Nama : Hilla Aprila Mardika
Kelas : 2PA11
Npm : 13512478
1. PENYESUAIAN
DIRI DAN PERTUMBUHAN
A. PENYESUAIAN
DIRI
Dalam
bahasa aslinya dikenal dengan istilah adjustment atau personal adjustment.
Schneiders berpendapat bahwa penyesuaian diri dapat ditinjau dari tiga sudut
pandang, yaitu: penyesuaian diri sebagai adaptasi (adaptation),
penyesuaian diri sebagai bentuk konformitas (conformity), dan penyesuaian diri
sebagai usaha penguasaan (mastery).
Pada mulanya penyesuaian diri diartikan sama dengan adaptasi
(adaptation), padahal adaptasi
ini pada umumnya lebih mengarah pada penyesuaian diri dalam arti fisik,
fisiologis, atau biologis. Misalnya, seseorang yang pindah tempat dari daerah
panas ke daerah dingin harus beradaptasi dengan iklim yang berlaku di daerah
dingin tersebut. Ada juga penyesuaian diri diartikan sama dengan penyesuaian
yang mencakup konformitas
terhadap suatu norma. Pemaknaan
penyesuaian diri seperti ini pun terlalu banyak membawa akibat lain.
Dengan memaknai penyesuaian diri
sebagai usaha konformitas, menyiratkan bahwa di sana individu
seakan-akan mendapattekanan kuat untuk harus selalu mampu menghindarkan diri
dari penyimpangan perilaku, baiksecara moral, sosial, maupun emosional. Sudut
pandang berikutnya adalah bahwa penyesuaian diri dimaknai sebagai usaha penguasaan
(mastery), yaitu kemampuan untuk
merencanakan dan mengorganisasikan respons dalam cara-cara tertentu sehingga
konflik-konflik, kesulitan, dan frustrasi tidak terjadi.
B.
PERTUMBUHAN
PERSONAL
Manusia
merupakan makhluk individu. Manusia disebut sebagai individu apabila
tingkah lakunya spesifik atau menggambarkan dirinya sendiri dan bukan
bertingkah laku secara umum atau seperti orang lain. Jadi individu adalah
seorang manusia yang tidak hanya memiliki peranan-peranan yang khas dalam
lingkup sosial tetapi mempunyai kekhasan tersendiri yang spesifik terhadap
dirinya didalam lingkup sosial tersebut. Kepribadian suatu individu tidak
sertamerta langsung terbentuk, akan tetapi melalui pertumbuhan sedikit demi
sedikit dan melalui proses yang panjang.
Setiap
individu pasti akan mengalami pembentukan karakter atau kepribadian. Dan hal
tersebut membutuhkan proses yang sangat panjang dan banyak faktor-faktor yang
mempengaruhi pembentukan kepribadiannya tersebut dan keluarga adalah faktor
utama yang akan sangat mempengaruhi pembentukan kepribadian. Hal ini disebabkan
karena keluarga adalah kerabat yang paling dekat dan kita lebih sering bersama
dengan keluarga. Setiap keluarga pasti menerapkan suatu aturan atau norma yang
mana norma-norma tersebut pasti akan mempengaruhi dalam pertumbuhan personal
individu. Bukan hanya dalam lingkup keluarga, tapi dalam lingkup masyarakat
atau sosialpun terdapat norma-norma yang harus di patuhi dan hal itu juga
mempengaruhi pertumbuhan individu.
Setiap
individu memiliki naluri yang secara tidak langsung individu dapat
memperhatikan hal-hal yang berada disekitarnya apakah hal itu benar atau
tidak, dan ketika suatu individu berada di dalam masyarakat yang memiliki
suatu norma-norma yang berlaku maka ketika norma tersebut di jalankan
akan memberikan suatu pengaruh dalam kepribadian, misalnya suatu individu ada
di lingkungan masyarakat yang tidak disiplin yang dalam menerapkan aturan-aturannya
maka lama-kelamaan pasti akan mempengaruhi dalam kepribadian sehingga menjadi
kepribadian yang tidak disiplin, begitupun dalam lingkungan keluarga, semisal
suatu individu berada di lingkup keluarga yang cuek maka individu tersebut akan
terbawa menjadi pribadi yang cuek.
1)
Pemikiran Pertumbuhan, Penyesuaian diri, dan
Pertumbuhan
Pertumbuhan Personal adalah banyak kualitas penyesuaian diri yang baik mengandung
implikasi-implikasi yang khas bagi pertumbuhan pribadi. Ide ini terkandung
dalam kriteria perkembangan diri yang berarti pertumbuhan kepribadian yang
terus-menerus kearah tujuan kematangan dan prestasi pribadi. Setiap langkah
dalam proses pertumbuhan dari masa bayi sampai masa dewasa harus menjadi
kemajuan tertentu kearah kematangan tang lebih besar dalam pikiran, emosi,
sikap dan tingkah laku. Pelekatan (fiksasi) pada setiap tingkat perkembangan
bertentangan dengan penyesuaian diri
yang adekuat, misalnya menggigit kuku, menghisap jempol, ngompol, ledakan
amarah, atau membutuhkan sangat banyak kasih sayang dan perhatian. Perkembangan
diri disebabkan oleh realisasi kematangan yang terjadi secara tahap demi tahap.
Pertumbuhan kepribadian ditingkatkan oleh banyaknya
minat terhadap pekerjaan dan kegemaran.
Sulit menyesuaikan diri dengan baik terhadap tuntutan-tuntutan pekerjaan yang
tidak menarik dan membosankan, dan segera pekerjaan itu menjadi hal yang tidak
menyenangkan atau menjijikkan. Tetpi, kita memiliki cara tertentu untuk
mengubah dan mengganti pekerjaan yang merangsang minat kita sehingga kita dapat
memperoleh kepuasan terus-menerus dalam pekerjaan. Pertumbuhan pribadi
tergantung juga pada skala nilai yang adekuat dan tujuan yang ditetapkan dengan
baik, kriteria yang selalu dapat digunakan seseorang untuk menilai penyesuaian
diri. Skala nilai atau filsafat hidup adalah seperangkat ide, kebenaran,
keyakinan, dan prinsip membimbing seseorang dalam berpikir, bersikap, dan dalam
berhubungan dengan diri sendiri dan orang lain dalam memandang kenyataan dan
dalam tingkah laku sosial, moral dan agama. Seperangkat nilai inilah yang akan
menentukan apakah kenyataan itu besifat mengancam, bermusuhan, sangat kuat,
atau tidak patut menyesuaikan diri dengannya. Penyesuaian diri memerlukan
penanganan yang efektif terhadap masalah dan stress yang terjadi dalam
kehidupan kita sehari-hari, dan pemecahan masalah dan stress itu akan
ditentukan oleh nilai-nilai yang kita bawa berkenaan dengan situasi itu. kita
seringkali mendengar orang-orang menjadi berantakan dan dengan demikian
mendapat gangguan emosi dan tidak bahagia. Orang-orang tersebut tidak yakin
mengenai hal yang baik atau buruk, benar atau salahh, bernilai atau tidak
bernilai. Mereka tidak memiliki pengetahuan, nilai, atau prinsip yang akan
menyanggupi mereka untuk mereduksikan kebimbangan atau konflik yang secara
emosional sangat mengganggu.
Dalam proses pematangan, perkembangan situasi sistem nilai
akan meliputi juga tujuan jangka pendek dan jangka panjang yang menjadi inti
dari integrasi dan tingkah laku menyesuaikan diri. orang yang memiliki tujuan-tujuan
yang ditetapkan dengan baik bertindak secara terarah dan bertujuan, meskipun
terkadang terganggu oleh kehilangan arah, kebosanan, kekurangan minat dan
dorongan. Dalam salah satu penelitian mengenai pengaruh-pengaruh dari
tercapainya tujuan di kalangan para mahasiswa, telah ditemukan bahwa arah
tujuan ada hubunganya dengan peningkatan keyakinan, perbaikan harga nilai, dan
pembaruan usaha. Pengaruh umum dari tercapainya tujuan adalah tegangan
direduksikan.
Kriteria terakhir untuk menilai penyesuaian diri adalahh
sikap terhadap kenyataan. Penyesuaian diri yang baik memerlukan sikap yang
sehat dan realistic yang menyanggupi seseorang untuk menerima kenyataan
sebagaimana adanya bukan sebagaimana diharapkan atau diinginkan. Kriteria ini
dipakai pada segi-segi kenyataan dalam waktu dan ruang. Ada orang yang hidup
dalam dunia mimpi tentang peristiwa masa lampau yang sangat menghargai
kenangan-kenangan pada masa kanak-kanak, dan baginya masa sekarang adalah suatu
kenyataan yang jelek, dan masa yang akan datang merupakan sesuatu yang
menakutkan.
Adolph Meyer berpendapat bahwa kapasitas untuk menggunakan
masa lampau dan bukan semata-mata menderita karenanya adalah perlu untuk
penyesuaian diri bahwa penangan harus dipakai untuk menangani kenyataan
sekarang dan kesempatan yang kreatif dapat direalisasikan dengan tinjauan yang
sehat ke masa depan. Sikap yang sehat terhadap masa lampau, masa sekarang dan
masa depan sangat penting untuuk penyesuaian diri yang sehat.
Penyesuaian diri
dapat dilihat dari
segi pandangan psikologis, penyesuaian diri memiliki banyak arti, seperti
pemuasan kebutuhan, keterampilan dalam menangani frustasi dan konflik,
ketenangan pikiran/jiwa, atau bahkan pembentukan simtom-simtom. Itu berarti
belajar bagaimana bergaul dengan baik dengan orang lain dan bagaimana
menghadapi tuntutan-tuntutan pekerjaan. Tyson menyebut hal-hal seperti
kemampuan untuk beradaptasi, kemampuan berafeksi, kehidupan yang seimbang,
kemampuan untuk mengambil keuntungan dari pengalaman, toleransi terhadap
frustasi, humor, sikap yang tidak ekstrem, objektivitas, dan lain-lain (Tyson,
1951).
Kita tidak dapat mengatakan bahwa penyesuaian diri itu baik
atau buruk. Kita hanya dapat mengatakan bahwa penyesuaian diri adalah cara
individual atau khusus organismedalam bereaksi terhadap tuntutan-tuntutan dari
dalam atau situasi-situasi dari luar. Untuk beberapa orang mungkin reaksi ini
bisa efisien, sehat atau memuaskan. Sementara untuk orang lain reaksi ini
melumpuhkan, tidak efektif, atau bahkan patologik.
Jadi, kita dapat mendefinisikan dengan sederhana, bahwa
penyesuaian diri itu adalah suatu proses yang melibatkan respons-respons mental
dan tingkah laku yang menyebabkan individu berusaha menanggulangi
kebutuhan-kebutuhan, tegangan-tegangan, frustasi-frustasi, dan konflik-konflik
batin serta menyelaraskan tuntutan-tuntutan batin ini dengan tuntutan-tuntutan
yang dikenakan kepadanya oleh dunia dimana ia hidup. Dalam arti ini, kebanyakan
respons cocok dengan konsep penyesuaian diri.
Pertumbuhan
adalah Pertumbuhan ( Growth ) adalah perubahan KUANTITATIF (
berupa pembesaran atau pertambahan dari tidak ada menjadi ada, dari kecil
menjadi besar, dst ) pada materiil sesuatu akibat dari adanya pengaruh dari
lingkungan. Contoh : munculnya gigi baru, semakin bertambahnya jumlah gigi,
semakin bertambahnya tinggi badan, dst.
2) Variasi
dalam Pertumbuhan
Dalam
variasi pertumbuhan memang sangat beragam. Tidak semua individu berhasil dalam
melakukan penyesuaian diri berdasarkan tingkatan usia, pertumbuhan fisik,
maupun sosial nya. Mengapa? karena terkadang terdapat rintangan-rintangan yang
menyebabkan ketidakberhasilan individu dalam melakukan penyesuaian, baik
rintangan itu dari dalam diri atau dari luar diri. Tidak selamanya individu
berhasil dalam melakukan penyesuaian diri, karena kadang-kadang ada
rintangan-rintangan tertentu yang menyebabkan tidak berhasil melakukan
penyesuaian diri. Rintangan-rintangan itu mungkin terdapat dalam dirinya atau
mungkin diluar dirinya.
3) Kondisi
– Kondisi untuk Bertumbuh
Kondisi
jasmaniah seperti pembawa struktur atau konstitusi fisik dan tempramen sebagai
disposisi yang diwariskan, aspek pewrkembangannya secara instrinsik berkaitan
erat dengan susunan atau konstitusi tubuh. Shekdon mengemukakan bahwa terdapat
kolerasi yang tinggi antara tipe-tipe bentuk tubuh dan tipe-tipe tempramen
(Surya, 1977). Misalnya orang yang tergolong ekstomorf yaitu yang ototnya
lemaah, tubuhnya rapuh, ditandai dengan sifat-sifat menahan diri, segan dalam
aktifitas sosial dan pemilu. Karena struktur jasmaniah merupakan kondisi primer
bagi tingkah laku maka dapat di perkirakan bahwa sistem syaraf sekelenjar dan
otot merupakan faktor yang penting bagi proses penyesuaian diri. Beberapa
penelitian menunjukkan bahwa gangguan dalam sistem syaraf kelenjar dan otot
dapat menimbulkan gejala-gejala gangguan mental, tingkah laku dan kepribadian.
Dengan demikian, kondisi sistem tubuh yang baik merupakan syarat bagi
tercapainya proses penyesuaian diri yang baik. Disamping itu, kesehatan dan
penyakit jasmaniah juga berhubungan dengan penyesuaian diri, kualitas
penyesuaian diri yang baik hanya dapat diperoleh dan dipelihara dalam kondisi
kesehatan jasmaniah yang baik pula. Ini berarti bahwa gangguan penyakit
jasmaniah yang diderita oleh seseorang akan mengganggu proses penyesuaian
dirinya.
4)
Fenomena
Pertumbuhan
Fenomenologi
memandang manusia hidup dalam “dunia kehidupan” yang dipersepsi dan
diinterpretasi secara subyektif. Setiap, orang mengalami dunia dengan caranya
sendiri.
2. STRES
A. Arti
Penting Stres
Stress adalah bentuk ketegangan dari fisik, psikis, emosi
maupun mental. Bentuk ketegangan ini mempengaruhi kinerja keseharian seseorang.
Bahkan stress dapat membuat produktivitas menurun, rasa sakit dan
gangguan-gangguan mental. Pada dasarnya, stress adalah sebuah bentuk
ketegangan, baik fisik maupun mental. Sumber stress disebut dengan stressor dan
ketegangan yang di akibatkan karena stress, disebut strain.
Menurut Robbins (2001) stress juga dapat diartikan sebagai
suatu kondisi yang menekan keadaan psikis seseorang dalam mencapai suatu
kesempatan dimana untuk mencapai kesempatan tersebut terdapat batasan atau
penghalang. Dan apabila pengertian stress dikaitkan dengan penelitian ini maka
stress itu sendiri adalah suatu kondisi yang mempengaruhi keadaan fisik atau
psikis seseorang karena adanya tekanan dari dalam ataupun dari luar diri
seseorang yang dapat mengganggu pelaksanaan kerja mereka.
Menurut Woolfolk dan Richardson (1979) menyatakan bahwa
adanya system kognitif, apresiasi stress menyebabkan segala peristiwa yang
terjadi disekitar kita akan dihayati sebagai suatu stress berdasarkan arti atau
interprestasi yang kita berikan terhadap peristiwa tersebut, dan bukan karena
peristiwa itu sendiri.Karenanya dikatakan bahwa stress adalah suatu persepsi
dari ancaman atau dari suatu bayangan akan adanya ketidaksenangan yang
menggerakkan, menyiagakan atau mambuat aktif organisme.
Sedangkan menurut Handoko (1997), stress adalah suatu
kondisi ketegangan yang mempengaruhi emosi, proses berpikir dan kondisi
seseorang. Stress yang terlalu besar dapat mengancam kemampuan seseorang untuk
menghadapi lingkungannya.
B.
Tipe
– Tipe Stres Psikologi
o
Tekanan
: hasil hubungan antara peristiwa-peristiwa persekitaran
dengan individu. Paras tekanan yang dihasilkan akan bergantung kepada sumber
tekanan dan cara individu tersebut bertindak balas. Tekanan mental adalah
sebagian daripada kehidupan harian. Ia merujuk kepada kaedah yang menyebabkan
ketenangan individu terasa di ancam oleh peristiwa persekitaran dan menyebabkan
individu tersebut bertindak balas. Anda boleh mengalami tekanan ketika di
tempat kerja, menyesuaikan diri dengan persekitaran baru, atau melalui hubungan
sosial. Tekanan mental yang sederhana boleh menjadi pendorong kepada satu-satu
tindakan dan pencapaian tetapi kalau tekanan mental anda itu terlalu tinggi, ia
boleh menimbulkan masalah sosial dan seterusnya menggangu kesehatan anda.
o
Frustasi : adalah
suatu harapan yang diinginkan dan kenyataan yang terjadi tidak sesuai dengan
yang diharapkan.
o
Konflik : Berasal dari kata kerja
latin configere yang berarti saling memukul. Secara
sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau
lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak
lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya.
o
Kecemasan : Banyak
pengertian/definisi yang dirumuskan oleh para ahli dalam merumuskan pengertian
tentang kecemasan.
C.
Symptom
– Reducing Responses Terhadap Stres
Kehidupan akan terus berjalan seiring dengan
brjalannya waktu. Individu yang mengalami stress tidak akan terus menerus
merenungi kegagalan yang ia rasakan. Untuk itu setiap individu memiliki
mekanisme pertahanan diri masing-masing dengan keunikannya masing-masing untuk
mengurangi gejala-gejala stress yang ada.
D. Problem
– Problem Solving Terhadap Stres
Salah satu cara dalam menangani
stress yaitu menggunakan metode biofeddback,
tekniknya adalah mengetahui bagian-bagian tubuh mana yang terkena stress
kemudian belajar untuk menguasainya. Tekhnik ini menggunakan serangkaian alat
yang sangat rumit sebagai Feedback. Melakukan sugesti untuk diri sendiri juga dapat lebih
efektif karena kita tahu bagaimana keadaan diri kita sendri. Berikan
sugesti-sugesti yang positif, semoga cara ini akan berhasil ditambah dengan
pendekatan secara spiritual (mengarah pada Tuhan).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar