Bab. Ii
MANUSIA DAN KEBUDAYAAN
A.
MANUSIA
Dalam
ilmu eksakta manusia terbagi atas tujuh dasar ilmu, yaitu:
- Ilmu Kimia: adalah kumpulan
dari partikel-partikel atom yang membentuk jaringan-jaringan system yang
dimilikioleh manusia.
- Ilmu Fisika: adalah kumpulan dari berbagai system
fisik yang saling terkait antara satu dengan yang lain dan kumpulan dari
energi.
- Ilmu Biologi: adalah
makhluk biologis yang tergolong dalam kelompok mamalia.
- Ilmu Ekonomi: adalah makhluk yang selalu ingin
memperoleh keuntungan, selalu memperhitungkan setiap kegiatan (homo
economicus).
- Ilmu Sosiologi: adalah makhluk social yang tidak dapat
berdiri sendiri.
- Ilmu Politik: adalah makhluk yang selalu ingin
mempunyai kekuasaan.
- Ilmu Filsafat: adalah makhluk yang berbudaya (homo-humanus).
Bila
dilihat dari unsure-unsur yang membangun manusia, manusia terbagi atas dua
pandangan, yaitu:
- Manusia
terdiri dari empat unsur yang
saling terkait, yaitu:
X
Jasad: badan kasar manusia yang tampak pada luar diri
manusia, dapat disentuh dan dirasa.
X
Hayat: unsur
manusia yang memiliki kehidupan, dapat membuat manusia hidup dan merasakan
segala aspek dari sekitarnya.
X
Ruh: anugrah Tuhan yang dapat menghidupkan manusia dan
berkaitan dengan ilmu spiritual manusia itu sendiri.
X
Nafs: kesadaran
akan diri manusia itu sendiri.
- Manusia
sebagai suatu kepribadian ada tiga unsur, yaitu:
X
Id: kepribadian yang tidak tampak, enegri psikis yang
menunjukan energi alami yang irrasional secara instingual membentuk
proses-proses ketidak sadaran manusia,
berhubungan dengan lingkungan luar diri , disaat yang bnersamaan terkait
dengan struktur lain kepribadian yang pada saatnya menjadi mediator antara insting Id dengan dunia luar.
X
Ego: sering
disebut sebagai kepribadian “eksekutif” karena peranannya sebagai perantara Id
kedalam lingkungan social yang dapat dimengerti orang lain, diatur oleh unsur
realitas.
X
Superego: terbentuk
dari lingkungan eksternal (dalam), jadi maksudnya adalah kesatuan
standar-standar moral yang diterima oleh ego dari sejumlah unsure yang mempunyai
otoritas dalam lingkungan luar diri, merupakan asimilasi dari
pandangan-pandangan orang tua dan mulai terjadi pada manusia pada saat
berumur kurang-lebih usia lima tahun.
Hakekat manusia
A.
Manusia
ciptaan Tuhan yang terdiri dari tubuh dan jiwa sebagai satu kesatuan yang utuh.
Tubuh
adalah icon yang dapat dilihat, diraba, dirasa, memiliki wujud yang konkrit
tetapi memiliki batasan umur tertentu (tidak abadi). Jika manusia itu meninggal bentuk fisik
manusia tersebut akan hancur tetapi jiwanya tidak akan hancur seperti tubuhnya
dan kjiwa itu akan kembali keasalnya yaitu Tuhan yang telah menciptakan
manusia. Jiwa adalah aspek yang ada didalam tubuh manusia yang menggerakkan
manusia dan sebagai sumber kehidupan manusia.
B.
Makhluk
ciptaan Tuhan yang paling sempurna.
Manusia
dilengkapi oleh penciptaNya dengan akal (ratio). Manusia dapat mencitakan ilmu
teknologi . Manusia dapat memnedakan hal
baik dan buruk yang dapat menentukan jalan hidupnya kelak. Daya rasa pada diri
manusia ada dua macam, yaitu:
X
Inderawi: adalah perasaan dimana manusia mengalami rangsangan
melalui pancaindra tetapi tingkatan rangsangan yang dialaminya adalah rendah.
X
Rohani: adalah perasaan yang secara turun temuurun
dirasakan oleh manusia melalui pandangan leluhur, dimana perasaan-perasaan
tersebut terbagi atas:
Y
Intelektual: perasaan yang menyangkut keingin tahuan manusia
yang membentuk pandangan keingintahuan pada diri manusia.
Y
Estetis: perasaan
yang berhubungan dengan felling manusia yang berhubungan dengan kebaikan dan keburukan.
Y
Diri: perasaan
yang menyangkut tentang harga diri manusia yang menentukan dirinya dikalangan
masyarakat.
Y
Sosial: perasaan
yang berhubungan tentang sikap simpati dan empati terhadap lingkungan sekitar
sehinggah mendorong manusia untuk peduli terhadap apa yang terjadi dilingkungan
sekitarnya.
Y
Religius: perasaan
yang menyangkut agama dan apa yang dia percaya sebagai pandangan atas jalan
hidupnya.
C. Makhluk biokultural.
Manusia
adalah hasil dari sebuah produk dari interakdi faktor-faktor hayati dengan factor budayawi. Secara faktor hayati
manusia terdapat dari segi anatomi, psikobiologi, biokimia, genatika, dll.
Sebaliknya bila secara budayawi manusia
dari hasil psikologi social, kekerabatan, kesenian, ekonomi, dll.
D.
Makhluk ciptaan Tuhan yang terkait dengan lingkungan (Ekologi).
Manusia
menurut konteks kehidupan konkrit adalah
makhluk alamiyah yang berkaitan dengan lingkungan yang memiliki sifat
alamiah serta tunduk kepada hokum alamiah. (Denmark – Soren Kienkegaard; pelopor ajaran “eksistensialisme”.)
Manusia mempunyai tiga taraf
hidup, yaitu: estensis, etis, dan
religius.
b.
kebudayaan.
Cultural
Determinism adalah segala sesuatu yang ada pada manusia didalam kehidupan
masyarakat ditentukan adanya kebudayaan yang dimiliki masyarakat itu sendiri (Bronislaw Malinowski – antropolog.) Kebudayaan sebagai suatu superorganic ,
kebudayaan disalurkan secara turun-temurun dari generasi ke generasi hidup
terus (Melville J. Herkovist – antropolog.)
Kebudayaan
bila dari bahasa sansakerta adalah, budhayah
(budi dan akal). Dalam bahasa latin
budaya adalah, colere (mengolah
tanah). Bila secara umum kebudayaan
adalah segala sesuatu yang dihasilkan melalui akal pikiran dan budi untujk
mengolah apa yang ada dilingkungan sekitarnya.
Secara umum budaya adalah himpunan pengalaman yang dipelajari , pola
perilaku yang diturunkan secara turun-temurun yang disalurkan secara social
yang lebih spesifik melalui kelompok social tertentu/khusus
1.
Unsur-unsur
Kebudayaan.
Tujuh
budaya universal:
X
Kepercayaan: manusia sebagai homo religius, memiliki
pikiran dan perasaan leluhur, percaya bahwa segala sesuatu yang dia kehendaki
atas izin dari Tuhan karena itu manusia takut dan menyembahNya sehingga lahir sebuah kepercayaan yang
sekarang sebagai agama.
X
Organisasi
Masyarakat: manusia saling bekerja sama untuk
meningkatkan kesejahteraan hidupnya.
X
Ekonomi:
meningkatkan tingkat kehidupan secara terus menerus meningkat.
X
Teknologi: bersumber
pada pemikiran manusia akan pencitaan alat-alat sebagai penunjang hidupnya.
X
Bahasa: pada
mulanya berupa tanda yang kemudian disempurnakan dalam bentuk lisan akhirnya
menjadi bentuk bahasa tulisan.
X
Kesenian: setelah
semua kebutuhan manusia terpenuhi manusia mencari hiburan untuk mengurai
kepenatannya dari sebuah seni dan akhirnya seni inipun diwariskan secara
turun-temurun kepada generasinya.
2.
Wujud
Kebudayaan:
Tiga
dimensi wujud kebudayaan:
X
Kompleks
gagasan, konsep, dan pikiran manusia
X
Kompleks
Aktivitas
X
Wujud
Sebagai Benda
3.
Orientasi
Nilai Budaya:
X
Hidup
Manusia: hidup itu bisa
menjadi buruk, hidup itu bisa menjadi baik tergantung seberapa besar rasa
percaya manusia terhadap kepercayaan yang diakuinya dan seberapa besar usaha
yang telah dilakukan.
