Sabtu, 27 Oktober 2012

That XX (part.2)



“Geu xx naega motan ge mwoya…
Dodaeche wae naneun gajil su eomneun geoya…
Geu xx neoreul saranghaneun ge anya…
Eonjekkaji babogachi ulgoman isseul goya…”

Sudah hampir sebulan aku tidak berbicara dengan CL sejak kejadian di bus waktu itu. Aku tidak tahu harus berbuat apa, padahal aku dan CL sudah berteman sangat lama, tetapi baru kali ini kami mengalami pertengkaran hebat. Aku pun memutuskan untuk bertemu dengan Minzy agar mencari cara untuk mempertemukan ku dengan CL.
Saat ada jam kosong aku pun menelepon Minzy, “Annyong-haseyo?”
Ada apa GD?”, tanya Minzy heran.
“Aku ingin meminta tolong pada mu Minzy, bisakah kau membantu ku Minzy? Aku…”,sebelum aku membicarakan maksud dan tujuan ku Minzy langsung menjawab permintaan ku.
“Baik aku akan menolong mu untuk bertemu dengan CL, sore nanti kau tunggu ditempat yang sudah kujanjikan pada CL, nanti akan aku telepon untuk memberi tahu tempatnya.”, jawab Minzy cepat.
“Kamsahamnida”, jawabku dengan penuh semangat.
“Chonmaneyo, ah~ GD kali ini kau bawa saja choco cake buatan mu, dia ingin sekali memakannya tetapi tidak berani memintanya pada mu karena kalian sedang bertengkar.”,jawab Minzy sambil terkikih.
“Baiklah.”,aku pun langsung mematikan sambungan telepon ku dengan Minzy.
Seusai pelajaran aku pun segera menuju super market terdekat untuk membeli bahan-bahan. Dilapangan parkir tidak sengaja aku bertemu dengan Dae Sung yang hendak menuju parkiran motor tempat dia memarkir motornya. Super market yang aku tuju adalah tempat kerja paruh waktunya.  Aku pun mencoba memanggil Dae Sung yang hendak bersiap-siap menaiki motornya.
 “Daesung!”, teriak ku kepada Dea Sung,.
Dae Sung segera menoleh ke arah ku yang memanggilnya tadi.
Ada apa GD?”, tanyanya heran.
“Bolehkah aku menumpang motor mu sampai tempat kerja mu Dae Sung?”, pinta ku pada Dae Sung
“Tentu saja GD.”, jawab Dae Sung sambil memberikan helm pada ku lalu kami pun segera menuju tempat tersebut.
Saat ditengah jalan Dae Sung mengajukan pertanyaan pada ku, “Hei GD, untuk apa kau mampir ke toko ku?”, tanyanya heran.
“Oh itu, aku ingin membeli bahan-bahan choco cake.”, jelas ku pada Dae Sung yang tengah menyetir.
“Untuk apa kau membeli bahan-bahan choco cake? Kau ingin menjualnya dikampus nanti GD?”,tanya Dae Sung masih heran dengan maksud dan tujuan ku membuat choco cake.
“Tidak, aku mau membuatnya sebagai permohonan maaf ku kepada CL.”, jelas ku.
“Kau bertengkar dengan CL? Itu suatu keajaiban bila kau bertengkar dengan CL? Bagaimana kau bisa bertengkar dengannya GD?”,tuntut Dae Sung.
“Iya memang itu jarang terjadi diantara kami, pertengkaran itu terjadi saat CL bercerita tentang Taeyang…”, dengan secara mendadak Dae Sung menghentikan motornya ditengah jalan.
“Apa tadi kata mu GD? Taeyang?”, tanya Dae Sung kaget.
Astaga aku kelepasan bicara, aku pun segera mengalihkan pembicaraan Dae Sung.
“Apa-apaan kau Dae Sung! Secara mendadak kau menghentikan motor mu ditengah jalan? Apa kau sudah gila!”, tanya ku shock.
“Maafkan aku,” Dae Sung pun segera menjalankan lagi motornya, “Tadi kau bilang Taeyang?”
“Iya,memangnya kenapa Dae Sung?”,tanya ku pura-pura tidak tahu.
 “Sudah tidak apa-apa Dae Sung ini bukan salah mu tadi aku hanya asal bicara saja.”,elak ku pada Dae Sung.
“Baiklah GD.”, jawab Dae Sung masih sedikit curiga.
Sesampainya kami di super market Dae Sung langsung mengganti bajunya dengan seragam kasir sementara aku langsung mengambil keranjang belanjaan dan memilih-milih bahan-bahan yang akan ku pakai. Setelah ku pikir semua bahan sudah kurasa cukup untuk membuat choco cake kesukaan CL aku pun segera membayarnya dikasir yang dijaga oleh Dae Sung.
Aku pun meninggalkan toko dengan terburu-buru agar bisa tepat waktu bertemu dengan CL. Aku segera menuju halte bus untuk segera pulang ke apartemen ku.
Saat aku tiba di apartemen tiba-tiba aku melihat mobil sport mewah terparkir didepan pintu masuk apartemen. Aku sepertinya pernah melihat mobil itu di suatu tempat, tapi aku lupa dimana aku pernah melihatnya. Tanpa memedulikan lagi pemilik mobil itu aku pun segera masuk kedalam apartemen, menuju lift untuk naik ke lantai delapan, dimana itu adalah lantai yang bersamaan dengan CL.  Pintu lift pun terbuka dilantai delapan, dengan susah payah aku membawa belanjaan ku di kedua tangan ku. Saat aku hendak melewati depan kamar CL aku melihat Taeyang yang tengah berdiri didepan pintu kamar CL. Dia membawa buket bunga lili putih ditangannya. Tampaknya dia sedang kesal saat sedang menerima telepon dari seseorang.
“Kenapa kau tidak mengatakannya dari tadi! Sudah lama aku menunggu mu didepan apartemen mu!”, bentaknya pada seseorang disambungan teleponnya. Setela lawan bicaranya berbicara panjang Taeyang pun segera mematikan sambungan teleponnya. Dia pun segera meninggalkan apartemen CL. Dia melihatku yang sedang berjalan kearah kamar apartemen ku. Dia memandang ku dengan tatapan yang seakan-akan seekor serigala akan menerkam domba buruannya.
Dengan rasa acuh tak acuh aku pun berjalan melewati Taeyang.
“Nampaknya kau sedang senang hari ini GD?”, tanyanya dengan nada arogan.
“Biasa saja.”,jawab ku sambil lalu.
Tiba-tiba Taeyang berhenti di depan ku lalu melemparkan buket bunga lilinya kearah ku, “Ini untuk gadis b******k mu itu!”, makinya.
Aku pun hanya melihat buket bunga lili yang terjatuh dilantai saat dilempar Taeyang tadi.
“Untuk apa? Dia kan pacar mu?”,tanya ku acuh tak acuh.
“Hah! Percuma berbicara dengan orang bodoh seperti mu.”, dia pun segera meninggalkan ku yang memandangnya dengan tatapan biasa-biasa saja. Tidak lama Taeyang pun berbalik lagi kearah ku, “Sayang gadis naïf seperti dia mempunyai sahabat yang munafik seperti mu.”
“Apa maksud mu Taeyang!”,kecam ku pada Taeyang.
“Uuuh~ takut.”,candanya kearah ku yang sedang marah padanya.
“Bila kau tidak mencintai CL lepaskan lah dia! Dia tidak pantas mendapatkan pria seperti mu!”, amarah ku pun dalam sekejap langsung naik saat melihat gaya bicara Taeyang yang mempermainkan CL.
“Sayang sekali, walaupun aku sudah tidak mencintainya lagi , aku masih belum puas bermain-main dengannya.”,jawab Taeyang dengan enteng dan segera berlalu untuk meninggalkan apartemen.
“B******k kau Taeyang!”, teriak ku penuh amarah kearah Taeyang yang tengah berjalan menuju lift.
Dengan perasaan yang campur aduk aku segera masuk kedalam apartemen ku. Aku segera menaruh bahan-bahan cake dan menyiapkan alat-alat yang akan aku gunakan untuk membuat cake. Disaat aku sedang mengayak terigu telepon ku pun berdering, aku segera mengelap tangan ku dan  menuju kamar untuk mengambil telepon ku. Aku pun melihat layar telepon ku. Rupanya itu telepon dari Minzy, aku pun segera menganggkat telepon dari Minzy.
“Annyong-haseyo?”
“GD, nanti kau tunggu ditaman kota jam empat sore, aku sudah membujuk CL untuk kesana.”,jelas Minzy.
“Baiklah Minzy.”, aku segera mengakhiri teleponnya dan segera membuat choco cake untuk CL. Waktu yang tersisa untuk ku tinggal dua jam lagi. Aku pun segera menyiapkan segala sesuatunya dengan kilat. Setelah aku berkutat didapur selama kurang lebih satu setengah jam untuk menyiapkan cake aku segera membersihkan dapur ku yang berantakan dan setelah itu aku pun bersiap-siap untuk bertemu dengan CL.
Selesai mandi aku pun segera memilih-milih pakaian yang pantas untuk ku kenakan nanti. Awalnya aku mencoba pakaian semi formal,lalu berlanjut ke formal, bergaya western, bergaya harajuku, dan pada akhirnya akupun memilih gaya berpakaian ku yang seperti biasa, dengan t-shirt, celana jeans, sepatu santai dan tidak lupa jaket santai. Aku pun siap untuk berangkat ke taman kota. Dengan membawa choco cake yang telah ku siapkan untuknya. Aku menunggu kedatangan bus yang menuju taman kota di halte bus dekat apartemen ku. Setelah bus tiba aku pun segera naik dan segera menuju taman kota.
Sesampainya ditaman kota aku mencari bangku taman yang kosong. Aku menemukan bangku kosong itu disekitar taman belakang, tempat itu diapit oleh dua pohon besar yang rindang. Tempat ini terlihat pas sekali untuk aku, untuk mengucapkan permintaan maaf ku. Sesudah mendapatkan tempat yang cocok aku pun segera mengirim pesan singkat kepada Minzy. Aku pun menunggu kedatangan CL sambil berharap CL akan memaafkan ku dan menyukai cake buatan ku.
Aku sudah menunggu hampir lima belas menit dari waktu yang dijanjikan, tapi CL pun belum menampakkan batang hidungnya. Aku terus bersabar sampai tiga puluh menit kemudian aku melihat seorang wanita berambut panjang berwarna coklat, dia mengenakan dress berwarna baby pink yang panjangnya setengah lutut, kaki wanita itu halus yang melihatkan keindahan kakinya yang dibalut sepatu ber hak yang kira-kira memiliki tinggi hak mencapai lima belas centimeter. Saat wanita itu berbalik kearah ku, wanita itu menunjukkan wajahnya. Dan ternyata wanita yang kulihat itu adalah CL, tampaknya dia sedang mencari-cari tempat yang ku beritahu tadi ke Minzy.
Aku pun berpura-pura tidak mengetahu kehadiran CL yang sedang bejalan kearah tempat ku menunggunya.
“GD! Apa yang kau lakukan disini? Apa ini..?”, tiba-tiba CL pun menghentikan kata-katanya lalu terdiam sejenak.
“CL, aku disini untuk minta maaf dengan mu atas kejadian sebulan yang lalu aku benar-benar menyesal CL?”, pinta ku pada CL yang tengah terdiam karena marah.
“Apakah ini ulah Minzy, GD?”, tanyanya masih dalam keadaan marah terhadap ku.
“Bukan, ini semua ulah ku, aku yang menyuruh Minzy untuk bisa bertemu dengan mu, kumohon jangan salahkan Minzy dalam hal ini, ini semua salah ku, aku benar-benar menyesal.”, pinta ku pada CL.
“Aku tidak butuh alasan mu GD! Aku masih marah pada mu! Selamat tinggal !”, ucap CL yang hendak meninggalkan ku.
Aku pun mencoba menahannya dengan menarik pergelangan tangannya. CL pun terhenti tetapi dia masih saja tidak mau menatap ku.
