“Geu xx naega motan ge mwoya…
Dodaeche wae naneun gajil su
eomneun geoya…
Geu xx neoreul saranghaneun ge
anya…
Eonjekkaji babogachi ulgoman
isseul goya…”
Aku memacu motor yang ku
kendarai dengan kecepatan tinggi, tidak memepedulikan lagi teriakan orang-orang
yang terganggu dengan cara ku berkendara. Di dalam pikiran ku hanya ada satu
yaitu keselamatan CL. Aku tidak peduli dengan situasi jalan kota
Seoul yang
ramai, tidak peduli hujan yang membasahi jalan yang ku lalui sekarang, dan
tidak peduli bunyi klakson dari pengendara lain. Aku hanya terfokus pada jalan
dan waktu yang ku tempuh untuk sampai rumah sakit. Aku tidak peduli lagi apa
yang terjadi dengan ku, aku hanya memikirkan sahabat ku, sahabat yang aku cintai
melebihi cinta ku pada diri ku sendiri.
Dengan rem yang berdecit nyaring
ku hentikan motor ku tepat di depan pintu rumah sakit. Orang-orang hanya bisa
memandangi ku dengan tatapan heran. Aku segera membuka helm ku dan mematikan
motor ku lalu mencabut kuncinya secara paksa. Aku segera berlari ke dalam dan
menuju meja resepsionis. Disana ada dua suster yang tengah sibuk, suster
pertama tengah sibuk menerima telepon dan suster yang kedua tengah sibuk
melayani seorang pria tua berjas hitam yang tampaknya juga sedang terburu-buru.
Ku hampiri meja resepsionis lalu segera bertanya pada suster yang sedang
melayani pria berjas hitam tersebut.
“Suster, di ruang mana korban
kecelakaan lalu lintas yang baru masuk?”,tanya ku terburu-buru.
“Maaf tuan silahkan mengantri
terlebih dahulu?”, pinta suster itu sopan. Sang pria berjas hitam hanya
memandang ku dengan tatapan heran.
“Aku harus tahu dimana Chaerin
Lee dan Taeyang dirawat sekarang!”, pinta ku mendesak.
“Tapi tuan anda harus mengantri
terlebih dahulu?”,pinta suster itu mulai kesal.
“’Tidak apa-apa biar anak muda
ini dulu.”, pinta pria berjas hitam itu mengalah. Aku hanya bisa menundukkan
kepala sebagai ucapan terima kasih.
“Baiklah tuan.”, suster itu pun
segera mencari data di komputernya,
“Nyonya Chaerin Lee dan Tuan
Taeyang sedang di operasi akibat luka yang mereka alami. Nyonya Chaerin Lee dan
Tuang Taeyang berada di ruang I.C.C.U.”, jelas perawat itu.
“Terima kasih.”, aku segera
berlari menuju ruang I.C.C.U untuk melihat keadaan CL.
Saat aku sampai di ruang I.C.C.U
lampu ruangan operasi masih berwarna merah itu berarti operasi belum selesai.
Aku hanya bisa menunggu dengan perasaan gundah sampai operasi selesai. Aku
segera mengabari sahabat CL, pertama aku menghubungi Sandara. Sudah hampir tiga
puluh menit berlalu sejak kedatangan ku ke rumah sakit dan aku ingat untuk
menelepon sahabat dan juga orang tua CL. Aku segera mencari nomornya Sandara di
kontak telepon ku.
“Yeoboseo?”,jawab Sandara pada
ku.
“CL mengalami kecelakaan
sekarang dia sedang di operasi di rumah sakit Seoul, tolong kau kabari Park Bom dan juga
Minzy.”
“Ne~”, Sandara pun langsung
memutuskan sambungan teleponnya kepada ku.
Lalu aku segera menghubungi
orang tua CL yang tinggal di pulau Jeju.
“Yeoboseo?”, tanya ibu CL saat
pertama mengangkat teleponnya.
“Eomma-nim, ini aku G
Dragon.”,terang ku.
“Iya, ada apa menelepon
malam-malam?”,tanyanya heran.
“Eomma-nim, aku hanya memberi
tahu bahwa CL mengalami kecelakaan lalu lintas dan sekarang sedang di
operasi.”, jelas ku.
