“Geu xx naega motan ge mwoya…
Dodaeche wae naneun gajil su eomneun geoya…
Geu xx neoreul saranghaneun ge anya…
Eonjekkaji babogachi ulgoman isseul goya…”
Aku biarkan CL yang tengah mabuk
menangis dibahu ku. Dia masih shock saat dia melihat sendiri pacar yang dia
cintai secara terang-terangan berpaling kelain hati didepan matanya sendiri.
Terlebih lagi kejadian itu diketahui oleh semua teman-temannya, aku tahu
bagaimana rasanya itu, itu sungguh memalukan. Selama diperjalanan menuju
apartemen kami CL hanya terdiam sambil terus menangis. Aku tidak bisa berbuat
apa-apa selain merangkulnya dalam pelukan ku.
Sesampainya kami didepan
apartemen kami, aku memapah CL yang masih dalam keadaan mabuk berat, aku
berikan beberapa lembar uang kepada supir taxi saat hendak menutup kembali
pintu taxi.
“Ambil saja kembaliannya.”,
“Terima kasih, Tuan.”, supit
taxi itu pun langsung pergi meninggalkan kami.
Aku papah CL sampai kedepan lift
dan akhirnya kami sampai didepan kamar CL. Aku mengambil kunci kamar CL yang
ada didalam tasnya. Aku masukkan kunci itu kedalam lubang kunci kamar CL, lalu
mendorong tuas pintu agar pintu terbuka kearah dalam. Aku pun menaruh CL diatas
tempat tidurnya, membukakan sepatu haknya, membersihkan make up yang menempel
diwajah cantiknya, lalu menyelimutinya agar dia bisa tertidur pulas.
Saat aku hendak meninggalkan CL
dari kamarnya, mendadak CL menarik pergelangan tangan ku lalu dia terbangun
dengan raut wajah yang kacau.
“Temani aku untuk malam ini
saja? Kumohon GD?”, pintanya sambil meneteskan air mata kesedihan.
“Baiklah.” Aku pun tidur
disampingnya untuk menemaninya, ku rangkul dia lalu membiarkannya menangis
sepuas hati.
Di tengah isak tangisnya, dia
menarik kerah baju ku lalu berkata, “Aku benar-benar tidak menyangka oppa
seperti itu GD, aku benar-benar kecewa GD, aku tidak tahu harus berbuat apa?
Aku bingung GD?”, keluhnya dalam isak tangisnya.
“Ssssst~ sudahlah CL, sudah
cukup, sekarang kalu kelelahan, itu hanya halusinasi saja dari efek mabuk yang
kau rasakan, sudahlah, sudah, sekarang kau tidur.”, bujuk ku agar CL tidak
menangis lagi.
“Tidak, dia benar-benar oppa,
GD!”, tuntut CL.
“Sudah, sudah, sekarang kau
tidur saja CL, every thing gone be alright.”
Aku pun langsung mendendangkan
lagu Lonely dari 2ne1, girlband favorite CL untuk mememaninya tidur, dan tidak
lama berselang CL pun tertidur. Sampai ku rasa CL sudah terlelap tidur dan
tidak akan terbangun bila aku pindah posisi, aku pun bangun untuk pindah ke
sofa lalu tertidur disana.
Tanpa aku sadari matahari pagi
sudah menyinari jendela besar dikamar CL. Rupanya aku semalaman tertidur di
apartemen CL, ku pun bangun dan mencoba merenggangkan otot-otot ku. Aku
merasakan sakit dibeberapa titik, mungkin ini efek dari tertidur disofa
semalaman suntuk. Saat aku merentangkan dan mencoba melemaskan otot – otot ku
yang kaku, aku melihat sekeliling. Aku baru menyadari bahwa CL tidak ada
dikamarnya, mendadak aku dilanda kepanikan, aku takut terjadi apa – apa dengan
CL. Aku pun segera beranjak meninggalkan kamar CL tetapi mendadak langkah ku
terhenti saat aku mendengar suara rebut – rebut dari arah dapur. Sontak aku pun
menghampiri asal suara tersebut. Saat aku tiba didapur aku melihat CL yang
tengah sibuk menyiapkan sarapan, dia juga tidak menyadari kehadiran ku didapur.
Maka aku pun hanya memperhatikannya didekat kulkas sambil aku bersender ke
puntu kulkas.
