangan, dan juga anak.
c)
Penyesuaian
dan Pertumbuhan Dalam Perkawinan
Penyesuaian dalam pernikahan pada
dasarnya adalah hal yang berjalan sepanjang waktu, sepanjang pernikahan itu
bahkan hingga salah satu dari pasangan meninggal dunia penyesuain tetap menjadi
kebutuhan dan keharusan. Di awal perkenalan sebelum menikah, keduanya masih
saling berkenalan luarnya saja, hanya mengenal kepribadian calon pasangannya
secara umum saja. Tentu itu tidak cukup. Oleh karenanya, di awal pernikahan pun
pasangan masih perlu penyesuaian dan pengenalan yang lebih mendalam lagi antara
satu sama lain, begitu seterusnya, penyesuaian pun perlu terus dilakukan
dalam pernikahan ketika istri hamil, anak pertama lahir, dst.
Penyesuaian dengan pasangan juga butuh
kesabaran dan kemauan untuk saling menerima kelebihan dan kekurangan
masing-masing. Tidak semua kebiasaan dan sifat-sifat pasangan akan sejalan dan
sesuai dengan diri. Oleh karenanya perlu memahami tentang kebiasaan pasangan,
sifat dan karakternya, hal-hal yang ia sukai dan ia tidak sukai, dsb. Perbedaan
diantara pasangan suami istri adalah suatu hal yang wajar, dan karena perbedaan
itulah Allah mempertemukan dan menyatukannya agar satu sama lain bisa saling
melengkapi. Ya, agar bisa saling melengkapi bukan untuk saling menyalahkan.
Suami dengan kelebihannya mampu membimbing dan menutupi kekurangan istri,
begitu sebaliknya istri mampu pula dengan kelebihannya menutupi kekurangan yang
ada pada diri suami. Dengan adanya saling pengertian satu sama lainnya
ini, maka keharmonisan dalam rumah tangga akan selalu menghiasi.
Perbedaan bukanlah sesuatu yang harus
disamakan ataupun dimusnahkan. Perbedaan adalah warna yang bisa menghiasi dan
menceriakan segalanya. Bila kita mampu menikmati, menerima dan mensyukuri
setiap perbedaan yang ada, maka semua akan terasa lebih indah, bahkan terkadang
bisa menjadi buah canda diantara pasangan. Sebaliknya bila perbedaan selalu
dijadikan ancaman maka tak dapat dipungkiri pertengkaran dan ketidakcocokan
akan selalu hadir.
Kebahagiaan dalam pernikahan kuncinya
terletak di hati, dan berada pada diri masing-masing pasangan. Bila hati
keduanya selalu menyatu untuk membahagiakan rumah tangganya, maka keduanya juga
akan saling merasakannya. Karena hati itu bergetar. Maka ketika dua hati
menyatu dan seirama, ia akan saling beresonansi, dan saling
menggetarkan satu sama lainnya. Bila getaran yang disampaikan adalah getaran
hati yang bahagia maka juga akan dirasakan oleh yang lainnya, namun bila
getaran yang disampaikan sedih, kecewa dan buruk sangka maka getaran yang
disampaikan juga akan terasa negatif. Sehingga tak heran, bila kita terkadang
mampu merasakan apa yang dirasakan oleh pasangan kita bila kita benar-benar
menghidupkan hati.
Perkawinan
tidak berarti mengikat pasangan sepenuhnya. Dua individu ini harus dapat
mengembangkan diri untuk kemajuan bersama. Keberhasilan dalam perkawinan tidak
diukur dari ketergantungan pasangan. Perkawinan merupakan salah satu tahapan
dalam hidup yang pasti diwarnai oleh perubahan. Dan perubahan yang terjadi
dalam sebuah perkawinan, sering tak sederhana. Perubahan yang terjadi dalam perkawinan
banyak terkait dengan terbentuknya relasi baru sebagai satu kesatuan serta
terbentuknya hubungan antarkeluarga kedua pihak.
Relasi
yang diharapkan dalam sebuah perkawinan tentu saja relasi yang erat dan hangat.
Tapi karena adanya perbedaan kebiasaan atau persepsi antara suami-istri, selalu
ada hal-hal yang dapat menimbulkan konflik. Dalam kondisi perkawinan seperti
ini, tentu sulit mendapatkan sebuah keluarga yang harmonis.
Pada
dasarnya, diperlukan penyesuaian diri dalam sebuah perkawinan, yang mencakup
perubahan diri sendiri dan perubahan lingkungan. Bila hanya mengharap pihak
pasangan yang berubah, berarti kita belum melakukan penyesuaian. Banyak yang
bilang pertengkaran adalah bumbu dalam sebuah hubungan. Bahkan bisa menguatkan
ikatan cinta. Hanya, tak semua pasangan mampu mengelola dengan baik sehingga
kemarahan akan terakumulasi dan berpotensi merusak hubungan.
d)
Perceraian
dan Pemikiran Kembali
Perceraian
adalah berakhirnya suatu pernikahan. Saat kedua pasangan tak ingin melanjutkan kehidupan
pernikahannya, mereka bisa meminta pemerintah
untuk dipisahkan. Selama perceraian, pasangan tersebut harus memutuskan
bagaimana membagi harta
mereka yang diperoleh selama pernikahan seperti rumah, mobil, perabotan atau kontrak),
dan bagaimana mereka menerima biaya dan kewajiban merawat anak-anak
mereka. Banyak negara
yang memiliki hukum
dan aturan
tentang perceraian, dan pasangan itu dapat menyelesaikannya ke pengadilan.
Pernikahan
bukanlah akhir kisah indah bak dongeng cinderella, namun dalam perjalanannya,
pernikahan justru banyak menemui masalah. Menikah Kembali setelah perceraian
mungkin menjadi keputusan yang membingungkan untuk diambil. Karena orang akan
mencoba untuk menghindari semua kesalahan yang terjadi dalam perkawinan
sebelumnya dan mereka tidak yakin mereka bisa memperbaiki masalah yang dialami.
Mereka biasanya kurang percaya dalam diri mereka untuk memimpin pernikahan yang
berhasil karena kegagalan lama menghantui mereka dan membuat mereka ragu-ragu
untuk mengambil keputusan.
Apa
yang akan mempengaruhi peluang untuk menikah setelah bercerai? Ada banyak
faktor. Misalnya seorang wanita muda pun bisa memiliki kesempatan kurang dari
menikah lagi jika dia memiliki beberapa anak. Ada banyak faktor seperti faktor
pendidikan, pendapatan dan sosial.
Sebagai
manusia, kita memang mempunyai daya tarik atau daya ketertarikan yang tinggi
terhadap hal-hal yang baru. Jadi, semua hal yang telah kita miliki dan nikmati
untuk suatu periode tertentu akan kehilangan daya tariknya. Misalnya, Anda
mencintai pria yang sekarang menjadi pasangan karena kegantengan, kelembutan
dan tanggung jawabnya. Lama-kelamaan, semua itu berubah menjadi sesuatu yang
biasa. Itu adalah kodrat manusia. Sesuatu yang baru cenderung mempunyai daya
tarik yang lebih kuat dan kalau sudah terbiasa daya tarik itu akan mulai
menghilang pula. Ada kalanya, hal-hal yang sama, yang terus-menerus kita
lakukan akan membuat jenuh dalam pernikahan.
Esensi
dalam pernikahan adalah menyatukan dua manusia yang berbeda latar belakang.
Untuk itu kesamaan pandangan dalam kehidupan lebih penting untuk diusahakan
bersama. Jika ingin sukses dalam pernikahan baru, perlu menyadari tentang
beberapa hal tertentu, jangan biarkan kegagalan masa lalu mengecilkan hati.
Menikah Kembali setelah perceraian bisa menjadi pengalaman menarik. tinggalkan
masa lalu dan berharap untuk masa depan yang lebih baik.
e)
Alternatif
Selain Pernikahan
Ada banyak alasan untuk tetap melajang. Perkembangan jaman,
perubahan gaya hidup, kesibukan pekerjaan yang menyita waktu, belum bertemu
dengan pujaan hati yang cocok, biaya hidup yang tinggi, perceraian yang kian
marak, dan berbagai alasan lainnya membuat seorang memilih untuk tetap hidup
melajang. Batasan usia untuk menikah kini semakin bergeser, apalagi tingkat
pendidikan dan kesibukan meniti karir juga ikut berperan dalam memperpanjang
batasan usia seorang untuk menikah. Keputusan untuk melajang bukan lagi
terpaksa, tetapi merupakan sebuah pilihan. Itulah sebabnya, banyak pria dan
perempuan yang memilih untuk tetap hidup melajang.
Persepsi masyarakat terhadap orang yang melajang, seiring
dengan perkembangan jaman, juga berubah. Seringkali kita melihat seorang yang
masih hidup melajang, mempunyai wajah dan penampilan di atas rata-rata dan
supel. Baik pelajang pria maupun wanita, mereka pun pandai bergaul, memiliki
posisi pekerjaan yang cukup menjanjikan, tingkat pendidikan yang baik.