“Wae? Lantas bagaimana keadaan
dia sekarang?”, tanya ibu CL panik.
“Aku juga tidak tahu, tapi ku
mohon eomma-nim jangan panik, aku yang akan menjaganya disini.”,jelas ku mencoba
menenangkan kepanikan ibu CL.
“Aku mohon jaga anak ku G
Dragon, aku belum bisa datang ke Seoul
sekarang, mungkin beberapa hari lagi aku dan ayah CL akan berangkat ke Seoul.”, jelasnya.
“Arraseo, eomma-nim, sudah
sekarang eomma-nim jangan khawatir,bila ada perkembangan lebih lanjut aku akan
segera menghubungi eomma-nim.”,jelas ku.
“Baiklah, tolong jaga putri
ku.”, ibu CL segera mematikan sambungan teleponnya.
Tidak lama berselang telepon ku
pun berbunyi, aku segera melihat layar telepon ku dan mengangkat sambungan
telepon itu.
“Yeoboseo?”
“GD, dimana kau sekarang? Kami
sudah ada di rumah sakit.”, jelas T.O.P
“Aku sedang ada di depan ruang
I.C.C.U”,jelas ku
“Baiklah kami akan ke sana.”
Lima menit kemudian aku melihat
T.O.P, Seung Ri, Daesung, Sandara, Bom, dan juga Minzy
datang ke ruang I.C.C.U. mereka jalan terburu-buru dan akhirnya sampai di depan
ruang I.C.C.U
“Kenapa bisa CL mengalami
keceklakaan?”,tanya Sandara panik.
“Dia sedang bersama Taeyang lalu
mengalami kecelakaan di jalan tol.”, jelas ku berusaha tenang.
Sontak Sandara hanya bisa
menutupi mulutnya sambil menahan tangis yang akan keluar. Sementara Park Bom dan
Minzy pun sudah menangis terlebih dahulu.
“Sudah sekarang kita semua
berdoa saja yang terbaik untuk keduanya.”, bujuk T.O.P
“Apa kata mu? Baik untuk ke
duanya? Kalau CL saja yang baik aku setuju tetapi tidak untuk si b*******k
itu!”, tuntut Park Bom ditengah isak tangisnya.
“Sudahlah disaat seperti ini
tidak usah memakai emosi Bom,”bujuk T.O.P yang mencoba menenangkan Park Bom
yang sedang kalut. Bom hanya bisa menangis di pundak T.O.P karena tidak kuasa
melihat sahabatnya terlibat kecelakaan seperti ini.
Entah sudah berapa jam kami
menunggu didepan ruang operasi, mungkin sudah hampir sepuluh jam kami menunggu.
Seung Ri,
Daesung, Bom, Minzy, dan Sandara sudah terlelap di bangku rumah sakit sementara
aku dan T.O.P masih terjaga menunggu selesainya operasi.
“Sebaiknya aku belikan kopi
untuk mu.”, ucap T.O.P sambil beranjak menuju lobby rumah sakit.
“Gomawo hyung.”
Tetapi saat T.O.P hendak
meninggalkan ruang operasi tiba-tiba pintu ruang operasi terbuka dan lampu
operasi sudah kembali berwarna hijau sontak aku menahan bahu T.O.P untuk
beranjak dari tempat ini.
Dokter dan beberapa suster
keluar dari dalam ruang operasi aku pun segera menghampiri dokter tersebut
sementara aku dan T.O.P membangunkan yang lainnya.
“Bagaimana dokter? Apa yang
terjadi pada CL dan Taeyang?”, tanya ku panik.
“Apakah anda anggota keluarga
dari kedua korban?”, tanya dokter itu pada ku.
“Aku sahabatnya, bagaimana ke
adaannya?”, tuntut ku lagi.
“Tuan Taeyang mengalami
kelumpuhan pada kedua kakinya sementara nona Chaerin mengalami koma akibat
benturan keras di kepala saat terjadinya kecelakaan.”, jelas dokter itu pada
ku.
“Koma?”, tanya ku dengan rasa
tidak percaya.