Entah sudah berapa lama aku
memperhatikan CL yang tengah sibuk memasak. Saaat itu CL hendak ingin mengambil
sesuatu dikulkas, ia pun berbalik kea rah kulkas dan sontak CL kaget saat
melihat ku berada disana.
“Astaga!”, teriaknya.
Aku hanya bisa tertawa kearah CL
yang tengah kaget.
“GD, kau mengagetkan ku!”,
keluhnya kesal. CL pun membuka pintu kulkas, secara otomatis aku menghindar
dari depan pintu kulkas untuk mempersilahkan CL membukanya.
“Maafkan aku, tadi kau tengah
sibuk jadi aku tidak ingin mengganggu mu.”, jelas ku padanya.
“Kau membuat ku jantungan GD.”
Aku hanya bisa tersenyum
mendengar keluh kesah CL.
Saat semua masakan yang dimasak
oleh CL siap dan telah dihidangkan dimeja makan, aku dan CL sarapan bersama
dimeja makan. Ditengah – tengah kami menyantap sarapan aku melihat ekspresi CL
yang tidak biasanya. Aku aku pun memberanikan diri untuk mengajaknya berbicara.
“CL, tidak seperti bioasanya kau
bangun lebih pagi hari ini?”, tanya ku untuk membuka pembicaraan.
“Aaa~ itu karena aku setiap hari
bangun pagi.”, jawannya usil.
Aku hanya tertawa kecil dan
begitu pula CL yang ikut tertawa bersama ku.
“Hari ini maukah kau menemani ku
mencari buku? Nanti akan aku traktir makan di café yang baru buka itu?”, ajak
ku pada CL.
“Hmm~ yakin kau mau mentraktir
ku GD?”, tanyanya dengan ekspresi iseng.
“Iya,terserah kau,kau bebas
makan sepuasnya, nanti aku yang membayarnya.”, jawab ku.
“Aaaa~ asik ditraktir GD.”,
jawabnya senagng.
“Baiklah nanti sepulang aku
bekerja paruh waktu ditempat Seung Ri, kira – kira aku akan selesai bekerja jam
enam sore, kalau begitu kita bertemu disana jam tujuh setelah itu kita…”, tiba
– tiba telepon genggam CL berbunyi, secara otomatis aku menghentikan pembicaran
ku sementara CL mengambil telepon genggamnya dikamar.
Aku pun menunggu CL dimeja makan
sambil menghabisi sisa sarapan pagi ku. Dengan rasa penasaran aku mengintip CL
yang tengah asik berteleponan dengan seseorang didalam kamarnya. Pada awalnya
ekspresi yang ditunjukkan CL sedih bercampur kesal tetapi dengan cepat dia
merubahnya dengan ekspresi bahagia yang dibuat-buat, saat dia sadar aku tengah
memperhatikannya secara diam-diam. Cl tersenyum sedikit kearah ku saat dia
menyadari aku tengah memperhatikan pembicaraannya. Aku pun menjadi malu dan
pura-pura menggaruk rambut ku seolah-olah rambut ku gatal tetapi sebenarnya
tidak gatal. Sambil menghabiskan sarapan ku aku diam-diam mendengar pembicaraan
CL ditelepon.
“Baiklah, aku akan menunggu mu
di café biasa.”, jawabnya sedikit resah dengan lawan bicaranya ditelepon.
“Tidak, aku tidak sibuk nanti
sore aku bisa menemani mu, oppa”
Dan disaat itu aku tahu ternyata
CL tengah menerima telepon dari si b*******k itu. Aku pun langsung menghentikan
memakan sarapan ku. Aku langsung menoleh kearah CL dengan tatapan menusuk. Aku
pun beranjak menghampiri CL tapi aku tahan, aku pun memikirkan sebuah cara
untuk CL mematikan teleponnya dengan si b*******k itu. Aku lalu berpura-pura
menjatuhkan gelas ku dari atas meja makan. Praaaaaang! Gelas ku pun jatuh dan
pecah berserakan dilantai. Seketika CL menoleh kearah ku dan tidak
berkonsentrasi dengan telepon dari si b*******k itu.
“Maaf”, ucap ku tanpa
mengeluarkan suara kearah CL. CL pun dengan sigap menghampiri ku dan
membereskan pecahan gelas dilantai.
“Oppa, nanti aku akan menelepon
mu lagi, aku ingin membereskan pecahan gelas ini.”, pintanya pada si b*******k
itu. Lama CL terdiam lalu ia menjawab pertanyaan dari si b*******k itu, “Ada GD
di apartemen ku tadi aku undang dia untuk sarapan bersama…”, belum sempat CL
menjelaskan si b*******k itu sudah memotong pembicaraan CL.
“Sebentar lagi dia juga pulang
oppa,sudah oppa aku sedang membereskan pecahan kaca ini, bye.”, CL pun langsung
mematikan sambungan teleponnya dan sibuk membereskan pecahan gelas dilantai.
Mendadak CL menatap ku, “Kau
sengaja melakukan ini klan GD?”
“Aku? Tidak, aku tadi tidak sengaja
menjatuhkannya.”,dusta ku pada CL.
“Jujur saja GD aku tahu ini
semua ulah mu.”, tuntut CL.
“Aku tidak bermaksud mengganggu
mu dengan Taeyang tetapi aku hanya…”, mendadak CL tersenyum jahil kepada ku.
“Kau tahu berapa banyak gelas
yang aku punya GD?”, jawab CL lalu tertawa riang. Aku pun juga ikut tertawa
tetapi sebenarnya aku mengerti maksud dan arti dari perkataan CL tadi. Secara
tidak sengaja dia berterima kasih pada ku karena ulah ku dia bisa memutuskan
sambungan teleponnya dengan Taeyang.
Selepas kami membereskan pecahan
gelas dan membersihkan piring dari sisa sarapan kami, aku pun berpamita kepada
CL untuk kembali ke apartemen ku untuk bersiap-siap berangkat kuliah.
“Aku menunggu mu jam delapan di
lobby ya CL?”, pinta ku pada CL. CL hanya mengangguk mengiyakan lalu menutup
pintu kamar apartemennya. Aku pun masuk kedalam apartemen ku lalu bersiap diri untuk
berangkat kuliah. Aku pun langsung membuka keran yang mengalirkan air panas
kedalam bak mandi ku. Sentuhan pertama dengan air hangat terasa sangat
menyenangkan, seolah-olah beban hidup ku diangkat sementara dan aku seperti
melayang diudara dan tanpa beban. Betapa nikmatnya sensasi air panas dipagi
hari setelah semalaman suntuk aku tidur diatas sofa. Hamper setengah jam
lamanya aku berada didalam kamar mandi hanya untuk berendam air hangat ditengah
cuaca yang mulai mendekati musim dingin. Aku pun lekas menyelesaikan ritual
mandi ku lalu bergegas mengenakan baju dan bersiap-siap untuk berangkat ke
kampus. Saat aku hendak mengambil task u yang berada didalam kamar, tiba-tiba
telepon genggam ku pun berbunyi aku pun sontak mengambilnya dari dalam saku
celana ku dan saat aku melihat layer teleponnya, disana tertulis nama CL,sontak aku langsung mengangkat
telepon ku.
“Annyong-haseyo?”, jawab ku
langsung.
“GD, maaf sepertinya aku tidak
bisa berangkat bersama mu pagi ini?”, pinta CL
“Kenapa?”,tanya ku heran.
“Pagi ini oppa yang akan
mengantarkan ku ke kampus, maafkan aku GD?”, pintanya menyesal.
“Kwaench’anayo.”, jawab ku.
“Maaf.”, lalu CL langsung
mematikan sambungan teleponnya pada ku.
Dengan langkah yang gontai aku
pun keluar dari apartemen ku dan mengunci pintu apartemen ku dengan tidak
bertenaga. Saat aku hendak menuju lift telepon ku berbunyi sontak aku segera
mengangkatnya.
“Annyong-haseyo?”,
“Yaaa~ dongsaeng, apakah kamu
sudah berangkat menuju kampus sekarang?”, tanya T.O.P
“Belum hyoong, ada apa?”,tanya
ku bingung.
“Aku ada dibawah sekarang, mari
berangkat bersama ku?”, ajak T.O.P pada ku.
“Baiklah, aku segera kebawah.”,
aku pun langsung memutuskan sambungan teleponku. Sesampainya di lobby aku
bertemu dengan T.O.P yang sedang
menunggu ku dipintu masuk.
