Selasa, 16 Oktober 2012

BAB. II - Manusia dan Kebudayaan.


Bab. Ii

MANUSIA DAN KEBUDAYAAN


A.  MANUSIA

Dalam ilmu eksakta manusia terbagi atas tujuh dasar ilmu, yaitu:
  1. Ilmu Kimia: adalah kumpulan dari partikel-partikel atom yang membentuk jaringan-jaringan system yang dimilikioleh manusia.
  2. Ilmu Fisika:  adalah kumpulan dari berbagai system fisik yang saling terkait antara satu dengan yang lain dan kumpulan dari energi.
  3. Ilmu Biologi:                adalah makhluk biologis yang tergolong dalam kelompok mamalia.
  4. Ilmu Ekonomi:  adalah makhluk yang selalu ingin memperoleh keuntungan, selalu memperhitungkan setiap kegiatan (homo economicus).
  5. Ilmu Sosiologi:  adalah makhluk social yang tidak dapat berdiri sendiri.
  6. Ilmu Politik:  adalah makhluk yang selalu ingin mempunyai kekuasaan.
  7. Ilmu Filsafat:  adalah makhluk yang berbudaya (homo-humanus).

Bila dilihat dari unsure-unsur yang membangun manusia, manusia terbagi atas dua pandangan, yaitu:

  1. Manusia terdiri dari empat unsur  yang saling terkait, yaitu:
X  Jasad:  badan kasar manusia yang tampak pada luar diri manusia, dapat disentuh dan dirasa.
X  Hayat:  unsur manusia yang memiliki kehidupan, dapat membuat manusia hidup dan merasakan segala aspek dari sekitarnya.
X  Ruh:  anugrah Tuhan yang dapat menghidupkan manusia dan berkaitan dengan ilmu spiritual manusia itu sendiri.
X  Nafs:  kesadaran akan diri manusia itu sendiri.


  1. Manusia sebagai suatu kepribadian ada tiga unsur, yaitu:

X  Id:  kepribadian yang tidak tampak, enegri psikis yang menunjukan energi alami yang irrasional secara instingual membentuk proses-proses ketidak sadaran manusia,  berhubungan dengan lingkungan luar diri , disaat yang bnersamaan terkait dengan struktur lain kepribadian yang pada saatnya menjadi mediator  antara insting Id dengan dunia luar.
X  Ego:  sering disebut sebagai kepribadian “eksekutif” karena peranannya sebagai perantara Id kedalam lingkungan social yang dapat dimengerti orang lain, diatur oleh unsur realitas.
X  Superego:  terbentuk dari lingkungan eksternal (dalam), jadi maksudnya adalah kesatuan standar-standar moral yang diterima oleh ego dari sejumlah unsure yang mempunyai otoritas dalam lingkungan luar diri, merupakan asimilasi dari pandangan-pandangan orang tua dan mulai terjadi pada manusia pada saat berumur  kurang-lebih usia lima tahun.



Hakekat manusia


A.  Manusia ciptaan Tuhan yang terdiri dari tubuh dan jiwa sebagai satu kesatuan yang utuh.

Tubuh adalah icon yang dapat dilihat, diraba, dirasa, memiliki wujud yang konkrit tetapi memiliki batasan umur tertentu (tidak abadi).  Jika manusia itu meninggal bentuk fisik manusia tersebut akan hancur tetapi jiwanya tidak akan hancur seperti tubuhnya dan kjiwa itu akan kembali keasalnya yaitu Tuhan yang telah menciptakan manusia. Jiwa adalah aspek yang ada didalam tubuh manusia yang menggerakkan manusia dan sebagai sumber kehidupan manusia.




B. Makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna.

Manusia dilengkapi oleh penciptaNya dengan akal (ratio). Manusia dapat mencitakan ilmu teknologi .  Manusia dapat memnedakan hal baik dan buruk yang dapat menentukan jalan hidupnya kelak. Daya rasa pada diri manusia ada dua macam, yaitu:

X  Inderawi:  adalah perasaan dimana manusia mengalami rangsangan melalui pancaindra tetapi tingkatan rangsangan yang dialaminya adalah rendah.
X  Rohani:  adalah perasaan yang secara turun temuurun dirasakan oleh manusia melalui pandangan leluhur, dimana perasaan-perasaan tersebut terbagi atas:

Y  Intelektual:  perasaan yang menyangkut keingin tahuan manusia yang membentuk pandangan keingintahuan pada diri manusia.
Y  Estetis:  perasaan yang berhubungan dengan felling manusia yang berhubungan dengan kebaikan dan keburukan.
Y  Diri:  perasaan yang menyangkut tentang harga diri manusia yang menentukan dirinya dikalangan masyarakat.
Y  Sosial:  perasaan yang berhubungan tentang sikap simpati dan empati terhadap lingkungan sekitar sehinggah mendorong manusia untuk peduli terhadap apa yang terjadi dilingkungan sekitarnya.
Y  Religius:  perasaan yang menyangkut agama dan apa yang dia percaya sebagai pandangan atas jalan hidupnya.



C.  Makhluk biokultural.

Manusia adalah hasil dari sebuah produk dari interakdi faktor-faktor hayati  dengan factor budayawi. Secara faktor hayati manusia terdapat dari segi anatomi, psikobiologi, biokimia, genatika, dll. Sebaliknya bila secara budayawi  manusia dari hasil psikologi social, kekerabatan, kesenian, ekonomi, dll.



D. Makhluk ciptaan Tuhan yang terkait dengan lingkungan (Ekologi).

Manusia menurut konteks kehidupan konkrit adalah  makhluk alamiyah yang berkaitan dengan lingkungan yang memiliki sifat alamiah serta tunduk kepada hokum alamiah. (Denmark – Soren Kienkegaard; pelopor ajaran “eksistensialisme”.)  Manusia mempunyai tiga taraf hidup, yaitu: estensis, etis, dan religius.



b. kebudayaan.

Cultural Determinism adalah segala sesuatu yang ada pada manusia didalam kehidupan masyarakat ditentukan adanya kebudayaan yang dimiliki masyarakat itu sendiri (Bronislaw Malinowski – antropolog.)  Kebudayaan sebagai suatu superorganic , kebudayaan disalurkan secara turun-temurun dari generasi ke generasi hidup terus (Melville J. Herkovist – antropolog.)
Kebudayaan bila dari bahasa sansakerta adalah, budhayah  (budi dan akal). Dalam bahasa latin budaya adalah, colere (mengolah tanah).  Bila secara umum kebudayaan adalah segala sesuatu yang dihasilkan melalui akal pikiran dan budi untujk mengolah apa yang ada dilingkungan sekitarnya.  Secara umum budaya adalah himpunan pengalaman yang dipelajari , pola perilaku yang diturunkan secara turun-temurun yang disalurkan secara social yang lebih spesifik melalui kelompok social tertentu/khusus


1.    Unsur-unsur Kebudayaan.

Tujuh budaya universal:
X  Kepercayaan:  manusia sebagai homo religius, memiliki pikiran dan perasaan leluhur, percaya bahwa segala sesuatu yang dia kehendaki atas izin dari Tuhan karena itu manusia takut dan menyembahNya  sehingga lahir sebuah kepercayaan yang sekarang sebagai agama.
X  Organisasi Masyarakat:  manusia saling bekerja sama untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya.
X  Ekonomi:  meningkatkan tingkat kehidupan secara terus menerus meningkat.
X  Teknologi:  bersumber pada pemikiran manusia akan pencitaan alat-alat sebagai penunjang hidupnya.
X  Bahasa:  pada mulanya berupa tanda yang kemudian disempurnakan dalam bentuk lisan akhirnya menjadi bentuk bahasa tulisan.
X  Kesenian:  setelah semua kebutuhan manusia terpenuhi manusia mencari hiburan untuk mengurai kepenatannya dari sebuah seni dan akhirnya seni inipun diwariskan secara turun-temurun kepada generasinya.

2.    Wujud Kebudayaan:

Tiga dimensi wujud kebudayaan:

X Kompleks gagasan, konsep, dan pikiran manusia
X Kompleks Aktivitas
X Wujud Sebagai Benda


3.    Orientasi Nilai Budaya:

Lima masalah pokok manusia:
X  Hidup Manusia: hidup itu bisa menjadi buruk, hidup itu bisa menjadi baik tergantung seberapa besar rasa percaya manusia terhadap kepercayaan yang diakuinya dan seberapa besar usaha yang telah dilakukan.

X  Karya Manusia: karya itu untuk menafkahi hidup, mendudukian kehormatan, untuk pandanan didalam lingkungan masyarakat.

X  Waktu Manusia:  manusia akan selalu berorintasi kemasa depan dan masa lalu untuk memperbaiki langkah hidupnya.

X  Alam Manusia: manusia behasrat menundukan alam tetapi disisi lain alam adalah penunjang hidup manusia dan itu sebabnya manusia dan alam harus saling hidup selaras agar tidak ada yang saling dirugikan.

X  Hubungan Manusia: rasa ketergantungan terhadap sesamanya, terhadap tojoh atasan, yang menampilkan individualisme menjadi tolak ukur yang tinggi demi kepentingan sendiri.



4.           Perubahan Kebudayaan:
Factor perubahan ini terjadi bukan halnya karena jumlah penduduk dan komposisinya tetapi karena adanya difusi kebudayaan dan penemuan-penemuan baru. Terjadinya perubahan disebabkan karena:

X  Berasal dari kebudayaan dan masyarakatnya sendiri. (eks; jumlah komposisi penduduk)
X  Perubahan alam-alam fisik tempat masyarakat hidup.

Perubahan kebudayaan adalah perubahan yang terjadi pada system ide yang dimiliki bersama pada sejumlah masyarakat yang bersangkutan. Masalah-masalah yang menyangkut perubahan kebudayaan, yaitu:
X  Unsur-unsur kebudayaan asing yang mudah diterima.
X  Unsur-unsur kebudayaan asing yang sulit diterima.
X  Individu-individu yang cepat menerima kebudayaan baru.
X  Ketegangan-ketegangan yang timbul akibat akulturasi.

Factor-faktor yang mempengaruhi doterima atau tidaknya suatu kebudayaan, adalah:
X  Terbatasnya masyarakat memiliki kontak dengan kebudayaan dan dari orang-orang yang berasal dari luar lingkungan masyarakat tersebut.
X  Penerimaan unsur baru mengalami hambatan dan harus disensor terlebih dahulu oleh berbagai ilmu yang berlandaskan ilmu agama yang berlaku.
X  Corak structural masyarakat yang menentukan proses penerimaan kebudayaan baru.
X  Diterima bila sebelumnya adanya landasan yang dapat menerima kebudayaan tersebut.
X  Bila unsure baru memiliki keterbatasan kegiatan dan dapat dengan mudah dibuktikan kegunaannya oleh masyarakat yang bersangkutan.


c. keterkaitan manusia dan kebudayaan.

Manusia dan kebudayaan dinilai sebagai dwitunggal, yaitu walaupun keduanya berbeda tetapi keduanya merupakan kesatuan. Manusia menciptakan kebudayaan setelah kebudayaan itu tercipta maka kebudayaan mengatur hidup manusia aga berpedoman dengan kebudayaan. Hubungan manusia dan kebudayaan dipandang setara dengan hunungan manusia dan masyarakat yang dinyatakan sebagai dialektis.
Proses dialektis terbagi atas tiga tahap, yaitu:
X  Eksternalisasi: proses manusia untuk mengekspresikan dirinya dengan membangun dunianya.
X  Obyektivasi:  masyarakat menjadi realitas objektif, yaitu suatu kegiatan yang terpisah dari manusia dan berhadapan dengan manusia.
X  Internalisasi:  masyarakat disergap kembali oleh manusia, maksudnya adalah manusia mempelajari kembali masyarakat sendiri agar dapat hidup dengan baik sehingga manusia menjadi kenyataan yang dibentuk dimasyarakat.



Daftar pustaka:

  1. Asy’ arie, 1992 hal:  62-84
  2. Freud, dalam Brennan,1991 hakl: 205-206
  3. Keesing, jilid 1, 1989;hal 68
  4. C. Kluckhohn; Universal Categories of Culture.
  5. C. Kluckhohn; Variations in Value Orientation, 1961
  6. Berger, dalam terjemahan M. Sastrapratedja, 1991; hal: 15

Tidak ada komentar:

Posting Komentar