“Iya, tuan Taeyang segera kami
pindahkan ke ruang perawatan sementara nona Chaerin tetap berada di ruang
I.C.C.U.”, jelas dokter itu lalu pergi meninggalkan kami yang terdiam karena
shock mendengar kabar tersebut.
Sandara, Minzy, dan Park Bom
hanya bisa menangis menerima kenyataan yang ada sementara T.O.P, Seung Ri, dan
Daesung mencoba menenangkan mereka.
dengan tubuh yang gontai aku
mencoba untuk masuk ke dalam ruangan operasi. Suster menahan ku sejenak di
depan pintu masuk.
“Maaf tuan, hanya boleh satu
orang yang masuk ke dalam dan tolong mengenakan baju yang telah di sediakan dan
mematuhi peraturan yang ada.”, jelas suster itu kepada ku. Aku hanya bisa
mengangguk mengiyakan dan segera masuk ke dalam.
Aku kenakan pakaian yang di
sediakan pihak rumah sakit lengkap dengan memakai maskernya. Aku pun di arahkan
oleh suster yang berjaga di ruangan untuk menuju tempat dimana CL berada. Saat
aku sampai di ruangan CL suster meninggalkan kami. Aku langsung menuju sisi
kasur tempat CL berbaring. Aku genggam tangannya, nafasnya masih tidak teratur
di layar monitor. Aku hanya bisa menangis menatapnya seperti ini. Kepala CL
penuh dengan perban dan sedikit darah segar terlihat dari sela-sela perba yang
membalut kepalanya. Aku hanya tertunduk sambil menangis dan menggenggam
tangannya.
Andai saja tadi aku
menghalanginya untuk pulang bersama Taeyang. Andai saja tadi aku langsung
menelepon CL saat mendapat firasat itu. Andai saja semua ini aku yang alami,
aku tidak mungkin melihat CL terbujur lemah di dalam ruangan ini. Andai saja
semua ini aku yang alami, aku tidak mau melihat CL seperti ini, biarkan aku
saja yang menggantikannya. Biar aku saja yang menderita seperti ini. Biar aku
saja yang terbujur lemas dan koma di ranjang ini. Kenapa harus wanita yang aku
cintai yang harus melewati ini semua?
Aku hanya bisa menangis dan
terus menangis dan menyesali kejadian ini sambil terus berada di sisi CL dan
terus menggenggam tangannya yang lemah tak berdaya.
Setelah empat hari berselang,
orang tua CL yang tinggal di Busan pun datang. Mereka tidak kuasa mendengar
penjelasan dari dokter tentang kondisi CL yang sejak hari pertama sampai hari ke
empat tidak kunjung menunjukkan perubahan. Aku hanya bisa menenangkan mereka
dan berjanji akan selalu menjaga CL di
rumah sakit.
Sudah hampir seminggu aku
berjaga untuk CL di rumah sakit. Aku memberikan surat pengajuan cuti ku dan CL
kepada pihak kampus melalui T.O.P. setiap hari yang ku lakukan adalah menjaga
CL di pagi sampai sore hari sedangkan malam hari aku melanjutkan beberapa
pekerjaan paruh waktu ku. Begitu pola hidup ku sekarang setiap hari. Walau pun
orang tua CL datang ke Seoul
untuk membantu ku berjaga di rumah sakit tetapi aku tidak tega melihat tubuh
mereka yang sudah tua termakan usia, terkadang aku menyuruh mereka pulang lebih
dahulu agar mereka memiliki waktu istirahat yang cukup.
# dua bulan kemudian #
Siang itu aku sedang berjaga di
ruang I.C.CU tempat dimana CL masih terbujur lemas di ranjang rumah sakit. Saat
itu aku sedang membaca catatan kuliah yang diberikan T.O.P pada ku, walau aku
sudah menyatakan izin dari perkuliahan tetap saja T.O.P tidak mau melihat ku
tertinggal banyak pelajaran. Aku tengah serius membaca dan membaca semua
catatanya sampai ada seseorang yang membuka pintu kamar CL. Orang itu masuk
dengan mendorong orang lain di kursi roda, sontak aku menoleh ke asal suara
pintu yang terbuka. