Selasa, 07 April 2015

Psokoterapi (Tugas 1)



BAB-I
 
A. Pendekatan Psikoanalisa Di Dalam Psikoterapi
Psikoanalisa pertama kali diciptakan oleh sigmund freud (1856-1939). menurut freud pikiran-pikiran yang direpres atau ditekan, merupakan sumber perilaku yang tidak normal. kesadaran dan ketidaksadaran merupakan kunci dari teori ini. sebagian besar perilaku manusia didorong atau ditentukan oleh kekuatan atau kebutuhan yang tidak disadari, yaitu pengalaman masa lalu yang terpendam dalam ketidaksadaran.
Tujuan dari psikoterapi psikoanalisis adalah agar klien bisa menyadari apa yang sebelumnya tidak disadarinya. Klien perlu menggali bawah sadarnya untuk mendapatkan solusi. Beberapa metode psikoterapi yang termasuk dalam pendekatan psikoanalisis adalah: Asosiasi bebas, interpretasi atau penafsiran, analisis mimpi, analisis resistensi dan analisis transferensi.
Psikoterapi adalah teknik atau cara penyembuhan yang dilakukan untuk mengatasi gangguan psikologis atau keabnormalan seseorang yang dapat menyebabkan ketidakberfungsian pada diri individu tersebut. Psikoanalisis adalah pendekatan psikologis yang menitikberatkan pada masa lalu, ketidaksadaran, dan struktur kepribadian yang menurut Freud (tokoh psikoanalisis) adalah Id, Ego, Superego yang dapat mempengaruhi tingkah laku dan cara hidup seseorang.
Psikoterapi dengan pendekatan psikososial adalah terapi yang menggunakan pendekatan dengan cara memanggil ketidaksadaran atau alam bawah sadar seseorang untuk penyembuhan, yaitu dengan cara Asosiasi Bebas, analisis mimpi, penafsiran atau dengan hipnosis.



Teknik psikoterapi melalui pendekatan psikoanalisis adalah :
1.Asosiasi bebas :
Adalah suatu metode pemanggilan kembali pengalaman2 masa lalu & pelepasan emosi2 yg berkaitan dengan situasi2 traumatik di masa lalu
2.Penafsiran :
Adalah suatu prosedur dalam menganalisa asosiasi2 bebas, mimpi2, resistensi2 dan transferensi
3.Analisis Mimpi :
Suatu prosedur yg penting untuk menyingkap bahan2 yg tidak d     isadari dan memberikan kpd klien atas beberapa area masalah yg tak terselesaikan
4.Analisis dan Penafsiran Resistensi :
Ditujukan untuk membantu klien agar menyadari alasan2 yg ada dibalik resistensi sehingga dia biasa menanganinya.
5.Analisis & Penafsiran Transferensi :
Adalah teknik utama dalam Psikoanalisis krn mendorong klien untuk menghidupkan kembali masa lalu nya dalam terapi
6.Hipnotis :
Banyak digunakan oleh psikiater Perancis, dengan cara menghilangkan ingatan-ingatan pasien yang mengandung simptom-simptom, kemudian psikiater memberikan ingatan baru berupa sugesti-sugesti yang kuat, yang dapat memulihkan kesehatan pasien. Freud kurang tertarik dengan teknik ini, sebab tingkat keampuhannya diragukan.
Tujuan Psikoterapi dengan Pendekatan Psikoanalisis ialah membuat sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Membantu klien menghidupkan kembali pengalaman-pengalaman yang sudah lewat dan bekerja melalui konflik-konflik yang ditekan melalui pemahaman intelektual.