“Aku mohon CL beri waktu untuk aku menjelaskannya pada mu, aku mohon?”, ucap ku dengan sungguh-sungguh.
“Mau apa lagi GD? Semuanya sudah jelas dan tidak ada lagi yang perlu kau jelaskan.”
“Aku mohon CL, dengarkan aku?”
CL berbalik dan menatap ku dengan tajam, “Ku beri kau waktu lima menit,lebih dari itu aku tidak mau mendengar apa-apa lagi dari mu!”,ancam CL.
“Baiklah, kumohon kau duduk dulu sebentar.”, pinta ku pada CL.
CL pun duduk dibangku tangan dengan tangan terlipat didepan dada. Tanpa membuang waktu lagi aku pun berusaha menjelaskan semuanya pada CL.
“CL aku benar-benar menyesal atas kelakuan ku sebulan yang lalu, pada waktu itu aku tidak tahu apa yang sedang aku pikirkan tentang si b******k itu,” aku pun menatap CL yang tampak kesal saat aku menyebut pacarnya dengan sebutan b******k, aku segera meralat perkataan ku sebelum CL benar-benar pergi dan tidak akan memaafkan aku, “Maksud ku pacar mu, Taeyang, saat itu aku sedang kesal dan tanpa sadar aku berbicara yang tidak pantas pada mu? Aku mohon CL, aku tidak ingin bertengkar dengan mu, saat bertengkar dengan mu seakan aku sedang berada dineraka, saat aku tidak lagi berbicara dengan mu rasanya seperti aku makhluk yang menjijikan dihadapan mu, aku mohon maafkan aku CL, bisakah kita berteman lagi seperti dulu CL?”, ucap ku dengan menaruh harapan besar untuk dimaafkan oleh CL.
“Apakah hanya itu saja yang ingin kau katakan GD?”, tanya CL sinis. Aku pun mengangukkan kepada, menandakan bahwa itu saja pernyataan ku.
“Baiklah itu semua tidak penting!”, CL pun beranjak pergi dan tidak ada kata-kata lain lagi yang dia ucapkan.
“Baiklah bila kau tidak mau memaafkan ku, aku mohon kau mau menerima choco cake kesukaan mu ini?”, aku menyodorkan cake yang sudah kubuat tadi kepada CL, “Ku mohon ambil lah?”
CL pun berbalik dan tiba-tiba CL pun menunjukkan seringaiannya kearah ku dan saat itu juga dia pun tertawa tanpa ada hal yang lucu. Aku yang melihatnya seperi itu aku pun terheran-heran.
“Apa yang terjadi dengan mu CL? Apa yang membuat mu seperti itu?”, tanya ku semakin heran.
CL pun menghentikan tawanya dan dia mulai menjawab pertanyaan ku, “Oh, maafkan aku GD, sungguh melihat mu memohon seperti itu membuat ku tidak bisa menahannya lebih lama.”, jelasnya sambil tertawa sedikit.
“Jadi apa maksud mu? Apakah aku dimaafkan atau apa?”
“GD, maafkan aku, aku sudah lama memaafkan mu, ini semua hanya sandiwara, aku minta nmaaf GD?”, jelasnya.
“Jadi kau hanya mempermainkan ku CL!” aku pun meninggalkan CL dengan perasaan hampir kesal.
Kali ini CL yang menahan ku pergi, dia menarik pergelangan tangan ku, “Tunggu GD, aku minta maaf, aku tidak bermaksud mengusili mu, maafkan aku GD?”, pintanya serius.
Aku pun berbalik kearahnya dan tersenyum jahil.
“GD!”, teriak CL dengan kesal. Aku hanya tersenyum jahil sambil menjulurkan sedikit lidah ku kearahnya.
“Memangnya hanya kamu saja yang bisa berbuat jahil terhadap ku CL?”, tanya ku sambil tersenyum. Akhirnya kami pun tertawa bersama-sama, memertawakan kebodohan kami. Akhirnya kami pun berjalan-jalan mengitari taman kota setelah berakhirnya pertengkaran kami. Sesekali kami beristirahat untuk membeli minum, CL pun beristirahat untuk memakan choco cakenya.
“Maafkan aku  CL, atas kejadian waktu itu?”, pinta ku saat kami sedang asik berjalan-jalan ditaman.
CL menatap ku dengan tatapan lembutnya, “Maafkan aku juga GD atas keegoisan ku,” CL menyunggingkan senyuman manisnya dan dia pun menggandeng tangan ku saat kami berjalan-jalan ditaman.
Tidak terasa hari sudah hampir senja, aku pun berjalan keluar taman dan masih bergandengan tangan dengan CL. Kami pun menuju halte bus untuk pulang. Saat kami sedang menunggu bus, CL pun mendapatkan telepon dari seseorang, dia pun mengambil telepon genggamnya dari dalam tasnya dan segera menganggkat teleponnya yang sedari tadi terus berdering.
“Annyong-haseyo?”, jawabnya kepada seseorang yang berada dibalik panggilannya.
“Baiklah Sandara, aku dan GD akan segera kesana.”, CL pun mengakhiri sambungan teleponnya. Dia pun berbalik menatap ku, “GD, Sandara mengajak kita untuk berkaraoke ditempat biasa, apakah kau mau ikut GD?”, tanyanya.
“Baiklah aku ikut, memang ada acara apa?”
“Mereka merayakan berbaikannya kita.”, jawabnya senang.
“Baiklah.”
“Kalau begitu kita naik taxi saja, tempatnya tidak jauh dari sini kan GD?”,ajak CL.
“Iya.”
Didalam taxi pun aku baru teringat kata-kata CL saat ditaman tadi, aku pun mencoba menanyakannya pada CL saat kami berada didalam taxi.
“CL?’, panggil ku.
“Iya GD, ada apa?”, tanyanya.
“Sebenarnya dari siapa ide untuk mengerjaiku ditama tadi?”, tanya ku heran.
CL sempat tersenyum geli lalu menjawab pertanyaan ku, “Itu semua ide Minzy dan Park Bom mereka kesal melihat pertengkaran kita yang seperti anak kecil.”, jelas CL pada ku.
“Jadi gara-gara mereka?”, tanya ku.
CL hanya tertawa saat melihat ekspresi ku yang kaget dan kebingungan.