X
Karya
Manusia: karya itu untuk
menafkahi hidup, mendudukian kehormatan, untuk pandanan didalam lingkungan
masyarakat.
X
Waktu
Manusia: manusia akan selalu berorintasi kemasa depan
dan masa lalu untuk memperbaiki langkah hidupnya.
X
Alam
Manusia: manusia behasrat
menundukan alam tetapi disisi lain alam adalah penunjang hidup manusia dan itu
sebabnya manusia dan alam harus saling hidup selaras agar tidak ada yang saling
dirugikan.
X
Hubungan
Manusia: rasa ketergantungan
terhadap sesamanya, terhadap tojoh atasan, yang menampilkan individualisme
menjadi tolak ukur yang tinggi demi kepentingan sendiri.
4.
Perubahan
Kebudayaan:
Factor
perubahan ini terjadi bukan halnya karena jumlah penduduk dan komposisinya
tetapi karena adanya difusi kebudayaan dan penemuan-penemuan baru. Terjadinya
perubahan disebabkan karena:
X
Berasal dari
kebudayaan dan masyarakatnya sendiri. (eks; jumlah komposisi penduduk)
X
Perubahan
alam-alam fisik tempat masyarakat hidup.
Perubahan
kebudayaan adalah perubahan yang terjadi pada system ide yang dimiliki bersama
pada sejumlah masyarakat yang bersangkutan. Masalah-masalah yang menyangkut
perubahan kebudayaan, yaitu:
X
Unsur-unsur
kebudayaan asing yang mudah diterima.
X
Unsur-unsur
kebudayaan asing yang sulit diterima.
X
Individu-individu
yang cepat menerima kebudayaan baru.
X
Ketegangan-ketegangan
yang timbul akibat akulturasi.
Factor-faktor
yang mempengaruhi doterima atau tidaknya suatu kebudayaan, adalah:
X
Terbatasnya
masyarakat memiliki kontak dengan kebudayaan dan dari orang-orang yang berasal
dari luar lingkungan masyarakat tersebut.
X
Penerimaan
unsur baru mengalami hambatan dan harus disensor terlebih dahulu oleh berbagai
ilmu yang berlandaskan ilmu agama yang berlaku.
X
Corak
structural masyarakat yang menentukan proses penerimaan kebudayaan baru.
X
Diterima bila
sebelumnya adanya landasan yang dapat menerima kebudayaan tersebut.
X
Bila unsure
baru memiliki keterbatasan kegiatan dan dapat dengan mudah dibuktikan
kegunaannya oleh masyarakat yang bersangkutan.
c.
keterkaitan manusia
dan kebudayaan.
Manusia
dan kebudayaan dinilai sebagai dwitunggal, yaitu walaupun keduanya berbeda
tetapi keduanya merupakan kesatuan. Manusia menciptakan kebudayaan setelah
kebudayaan itu tercipta maka kebudayaan mengatur hidup manusia aga berpedoman
dengan kebudayaan. Hubungan manusia dan kebudayaan dipandang setara dengan hunungan
manusia dan masyarakat yang dinyatakan sebagai dialektis.
Proses
dialektis terbagi atas tiga tahap, yaitu:
X
Eksternalisasi: proses
manusia untuk mengekspresikan dirinya dengan membangun dunianya.
X
Obyektivasi: masyarakat
menjadi realitas objektif, yaitu suatu kegiatan yang terpisah dari manusia dan
berhadapan dengan manusia.
X
Internalisasi: masyarakat
disergap kembali oleh manusia, maksudnya adalah manusia mempelajari kembali
masyarakat sendiri agar dapat hidup dengan baik sehingga manusia menjadi
kenyataan yang dibentuk dimasyarakat.
Daftar pustaka:
- Asy’ arie, 1992
hal: 62-84
- Freud, dalam
Brennan,1991 hakl: 205-206
- Keesing, jilid 1,
1989;hal 68
- C. Kluckhohn;
Universal Categories of Culture.
- C. Kluckhohn;
Variations in Value Orientation, 1961
- Berger, dalam
terjemahan M. Sastrapratedja, 1991; hal: 15
Tidak ada komentar:
Posting Komentar