B. Pendekatan Psikologi Belajar Di Dalam Psikoterapi
Terapi perilaku (behavior therapy) dan pengubahan perilaku (behavior modification) atau pendekatan behavioristik dalam psikoterapi adalah salah satu dari beberapa ‘revolusi dalam dunia pengetahuan psikologi, khususnya psikoterap. Pendekatan behavioristik yang dewasa ini banyak dipergunakan dalam rangka melakukan kegiatan psikoterapi dalam arti luas atau konseling dalam arti sempitnya, bersumber pada aliran behaviorisme (dalam Gunarsa, 2007). Seseorang tumbuh menjadi seperti apa yang terbentuk oleh lingkungannya. Terapi ini membantu untuk merubah perilaku manusia yang kurang baik, yang terbentuk akibat lingkungan sekitar dari manusia tersebut.
Pendekatan ini menganggap bahwa perilaku manusia merupakan hasil belajar.  J.B Watson, adalah tokoh psikologi belajar yang menyatakan bahwa perilaku bisa dihambat atau ditimbulkan dengan memberi reinforcement (ganjaran) yang positif (untuk mendorong) atau negatif (menghambat). Teknik ini digunakan untuk mengatasi phobia, caranya adalah mendekatkan benda yang ditakuti itu dengan hal-hal yang menyenangkan klien sehingga timbul hubungan positif antara benda yang ditakuti dengan hal yang menyenangkan  dan lama kelamaan fobia bisa hilang. Dua konsep penting dalam psikologi belajar, yaitu pengondisian klasik dari Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936) dan pengondisian operan dari Burrhus Frederick Skinner (1904-1990). Pemikiran kedua tokoh ini membantu dalam memahami proses induksi (proses pengantar klien sampai tidur hipnotik) dan sugesti posthipnotik (sugesti yang diberikan selama trans). Kelemahan teknik ini adalah sewaktu-waktu bisa timbul kembali kalau trauma (peristiwa yang tidak dikehendaki), atau jika persoalan intinya belum terpecahkan bisa muncul dalam gejala atau keluhan lain).


C. Pendekatan Psikologi Humanistik Di Dalam Psikoterapi
Pendekatan ini disebut juga dengan client centered therapy. Teknik ini dianjurkan oleh Carl Rogers, yang beranggapan bahwa semua orang punya aspek positif di dalam dirinya. Psikoterapis bertugas membantu klien menelusuri potensi positif di dalam dirinya, agar dia bisa mengembangkan dirinya secara positif dan meninggalkan gejala-gejal gangguan mentalnya.
Menurut Rogers, setiap orang punya dorongan untuk memandang dirinya secara positif, dan juga menekankan  pentingnya penerimaan positif tanpa syarat dalam proses terapeutik, klien harus diterima apa adanya tanpa syarat dan penilaian. Psikologi humanistik berfokus pada pada sisi sehat kepribadian manusia dengan mengembangkan penerimaan positif tanpa syarat dan empati.
Abraham Maslow dapat dipandang sebagai bapak dari psikologi Humanistik. Psikologi humanistik mengarahkan perhatiannya pada humanisasi psikologi yang menekankan keunikan manusia. Menurut psikologi humanistik, manusia adalah makhluk kreatif yang dikendalikan oleh nilai-nilai dan pilihan-pilihannya sendiri bukan oleh kekuatan-kekuatan ketidaksadaran (dalam Heru Basuki, 2008).
Pendekatan Humanistic Therapy menganggap bahwa setiap manusia itu unik dan setiap manusia sebenarnya mampu menyelesaikan masalahnya sendiri. Setiap manusia dengan keunikannya bebas menentukan pilihan hidupnya sendiri. Oleh karena itu, dalam terapi humanistik, seorang psikoterapis berperan sebagai fasilitator perubahan saja, bukan mengarahkan perubahan. Psikoterapis tidak mencoba untuk mempengaruhi klien, melainkan memberi kesempatan klien untuk memunculkan kesadaran dan berubah atas dasar kesadarannya sendiri.


D. Pendekatan Psikologi Kognitif Di Dalam Psikoterapi
Lingkungan  sangat potesial menyebabkan seseorang mengembangkan kepercayaan negative dalam melihat berbagai kejadian. Dalam pendekatan ini, semua emosi negative terhadapa sesuatu benda atau hal tertentu, dibahas tuntas secara rasional, sampai akhirnya klien tidak lagi melihat alasan mengapa ia harus beremosi negative dan mengubah perilakunya menjadi lebih positif. Orientasi utama psikologi kognitif adalah bagaimana seseorang berpikir dan merasa di saat ini. Terapis dengan pendekatan kognitif mengajar pasien atau klien agar berpikir lebih realistik dan sesuai sehingga dengan demikian akan menghilangkan atau mengurangi gejala yang berkelainan.
Terapi kognitif adalah terapi yang mempergunakan pendekatan terstruktur, aktif, direktif, dan berjangka waktu singkat, untuk menghadapi berbagai hambatan dalam kepribadian. Tokoh dari terapi kognitif adalah Aaorn Beck seorang psikiater dengan latar belakang psikoanalisis dari University of Pennsylvania, dimana ia memimpin Center for Cognitive Therapy. Terapi ini didasarkan pada teori bahwa afek dan tindakan seseorang, sebagian besar ditentukan oleh bagaimana seseorang tersebut membentuk dunianya. Pikiran seseorang memberikan gambaran tentang rangkaian kejadian di dalam kesadarannya. Gejala perilaku yang berkelainan atau menyimpanng, berhubungan erat dengan isi pikiran. Terapi kognitif dipergunakan untuk mengidentifikasi, memperbaiki gejala perilaku, dan fungsi kognisi yang terhambat, yang mendasari aspek kognitifnya yang ada.