# tiga minggu setelah pertengkaran G Dragon dengan CL#

Saat itu kantin kampus sedang penuh, aku hanya memakan sepotong apel dan meminum diet coke bersama Sandara, Minzy, dan Park Bom di kantin. Minzy pun mengamati ekspresi ku yang tidak sedang mood.
“Hei, CL, ada apa dengan mu?”, tanya Minzy heran, “Kenapa kau hanya memakan sepotong apel dan sekaleng soda?”
“Aku tidak apa-apa.”, jawab ku lesu.
“Apa yang terjadi dengan mu CL?”, tanya Park Bom semakin heran.
“Tidak terjadi apa-apa Park Bom, aku baik-baik saja.”, elak ku.
Tidak lama berselang Sandara memanggil seseorang yang berada dikejauhan. Karena tempat yang ramai aku pun tidak mendengar dengan jelas siapa yang dia hendak panggil. Setelah Sandara memenggil seseorang, tiba-tiba  GD muncul ditempat yang kami tempati untuk makan siang.
Ada apa Sandra?”, tanya GD kearah Sandara.
Aku pun memalingkan wajah ku dari GD, aku masih sedikit kesal dengannya tetapi disisi lain aku rindu berbicara dengannya lagi.
“Apakah nanti pelajaran seni ada tugas GD?”
“Nampaknya tidak ada Sandara, ya sudah aku harus mengembalikan buku pinjaman ku ke perpustakaan.”, GD pun berlalu tanpa menoleh bahkan menyapa ku.
Setelah GD pergi menjauh, Minzy pun bertanya kepada ku, “Apa yang terjadi dengan GD?”,tanya Sandara heran. Sandarac pun langsung menoleh kearah ku yang dari tadi pura-pura tidak mengetahui kedatangan GD tadi.
“Apa yang terjadi diantara kalian, CL?”, tanya Sandara heran.
“Tidak terjadi apa-apa, ini hanya masalah kecil.”,elak ku.
“Bohong! Katakan yang sebenarnya CL! Apa yang terjadi diantara kalian sebenarnya?”, tuntut Minzy.
Karena aku tersudut aku pun mengatakan yang sejujurnya pada Minzy dan yang lainnya.
“Sebenarnya kami sudah tiga minggu ini bertengkar, awalnya aku bercerita tentang oppa, lalu GD memaki oppa, aku pun marah atas ulahnya dan kami pun akhirnya bertengkar.”, jawab ku jujur.
“Taeyang? Memangnya apa yang terjadi dengan Teayang sampai-sampai membuat GD seperti itu CL?”, tanya Minzy semakin penasaran.
“Aku juga tidak tahu, saat aku bercerita tentang oppa tiba-tiba dia marah?”,jawab ku.
“Apa jangan-jangan ceita Seung Ri itu benar adanya?”, tutur Sandara. “Taeyang benar-benar selingkuh dari CL.”, ungkap Park Bom dengan polos.
“Park Bom!”,tegur Sandara.
“Maafkan aku CL aku tidak bermaksud untuk itu?”, jawab Park Bom dengan penuh penyesalan.
“Sudahlah itu semua hanya gossip untuk memisahkan ku dengan oppa.”, jawab ku naïf.
“Kalau begitu mengapa kau tidak berbaikan saja dengan GD, itu kan hanya gossip CL?”, tanya Sandara.
“Tidak! Dia duluan yang memulainya!”, jawab ku dengan penuh emosi.
“Ayolah CL, kalian bukan anak kecil lagi, kalian juga sudah berteman lama jadi apa salahnya meminta maaf?”, pinta Park Bom.
“Tidak! Aku tidak mau!”, jawab ku dengan penuh emosi.
“Kau pasti merindukan masa-masa baik kalian dulukan CL? Jawablah dengan jujur!”, tuntut Minzy. Aku berusaha mengelak dari tatapan tajam Minzy yang menuntut jawaban ku. Dan pada akhirnya akupun tidak bisa mengelak lagi.
“Ia, ia aku merindukannya tapi aku masih kesal dengannya Minzy!”
“Baiklah kalau begitu, aku yang akan membuat mu berbaikan kembali dengan GD, setuju?”, tanya Minzy.
“Terserah dengan mu saja.”, jawab ku pasrah.


#kembali dimana CL dan G Dragon sedang menunggu taxi#


Akhirnya kami pun memberhentikan taxi yang lewat, aku dan CL duduk dibanggku belakang.
Dua puluh menit perjalanan dari taman kota menuju tempat karaoke langgana kami. Setibanya kami disana kami berpapasan dengan T.O.P, Park Bom, dan Seung Ri yang hendak masuk kedalam tempat karaoke.
“Hai GD!”, sapa T.O.P kearah ku.
“T.O.P!”, balas ku.
Akhirnya kami berlima pun sama-sama masuk kedalam ruang karaoke yang sudah dipesan oleh Sandara lebih dulu. Ternyata didalam Sandara bersama Dae Sung dan Minzy sudah menunggu kedatangan kami. Saat semua sudah berkumpul, mendadak Sandara mengambil mic dan berdiri diatas meja.
“Terima kasih kalian mau datang, acara ini sengaja aku siapkan untuk kembali persahabatan CL dengan G Dragon ,jadi mari kita senang-senang!!”, teriak Sandara lalu dilanjut dengan bersulang bersama-sama dengan segelas soju. Malam itu kami menikmati pesta dengan bahagia. Aku pun sempat battle dance dengan T.O.P saat kami sedang menyanyikan lagu Fantastic Baby milik Big Bang. Pesta semakin ramai saat semua yang hadir ikut berpartisipasi. Kami pun saling bahagia, terutama aku, aku sangat bahagia karena bisa bersahabat kembali dengan sahabat yang ku cintai.


Seusai kami berkaraoke kami hendak pulang ke rumah masing-masing. Aku berjalan memapah CL yang sedang mabuk karena terlalu banyak meminum soju. Kami pun keluar tempat karaoke dengan perasaan bahagia. Tapi mendadak Park Bom yang setengah mabuk memanggil CL yang sedang ku papah.
“CL, lihat siapa yang ada disana?”, Park Bom menunjuk kearah seorang pria yang sedang berjalan sambil berangkulan dengan wanita cantik dan sexy. CL pun menoleh dan  memperhatikan pria itu dengan seksama.
“Bukankah itu Taeyang? Dia pacar mu kan? Kenapa dia bersama wanita lain?”, lanjut Park Bom.
CL pun terus memperhaikan pria itu dan mencoba fokus.
“Sudahlah Park Bom, kau sedang mabuk, itu bukan Taeyang, ayo kita pulang?”, ajak ku sambil memapah CL.
“Tunggu GD!”, elak CL. CL mencoba lagi dan lagi ntuk memfokuskan pandangannya. Dan CL tersadar ternyata itu adalah Taeyang, pacanya. Rupanya dia yang sedang berjalan dengan wanita sexy itu.
“Sudahlah, ayo kita pulang, taxinya sudah menunggu.”, ajak ku sambil membawa CL kedalam taxi. CL berusaha terus untuk mengelak tetapi dia sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk memaksakan diri. Akhirnya aku pun mengajaknya masuk kedalam taxi dan tidak berapa lama kemudian CL pun tertidur dibahu ku. Tidak lama berselang setetes air mata hangat membasahi bahu ku…


#To Be Continue

Jumat, 19 Oktober 2012

That XX (part.1)



“Geu xx naega motan ge mwoya…
Dodaeche wae naneun gajil su eomneun geoya…
Geu xx neoreul saranghaneun ge anya…
Eonjekkaji babogachi ulgoman isseul goya…”



Dia adalah seorang wanita yang tepat untuk ku, tapi mengapa dia memilih si b******k itu dari pada diri ku yang jelas-jelas telah menyukainya sejak pria itu datang dalam hidupnya. Mungkin memang salah ku juga kenapa pada saat itu aku tidak mengungkapkan perasaan cinta ku ini padanya. Sekarang semua telah terlambat untuk melakukannya, dia sudah bertemu dengan si b******k itu dan memilih si b******k itu untuk menjadi pasangan hidupnya. Seakan didunia ini sudah tidak ada celah dan harapan lagi untuk ku. Roda dunia sudah berhenti dan aku tepat berada dijantung neraka saat ini…
***

Hari minggu ini benar-benar hari yang buruk untuk ku tapi disaat yang bersamaan adalah hari paling bahagia seumur hidup ku. Saat aku sedang bekerja di tempat kerja ku tidak sengaja aku melihat tunangan wanita yang ku cintai sedang berkencan dengan gadis lain di salah satu café yang berada di distrik gangnam. Dia telah melepas cincin tunangannya dengan CL demi berkencan dengan gadis lain. Saat itu seakan hati ku terbagi menjadi dua, aku tidak tahu apakah aku harus menceritakan kejadian ini kepada CL, tapi bila aku bercerita dengannya dia pasti akan membenci ku karena telah mencoba merusak hubungannya dengan Taeyang tapi jelas memang itu yang terjadi, Taeyang telah mengkhianati cinta CL padanya.
Dengan penuh percaya diri aku menghampiri Taeyang dengan gadis itu dimeja nomor empat belas yang terletak disudut ruangan café ini dengan pakaian pelayang yang ku kenakan.
“Mau pesan apa tuan?” tanya ku pada Taeyang yang sedang membaca daftar menu.
“’Aku mau sirloin steak dan orange juice,” lalu ia menatap wanita yang berada didepannya, “Dan kau mau apa sayang?’ tanyanya manis pada wanita itu sambil mengelus wajah wanita itu dengan sentuhan hangatnya.
“Aku juga sama dengan mu, oppa.” Jawabnya dengan nada manis yang menggoda.
“Baiklah aku memesan sirlon steak dan orang juice dua.” Sambil menyebutkan pesanannya Taeyang berbalik kearah ku.
Lalu dengan tatapan sombong dia menyapa ku, “Hei, kau pria yang tinggal bersebelahan dengan arpatemen CL kan?”
“Iya,” jawab ku menahan emosi “Jadi hanya itu pesanan anda, tuan?”
“Benar, cepatlah kami sedang terburu-buru.”, perintahnya sombong.
Aku pun menunduk dan segera menuju dapur untuk membeikan pesanannya kepada koki. Saat pesanan mereka selesai dibuat aku pun segera menyajikan hidangan tersebut dimeja mereka. Ternyata mereka sedang asik memadu kasih dibangku restoran. Aku pun menyajikan pesanan mereka terburu-buru, aku tidak tahan melihat kesakitan CL nanti bila dia mengetahui bahwa tunangan yang dia cintai dan selalu di eluh-eluhkan ternyata mengkhianti cintanyaa dan bahkan telah mencampakkannya secara diam-diam.
Sebelum aku beranjak pergi meninggalkan mereka yang sedang memadu kasih, dengan rasa penasaran aku berbalik lagi kearahnya untuk menanyakan perasaan yang ada dihati ku saat ini.
“Hmm~ Taeyang–shhi bukankah kau sudah bertunangan dengan CL?”, Tanya ku padanya tanpa tending alih-alih.
Dengan menahan tawa dia menjawab pertanyaan ku dengan rasa yang menurut ku tanpa dosa, “Iya aku sudah bertunangan dengannya tapi aku sudah mulai bosan dengan perempuan yang naïf seperti CL mu itu, jadi bolehlah aku bermain sebentar untuk melepas kejenuhan?” jawabnya tanpa senang.
Dengan emosi yang hampir memuncak aku mencoba menahan diri ku untuk tidak bertengkar dengannya, “Bila kau sudah bosan segeralah lepaskan CL, dia wanita yang tidak pantas berpasangan dengan pria b******k seperti diri mu!”
Lagi-lagi dengan nada yang meledek dan tidak serius menanggapi perkataan ku, “Ambillah dia bila aku sudah benar-benar bosan dengannya.”
Belum sempat aku membalasnya tiba-tiba kepala manager restoran memanggil ku, aku pun segera menghampirinya dimeja kasir.
“Siapa pria itu sayang?”, Tanya teman kencan Taeyang dengan rasa penasaran.
“Dia hanya seorang pecundang yang telah lama mencintai CL tapi tak akan bisa mendapatkan CL.”, jawabnya sinis.
Aku pun menguatkan diriku agar tidak terjadi keributan  dan segera menghampiri manager.
Ada apa bos?”, tanya ku saat aku sampai dimeja kasir.
“Tolong antarkan pesanan ini kealamat ini, tadi T.O.P mendadak tidak enak badan, jadi tolong gantikan dia sebentar bisakan GD?”, pinta manager pada ku.
Aku pun melihat alamat yang dituju didalam daftar pesanan, dan ternyata itu adalah alamat arpatemen CL. Ini suatu hal yang benar-benar sangat kebetulan sekali untuk ku. Aku tidak tahan menerima penderitaan ini. Dengan perasaan gundah-gulana aku pun mengantarkan pesanan itu kealamat yang dituju.
Saat aku hendak meninggalkan pesanan sekali lagi aku bertemu Taeyang dengan teman kencannya dipintu keluar. Dia berjalan menghampiri ku dan menatap wajah ku dengan pandangan seperti memandang orang rendahan lalu perlahan dia mendekati ku lalu berbisik kepada ku,
“Jangan coba-coba kau mencampuri urusan pribadi ku!,” ancamnya pada ku.
Dengan langkah yang hampir gontai aku pun mencoba berlalu dan tidak memerdulikan perkataannya tadi.
Taeyang dan teman kencannya pun berlalu dan segera menuju mobil mewahnya yang terparkir didepan café.
Aku merasa putus asa, aku tidak tahan lagi melihat kegilaan ini. Aku tidak tega melihat kebohongan ini, tidak tahan melihat apa yang akan dilakukan CL nanti bila mengetahui bahwa tunangannya sendiri yang telah menghancurkan rasa cintanya.
Saat aku sampai diarpatemen CL ku mencoba memberanikan diri untuk menemuinya dan memantapkan hati ku seolah-olah tadi tidak terjadi apa-apa dicafe. Aku pun sudah berada didepan pintunya, dan lalu memencet bel yang ada didepan pintunya. Bunyi bel pertama tidak ada jawaban, aku pun mencoba membunyikannya untuk kedua kalinya dan tepat setelah bunyi kedua berhenti suara CL pun bergema untuk menjawab panggilan ku.
“Tunggu sebentar.”
Tidak lama CL pun membukakan pintu dan tersenyum pada ku. Dia sedang sibuk menerima telepon dari seseorang, aku pun menaruh pesanannya diatas meja lalu menunggunya untuk membayar pesanannya. Dengan rasa penasaran aku pun mendengarkan percakapan CL dengan seseorang didalam telepon. Dan setelah aku menyimak beberapa pembicaraannya ternyata itu telepon dari Taeyang. Hati ku langsung rapuh karena disaat yang bersamaan aku mengingat kejadian di café tadi.
Setelah CL selesai berbincang dengan Taeyang ditelepon, dia pun menghampiri ku yang sedang menunggunya dimeja ruang tamu.
“Tumben kali ini kau yang datang GD-sshi, biasanya T.O.P yang bertugas mengantarkan makanan?”, tanyanya dengan menyunggingkan senyum manisnya pada ku.
Hati ku semakin teriris saat dia memberikan senyuman manisnya itu, aku akan mengutuk si b******k itu atas apa yang dia lakukan terhadap CL.
Ada apa dengan mu GD? Kenapa kau terdiam?”, tanyanya heran.
“Tidak ada apa-apa CL-sshi.”
“Baiklah ini bayarannya dan kembaliannya kau ambil saja,” dia pun menyodorkan beberapa lembar uang kepada ku.
Aku pun hanya tersenyum lalu bergegas meninggalkan apartemen dengan perasaan yang tidak menentu.
Sesaat sebelum aku meninggalkan apartemen, sentuhan halus CL mendarat tepat ditangan ku. Dia mendaratkan genggamannya dilengan ku dan menahan ku.
“Tunggu sebentar GD, bisakah besok kita berangkat bersama kekampus? “, pintanya.
“Baiklah, besok jam delapan pagi aku tunggu dibawah.”, jawabku dengan bahagia yang tertahan.
CL pun tersenyum pada ku lalu mengangguk untuk mengiyakannya.

Setelah mengantarkan makanan aku pun kembali ke tempat kerja ku. Saat aku hendak masuk kedalam café aku dihadang oleh seorang pria. Aku pun mencoba melihat wajahnya, sebelum aku hendak melihat wajahnya tiba-tiba pria itu sudah memukul wajah ku. Sontak aku pun kaget lalu rubuh didepan pintu masuk. Aku pun langsung bangkit dan segera meluncurkan pukulan ku kearah wajahnya tapi lagi-lagi pukulan ku dihadangnya dan dia segera menarik kerah baju ku,
“GD, awas saja bila kau berani berkata macam-macam kepada CL! Akan ku bunuh kau!”
Ternyata itu adalah Taeyang yang sudah memukul wajah ku. Rupanya setelah dia mengantar temen kencannya dia kembali lagi ke café ini lalu menunggu ku. Dia panik saat tahu tadi aku yang mengantarkan pesanan ke apartemen CL. Rupanya tadi CL sempat memberitahu kedatangan ku padanya. Dengan tawa kecil aku pun mencoba menjawab ancamannya.
“Untuk apa aku berurusan dengan pria b******k seperti mu!”, tantang ku padanya.
“B******k kau GD!”, Taeyang mencoba memukul ku kembali tetapi kali ini pukulannya berhasil ku hindari dan malah sebaliknya aku memukul wajah tampannya itu.
“Aku tidak akan memberi tahu kejadian hari ini kepada CL, tetapi bila kau berani macam-macam dengan CL, kau akan berurusan dengan ku Taeyang!”, ancam ku padanya.
Taeyang bangkit untuk berdiri, dia hanya tertawa geli mendengar ancaman ku tadi.
“Lucu sekali, seorang pecundang seperti mu berani melawan ku?! Bahkan derajat mu saja lebih rendah dari pada binatang! Kau yang akan mati duluan bila kau berkata macam-macam pada CL!”, tuntutnya.
Sebelum aku sempat mengucapkan sepatah kata Taeyang sudah beranjak pergi meninggalkan ku yang hampir babak belur didepan pintu masuk café.
Dia segera menuju mobil sport mewahnya yang terparkir diseberang jalan.
Aku pun masuk kedalam café dengan keadaan yang lumayan buruk. Manager café pun menghampiri ku.
“Apa yang terjadi diluar tadi GD? Aku dengar ada keributan?”, tuntutnya pada ku.
“Tidak terjadi apa-apa bos, hanya kesalah pahaman saja.”, elak ku pada manager.
“Bila benar apa yang kau katakana seperti itu baiklah aku percaya tapi bila sampai merugikan café ini gaji mu bulan ini akan ku potong, dan sekarang cepatlah kembali bekerja, dan jangan lupa obati luka-luka mu GD.”, perintahnya.
Aku hanya mengangguk dan segera berlalu menuju dapur dan melaksanakan pekerjaan ku.
Tidak           terasa hari ini berlalu begitu berat,setelah melihat kejadian tadi pagi,hati ku benar-benar sangat hancur. Aku sangat bersimpati sekali terhadap CL. Dia tidak tahu bahwa tunangan yang selalu dia banggakan dan selalu ia cintai telah melukai hatinya. Aku tidak tahu apakah besok aku akan kuat menghadapi rona kebahagiaan yang terpancar dari diri CL setiap kali dia membahas Taeyang.
Malam ini aku berusaha tidur lebih cepat untuk mempersiapkan diri ku besok.

#saat itu didalam apartemen CL#

Telepon genggam CL terus berdering berkali-kali, disaat yang bersamaan CL sedang tertidur dengan lelapnya. Pada saat deringan yang kedelapan CL pun bangun dan segera melihat layar telepon genggamnya. Dia heran saat melihat nama yang ada dilayar teleponnya, “Seung Ri? Ada apa dia telepon malam-malam begini?”
Belum sempat CL menelepon balik Seung Ri, Seung Ri pun kembali menelepon CL dan CL pun menjawab teleponnya sambil terkantuk-kantuk.
“Annyong-haseyo?”
“CL? Kau ada dimana?”, tanya Seung Ri dengan terburu-buru.
Seung Ri bila kau cuma ingin mengajak ku bercanda ini bukan saat yang tepat! Apakah kau tak tahu jam berapa ini Seung Ri?”,keluh CL dengan kesal.
“Aku tahu CL, aku kira kau sedang bersama Taeyang sekarang?”
“Oppa? Ada apa Seung Ri?”, tanya CL dengan rasa penasaran.
“Kwaench’anayo CL.”,elak Seung Ri pada CL.
“Katakan pada ku yang sejujurnya Seung Ri!”,tuntut CL pada Seung Ri.
“Maaf kan aku, aku tidak bermaksud merusak hubungan mu dengan Taeyang, tetapi barusan aku melihatnya dengan seorang wanita ditempat kerja ku, aku pikir itu kau CL?”,jawab Seung Ri dengan menyesal.
Lama sekali CL terdiam diteleponnya sampai-sampai Seung Ri juga ikut terdiam. Entah sudah berapa lama kediaman yang terjadi didalam telepon sampai tiba saatnya CL berkata,
“Aku yakin itu bukan oppa, dia sedang ada rapat dengan pemegang saham, aku kira kau salah melihat orang Seung Ri.”, elak CL dengan rasa percaya diri yang dipaksakan.
“CL…”, Seung Ri pun tidak bisa berkata apa-apa lagi dia hanya terdiam.
Sesaat terdengar suara isakan tangis yang pelan dari CL. Seung Ri tahu CL sedang bersedih akhirnya dia pun mencoba memutuskan sambungan teleponnya dengan CL dengan sopan, “Maaf CL aku harus melanjutkan pekerjaan ku, Annyong.”
Tanpa berkata-kata lagi Seung Ri langsung memutuskan sambungan teleponnya dengan CL.
CL pun hanya bisa menangis didalam apartemennya dengan perasaan tidak percaya atas cerita yang diceritakan Seung Ri. Dengan perasaan yang tidak menentu CL pun memaksakan dirinya untuk tidak mempercayai cerita Seung Ri. Karena dia percaya Taeyang yang dia cintai tidak seperti itu. Dengan rasa penasaran CL pun akhirnya mencoba menelepon ke ponsel Taeyang tapi setelah ditelepon beberapa kali teleponnya tidak kunjung diangkat. Setelah dia menenangkan diri, CL pun melanjutkan tidurnya dengan gelisah.