Alasan
yang paling sering dikemukakan oleh seorang single adalah tidak ingin
kebebasannya dikekang. Apalagi jika mereka telah sekian lama menikmati
kebebasan bagaikan burung yang terbang bebas di angkasa. Jika hendak pergi,
tidak perlu meminta ijin dan menganggap pernikahan akan membelenggu kebebasan.
Belum lagi jika mendapatkan pasangan yang sangat posesif dan cemburu.
Banyak
perusahaan lebih memilih karyawan yang masih berstatus lajang untuk mengisi
posisi tertentu. Pertimbangannya, para pelajang lebih dapat berkonsentrasi
terhadap pekerjaan. Hal ini juga menjadi alasan seorang tetap hidup melajang.
Banyak
pria menempatkan pernikahan pada prioritas kesekian, sedangkan karir lebih
mendapat prioritas utama. Dengan hidup melayang, mereka bisa lebih konsentrasi
dan fokus pada pekerjaan, sehingga promosi dan kenaikan jabatan lebih mudah
diperoleh. Biasanya, pelajang lebih bersedia untuk bekerja lembur dan tugas ke
luar kota dalam jangka waktu yang lama, dibandingkan karyawan yang telah
menikah.
Kemapanan
dan kondisi ekonomi pun menjadi alasan tetap melajang. Pria sering kali merasa
kurang percaya diri jika belum memiliki kendaraan atau rumah pribadi.
Sementara, perempuan lajang merasa senang jika sebelum menikah bisa hidup
mandiri dan memiliki karir bagus. Mereka bangga memiliki sesuatu yang
dihasilkan dari hasil keringat sendiri. Selain itu, ada kepuasaan tersendiri.
Banyak
yang mengatakan seorang masih melajang karena terlalu banyak memilih atau ingin
mendapat pasangan yang sempurna sehingga sulit mendapatkan jodoh. Pernikahan
adalah untuk seumur hidup. Rasanya tidak mungkin menghabiskan masa hidup kita
dengan seorang yang tidak kita cintai. Lebih baik terlambat menikah daripada
menikah akhirnya berakhir dengan perceraian.
Lajang
pun lebih mempunyai waktu untuk dirinya sendiri, berpenampilan lebih baik, dan
dapat melakukan kegiatan hobi tanpa ada keberatan dari pasangan. Mereka bebas
untuk melakukan acara berwisata ke tempat yang disukai dengan sesama pelajang.
Pelajang
biasanya terlihat lebih muda dari usia sebenarnya jika dibandingkan dengan
teman-teman yang berusia sama dengannya, tetapi telah menikah.
Ketika
diundang ke pernikahan kerabat, pelajang biasanya menghindarinya. Kalaupun
datang, mereka berusaha untuk berkumpul dengan para sepupu yang masih melajang
dan sesama pelajang. Hal ini untuk menghindari pertanyaan singkat dan sederhana
dari kerabat yang seusia dengan orangtua mereka. Kapan menikah? Kapan menyusul?
Sudah ada calon? Pertanyaan tersebut, sekalipun sederhana, tetapi sulit untuk
dijawab oleh pelajang.
Seringkali,
pelajang juga menjadi sasaran keluarga untuk dicarikan jodoh, terutama bila
saudara sepupu yang seumuran telah menikah atau adik sudah mempunyai pacar.
Sementara orangtua menginginkan agar adik tidak melangkahi kakak, agar kakak
tidak berat jodoh.
Tidak
dapat dipungkuri, sebenarnya lajang juga mempunyai keinginan untuk menikah, memiliki
pasangan untuk berbagi dalam suka dan duka. Apalagi melihat teman yang seumuran
yang telah memiliki sepasang anak yang lucu dan menggemaskan. Bisa jadi, mereka
belum menemukan pasangan atau jodoh yang cocok di hati. Itulah alasan mereka
untuk tetap menjalani hidup sebagai lajang.
Melajang
adalah sebuah sebuah pilihan dan bukan terpaksa, selama pelajang menikmati
hidupnya. Pelajang akan mengakhiri masa lajangnya dengan senang hati jika telah
menemukan seorang yang telah cocok di hati.
Kehidupan
melajang bukanlah sebuah hal yang perlu ditakuti. Bukan pula sebuah
pemberontakan terhadap sebuah ikatan pernikahan. Hanya, mereka belum ketemu
jodoh yang cocok untuk berbagi dalam suka dan duka serta menghabiskan waktu
bersama di hari tua. Arus modernisasi dan gender membuat para perempuan
Indonesia dapat menempati posisi yang setara bahkan melebihi pria. Bahkan
sekarang banyak perempuan yang mempunyai penghasilan lebih besar dari pria.
Ditambah dengan konsep pilihan melajang, terutama kota-kota besar, mendorong
perempuan Indonesia untuk hidup sendiri.