BAB II : (Contoh Kasus)

A.   Psikodinamik
Klien  adalah seseorang yang memiliki trauma masa lalu. Klien pernah mengalami trauma diperkosa oleh pamannya sehingga klien sangat membenci pamannya dan berusaha melupakan kejadian tersebut. Pada saat terapi, terapis mencoba menggali lebih dalam informasi dari klien dengan membuat klien mengingat kembali kejadian tersebut sehingga dapat memancing emosi klien, maka klien diberikan katarsis (pelampiasan). Pada saat menjalankan terapi klien ditempatkan disebuah ruangan dimana klien dapat mengekspresikan kemarahannya seperti berteriak sekeras-kerasnya didalam ruangan dan melakukan katarsis atau meninju boneka (benda yang dijadikan katarsis). Contoh tersebut merupakan contoh kasus dari asosiasi bebas dimana klien dibiarkan untuk memunculkan ketidaksadarannya. Hal ini juga berkaitan dengan proses katarsis.


B.   Behavioristik
Kasus di atas bisa ditangani dengan pendekatan behavioristic karena dalam pendekatan tersebut, perilaku manusia adalah hasil dari belajar, maka klien takut rambutan tersebut belajar untuk tidak takut dengan rambutan dengan cara memberi sugesti positif kepada klien bahwa rambutan bukanlah sesuatu yang menyeramkan dan menakutkan. Klien ditunjukkan gambar rambutan dari jarak yang jauh, meskipun klien terlihat cemas, terapis berusaha menenangkan dan tetap memberi sugesti positif hingga gambar tersebut berada sangat dekat dengan klien. Ketika klien sudah tidak merasa cemas dengan gambar tersebut, maka mulai diperlihatkan wujud asli buah rambutan hingga klien berani menyentuh buah rambutan tersebut.


C.   Humanistik
Klien bernama Leon seorang mahasiswa, mungkin melihat dirinya sebagai dokter masa depan, tetapi nilainya yang dikeluarkan dari sekolah kedokteran ternyata dibawah rata-rata. Perbedaan antara konsep dirinya dengan ideal konsep dirinya dan realitas kinerja kademis yang buruk dapat menyebabkan kegelisahan dan kerentanan pribadi, yang dapat memberikan motivasi yang diperlukan untuk masuk terapi. Leon harus melihat bahwa ada masalah atau, setidaknya bahwa ia tidak cukup nyaman untuk menghadapi penyesuaian psikologis untuk mengeksplorasi kemungkinan untuk perubahan. Konseling berlangsung, klien dapat mengeksplorasi lebih luas keyakinannya dan perasaannya. Ia dapat mengekspresikan ketakutannya, rasa bersalah, kecemasan, malu, kebencian, kemarahan, dsb. Emosi diangap terlalu negatif untuk menerima dan memasukkan ke dalam dirinya. Dengan terapi, orang disortir kurang dan pindah ke penerimaan yang lebih besar dan integrasi perasaan yang saling bertentangan dan membingungkan. Ia semakin menemukan aspek dalam dirinya yang telah disimpan.
Sebagai klien ia merasa dimengerti dan diterima, ia menjadi kurang defensif dan menjadi lebih terbuka terhadap pengalamannya. Karena mereka merasa lebih aman dan kurang rentan, ia menjadi lebih realistis, menganggap orang lain dengan akurasi yang lebih besar, dan menjadi lebih mampu untuk memahami dan menerima orang lain. Individu dalam terapi datang untuk menghargai dirinya secara lebih dan perilakunya menjukkan lebih banyak fleksibilitas dan kreativitas. Ia menjadi kurang peduli tentang memenuhi harapan orang lain, dan dengan demikian mulai berperilaku dengan cara yang lebih benar untuk diri sendiri. Dapat lebih bebas untuk membuat keputusan, dan semakin percaya diri masuk untuk mengelola kehidupan ia sendiri.
Dari contoh kasus Leon dapat diambil kesimpulan bahwa salah satu alasan klien mencari terapia dalah perasaan tidak berdaya dan ketidakmampuan untuk membuat keputusan atau secara efektif mengarahkan hidupnya sendiri. Mereka mungkin berharap untuk menemukan “jalan” melalui bimbingan terapis. Dalam kerangka orang terpusat, namun klien segera belajar bahwa mereka dapat belajar menjadi lebih bebas dengan menggunakan hubungan untuk mendapatkan diri yang lebih besar dari pemahaman.


D.   Kognitif
Terapi dengan pendekatan psikologi koginif cenderung untuk mengubah pikiran-pikiran yang salah, yang cenderung menimbulkan masalah. Klien itu memiliki pikiran yang salah mengenai belajar, sehingga menimbulkan masalah baru terhadap kehidupannya. Maka dari itu terapi ini sangat baik untuk menangani kasus diatas.



BAB III : (Pandangan Individu)


A.     Psikodinamik :
Menurut saya, pada contoh kasus psikodinamika, sudah tepat ditangani dengan pendekatan tersebut, karena klien di pancing untuk mengeluarkan emosinya sehingga traumanya dapat dikeluarkan dan tidak terpendam lagi di dalam dirinya. Secara kasus di atas bisa ditangani dengan pendekatan psikodinamik karena dalam pendekatan tersebut, manusia ditentukan oleh kekuatan psikis di masa lalunya, sehingga perilaku saat ini merupakan dorongan atau konflik dari masa lalu. Maka dari itu, terapis perlu mengetahui sumber awal masalahnya, yaitu dengan cara teknik asosiasi bebas, sehingga klien dapat mengungkapkan konflik masa lalunya yang berasal dari alam bawah sadar yang direpresi secara secara tidak sadar. Setelah asosiasi bebas, klien diharapkan dapat mengeluarkan isi hati yang mengganjal dan merasa lega.


B.     Behavioristik :
Kasus di atas bisa ditangani dengan pendekatan behavioristic karena dalam pendekatan tersebut, perilaku manusia adalah hasil dari belajar, maka klien takut rambutan tersebut belajar untuk tidak takut dengan rambutan dengan cara memberi sugesti positif kepada klien bahwa rambutan bukanlah sesuatu yang menyeramkan dan menakutkan. Klien ditunjukkan gambar rambutan dari jarak yang jauh, meskipun klien terlihat cemas, terapis berusaha menenangkan dan tetap memberi sugesti positif hingga gambar tersebut berada sangat dekat dengan klien. Ketika klien sudah tidak merasa cemas dengan gambar tersebut, maka mulai diperlihatkan wujud asli buah rambutan hingga klien berani menyentuh buah rambutan tersebut.
Jadi menurut saya, pada contoh kasus behavioristik, sudah tepat jika menggunakan pendekatan behavirostik. Karna tujuan ibu adalah hasil dari perubahan tingkah laku dimana diterapkan reinforcement yang merupakan bagian dari pendekatan behavirostik. Pemberian reinforcement sangat tepat untuk mengubah perilaku seseorang karna adanya stimulus yang diberikan agar respon yang diberikan sesuai dengan perilaku yang diharapkan.

C.     Humanistik :
Menurut saya, contoh kasus ketiga tepat jika menggunakan pendekatan humanistik. Karena humanistik bersifat menyelesaikan masalah saat ini, dan pendekatan humanistik tepat diberikan kepada klien yang mengalami kecemasan, ketakutan, rasa bersalah,dan malu terhadap masalah yang sedang dihadapi. Dalam pendekatan humanistik terapis memberika masukkan yang sesuai dengan keadaan klien pada saat ini, mendengarkan dengan baik atas setiap keluahan dari klien sehingga klien merasa diterima dan di menggerti.


D.     Kognitif :
Kasus di atas bisa ditangani dengan pendekatan kognitif, karena dalam pendekatan tersebut, hal atau kepercayaan negatif yang ada di dalam pikiran atau kognitif kita, dibahas tuntas sehingga klien berpikir mengapa ia harus beremosi negative, dan peralahan mengubah pikiran dan perilakunya menjadi emosi dan perilaku yang positif.
 


Daftar Pustaka :
Corsini, R.J. & Wedding, D. (2011). Current Psychotherapies. Ed. 9. Belmont: Brooks/Cole.
Supriyadi T, Indrawati E. (2005). Psikologi Konseling.  Semarang: Antari Cipta Sejati.
Lesmana, J. Murad. 2006. Dasar-dasar Konseling. Jakarta: UI Press.
Mappiare, Andi. (1992). Pengantar konseling dan psikoterapi. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.
Gunarsa, S. D. (2007). Konseling dan psikoterapi. Jakarta: BPK Gunung Muia
Heru Basuki, A.M. (2008). Psikologi umum. Jakarta: Gunadama