#Keesokan paginya di apartemen G Dragon#

Pagi ini aku terbangun lebih awal, sebagian diri ku gelisah dengan apa yang telah aku alami kemarin dan sebagian lagi merasa bahwa aku ini seorang pecundang besar yang payah.
Seperti biasa aku hanya sarapan dengan semangkuk sereal dan bergegas meninggalkan apartemen untuk bertemu CL dibawah. Saat aku tiba dibawah ternyata CL sudah ada lebih dahulu dibawah. Aku hanya tersenyum dan menghampirinya.
“Annyeonghi Jumusyeotseumnikka?”, tanya CL dengan nada ceria seperti biasanya. Tetapi aku merasa sapaannya kali ini terasa dipaksakan, atau itu cuma pendapat ku saja, aku tidak tahu?
“Pagi CL, hanya sedikit kecapekan dengan pekerjaan paruh waktu ku.”
“ Apa  yang terjadi pada mu GD? Luka apa ini?”, CL menyentuh luka memar ku dengan halus. Sontak disaat yang bersamaan aku sedikit meringis karena masih mengalami sedikit rasa sakit. “Aaa~ aku tidak apa-apa CL, hanya kecerobohan ku saja ditempat kerja”,dusta ku pada CL.
“Lain kali kau harus lebih berhati-hati lagi ya GD?”, pintanya sambil mengusap-usap halus rambut ku.
Aku hanya tersenyum mengiyakan. Lalu kami pun berjalan bersama menuju halte bus untuk pergi kekampus.
Disepanjang jalan CL lebih banyak mendominasi percakapan, dia menceritakan tentang beberapa hasil lukisan muralnya yang akan dipamerkan dibalai kota pada akhir pekan ini, lalu tugas dan teman-teman kuliahnya dan sampai pada akhirnya dia bercerita tentang si b******k itu.
Ditengah cerita mengenai Taeyang raut wajah CL tampak begitu sedih tetapi rasa sedih itu berusaha dia tahan.
“GD?”, tiba-tiba CL memandang ku dengan raut wajah yang seakan ingin menahan tangis. Karena tidak kuasa melihat kegundahannya aku pun mencoba merangkul CL kedalam pelukan ku. Dia pun memendamkan wajahnya ke bahu ku, lalu ia pun menceritakan kerisahan hatinya pada ku.
“Aku mendengar kabar yang tidak enak untuk ku dengar, Seung Ri menelepon ku  tadi malam, dia berkata bahwa dia telah melihat oppa bersama wanita lain ditempat hiburan malam, mereka kelihatan mesra sekali…”, mendadak cerita CL terhenti dan setetes air mata CL telah membasahi bahu ku.
Yang bisa ku lakukan hanyalah menenangkan dirinya, aku takut bila aku bilang juga padanya tentang Taeyang dia akan lebih kalut.
“CL-sshi sudahlah kuasai diri mu.”
“Tidak GD, aku yakin yang dilihat Seung Ri bukanlah oppa melainkan orang lain aku sangat yakin.”, ucapnya dengan penuh percaya diri. “Oppa tidak mungkin seperti itu, dia orang yang baik-baik dan dia hanya akan selalu mencintai ku, benarkan GD?”, mendadak CL pun menatap ku dan menghapus air mata yang sempat membasahi wajahnya.
Saat dia menatap ku dengan mata polosnya seketika itu juga amarah ku memuncak, aku cengkram erat bahu CL dan menatap matanya dalam-dalam.
“Cukup CL-sshi! Aku muak melihat mu seperti ini! Sudah tolong hentikan! Setiap kali kau membicarakan si b******k itu aku selalu menahan amarah ku, tetapi untuk kali ini tidak!”, ku tatap lagi wajah CL yang terlihat kebingungan, “Mulai saat ini kau berpikirlah secara positif, si b******k itu tidak pantas untuk mu! Perhatikan disekeliling mu, banyak orang yang sangat mencintai mu dan rela mempertaruhkan hidupnya demi melihat mu selalu tersenyum dan selalu bahagia.”
“Kau? Kau bicara apa GD? Apa maksud mu? Aku benar-benar mencintai oppa, itu hanya gossip belaka, sudah lupakan kejadian yang tadi GD, kumohon?”
“Apa kata mu? Cinta? Apakah kau yakin si b******k itu juga benar-benar mencintai mu, bukannya hanya memanfaatkan mu?”
“Cukup GD! Aku benci pada mu!”, CL pun menghentikan bus lalu segera bergegas turun sementara aku hanya bisa menahan marah ku terhadap si b******k itu.
Tanpa sadar air mata ku menetes dari sudut mata ku, mata ku mulai memerah dan terasa perih tetapi perih mata ku tidaklah seperih hati ku yang memang sudah perih menjadi lebih perih lagi mendengar pernyataan CL tadi. Aku benar-benar mengutuk si b******k itu karena telah melukai hati wanita yang sudah lama ku cintai.

#To Be Continue