“Ayo.”, ajak T.O.P sambil
menyerahkan helm untuk ku kenakan.
Aku pun hanya mengikutinya tanpa
menjawabnya, saat aku naik diatas motor aku berpapasan dengan Taeyang yang
sedang membukakan pintu untuk lalu mempersilahkan CL masuk kedalam mobil
mewahnya. Disaat itu hati ku langsung rapuh saat melihat CL denag Taeyang,
melihat kemesraan mereka setelah apa yang diperbuat Taeyang terhadap CL.
Di tengah perjalanan T.O.P
mendadak bertanya kepada ku, “Dongsaeng ada apa dengan mu hari ini? Nampaknya
kau terlihat lesu sekali hari ini?”
“Aku tidak apa-apa hyonng hanya
kurang tidur saja semalam.”, dusta ku.
“Aaah~ aku ingat, apakah semalam
itu benar-benar Taeyang sedang jalan dengan wanita lain?”, tanya T.O.P
Astaga harus ku jawab apa? Aku
benar-benar kesal hari ini.
“Tidak tahu, semalam aku
mabuk.”, jawab ku asal.
“Ayolah GD katakana saja?”,
rajuk T.O.P
“Katakana apa?”
“Kejadian tadi malam? Kalau
benar tadi malam itu Taeyang kenapa CL masih terlihat mesra dengan Taeyang
tadi?”, tanyanya semakin penasaran/
“Kalau benar yang tadi malam itu
Taeyang, lalu kenapa tadi pagi dia menjemput CL hyonng?”, tanya ku asal.
“Iya juga.”
“Sudahlah hyonng itu bukan
urusan kita.”
Lalu selama perjalanan aku pun
terdiam bersama T.O.P, kami menjawab pertanyaan yang diajukan masing-masing
dengan pemikiran sendiri.
Sesampainya kami dikampus,
teman-teman yang lain sudah menunggu kami didekat tempat parkir.
“Hyonng!!”, teriak Seung Ri
kearah kami. Aku hanya melambaikan tangan sebagai balasannya. Kami pun
menghampiri Daesung dan Seung
Ri.
“Hyonng, nampaknya kau kelihatan
pucat hari ini?”, tanya Daesung pada ku.
“Aku kurang fit hari ini.”,
jawab ku pada Daesung. “Padahal tadi malam kau kelihatan senang sekali hyonng?
Cepat sekali kau sakit hyonng?”, lanjut Daesung.
“Aku tahu apa penyebabnya.”
,tambah Seung Ri menimpali pertanyaan Daesung tadi.
“Yaa~ dongsaeng sok tahu
kamu.”,jawab T.O.P
“Ini serius hyonng, lihat”, Seung Ri
menunjuk kearah lapangan parkir mobil, dia menunjuk kearah mobil sport mewah
berwarna merah yang baru masuk. Dari balik kemudi aku lihat Taeyang yang sedang
menyetir.
“Iissh~ kau ini!”, bentak
Daesung pada Seung Ri. Aku hanya bisa tertunduk dan terdiam
saat melihat Taeyang memarkirkan mobilnya didepan gerbang kampus yang
berdekatan dengan tempat parkir motor. Dia keluar mobil dengan memancarkan
pesonanya lalu membukakan pintu penumpang, Cl pun keluar dari pintu penumpang
dengan wajah yang dipaksakan bahagia, aku tahu sebenarnya dia masih mengingkat
kejadian semalam.
“Mesra sekali pasangan itu.”,
ceplos T.O.P secara tidak sengaja. Aku pun mengiyakan pendapat top, “Benar.”
Lalu semuanya terdiam dan
melihat kearah ku secara bersamaan saat aku menyetujui pendapat T.O.P
“Wae? Kenapa dengan kalian? Apa
yang salah pada ku? Aku hanya menjawab pertanyaan hyonng.”, jelas ku pada
mereka.
“Tidak.”,jawab mereka serempak
lalu mereka terdiam.
“Baiklah, ayo kita ke kelas?”,
ajak ku pada mereka.
“Ayo.”, jawab Daesung antusias.
Kami pun berjalan dari tempat
parker menuju kelas kami, saat aku sedang berjalan bersama T.O.P, Daesung, dan
Seungri tiba-tiba baju ku seperti ada yang menarik dengan refleks aku pun
berbalik dan…
Taeyang mendaratkan pukulannya
tepat di pipi sebelah kanan ku lalu aku pun roboh karena menerima pukulan itu
secara mendadak tanpa bisa melawan.
“Ada apa ini Taeyang?!”, bentak T.O.P kearah
Taeyang.
“Diam kau! Ini bukan urusan mu,
ini urusan ku dengan si b*******k ini.”, tuntut Taeyang sambil menunjukkan jari
telunjuknya kearah muka ku.
Aku pun langsung bangkit dan
menghantamkan pukulan panas ku kearah pipinya untuk membalas pukulannya tadi.
“Apa mau mu b*******k!”,tuntut ku.
“Jauhi CL karena CL adalah
tunangan ku!”, tuntut Taeyang sambil menunjuk-nunjuk kearah muka ku.
“Siapa yang mendekati CL, aku
dan dia hanya berteman!>”, balas ku.
“Berteman!? Cih! Kalian berteman
tetapi mengapa saat tadi pagi aku telepon CL kau berada di dalam
apartemannya!”, tuntut Taeyang.
“Semalam dia mabuk jadi aku
merawatnya.”,jelas ku pada Taeyang.
“Alasan! Bilang saja itu modus
licik mu b*******k!”, maki Taeyang kearah ku.
Karena tidak tahan lagi aku pun
mengahar Taeyang, akhirnya kami pun sama-sama menghajar satu sama lain,
sementara T.O.P, Seungri, dan Daesung mencoba melerai kami. Tiba-tiba aku
mendengar suara teriakan CL dari kejauhan.
“Kalian berhentilah
bertengkar!”,teriak CL kearah kami yang sedang bertengkar.
Baik aku dan Taeyang sama-sama
berhenti saat Cl mencoba melerai kami.
“Apa yang kalian lakukan? Ini
areal kampus! Jangan buat malu diri kalian disini!”, bentak CL kearah ku dan
Taeyang.
CL pun menghadap kearah Taeyang,
“Oppa! Apa yang oppa lakukan!”, bentak CL kearah Taeyang.
“Aku hanya tidak terima si
b*******k ini menginap diapartemen mu.”, jelas Taeyang.
“Dia hanya merawat ku oppa,
tidak lebih!”, bentak CL
“Terus saja kau bela si
b*******k ini, mungkin aku hanya status saja untuk mu tetapi hati mu milik si
b*******k ini!”, tuntut Taeyang.
“Bukankah yang mengalami seperti itu adalah oppa! Tadi
malam aku mel;ihat mu keluar club malam bersama dengan wanita lain dank au
bermesraan dengan wanita itu!”, tuntut CL kearah Taeyang sambil menahan air
mata yang akan jatuh.
“Aku?”, tanay Taeyang pura-pura
tidak bersalah.
Dengan marah CL menampar pipi
tunangannya itu, “Aku benci oppa!”, teriaknya kearah tunangannya itu.
“Terserah kau!”, Taeyang pun
meninggalkan CL,sebelumpergi dia sempat berbalik dan menunjuk muka ku denga
jari telunjuknya, “Urusan kita belum selesai b*******k!”, lalu ia pun pergi
begitu saja.
Akhirnya CL puntidak bisa
menahan air matanya lagi, dia pun menangis sambil memeluk ku. Dengan emosi yang
masih tersulut amarh aku pun meminjam motor T.O.P
“Hyonng, aku pinjam motor mu
sebentar dan tolong absenkan kami untuk mata kuliah hari ini.”, pinta ku pada
T.O.P
T.O.P segera memberikan kunci
motornya dan mengangguk kepada ku tanpa mengatakan apa-apa.
“Ayo kita ke kelas, Daesung,
Seungri?”,ajak T.O.P kepada mereka.
“Baik hyonng.”, jawab mereka
serempak.
“Nanti aku tunggu ditempat
biasa.”,kandas T.O.P kepada ku
Aku hanya mengangguk mengiyakan.
Setelah mereka pergi aku pun menarik tubuh CL dari pelukakn ku dan
menghadapkannya kearah ku.
“Ikut aku.”, pinta ku padanya.
CL hanya mengangguk tanpa
mengucapkan kata-kata. Aku berikan helm kepadanya dan dia memakainya lalu kami
pun pergi ketempat yang membuat kami bisa menenangkan pikiran…
#To Be Continue…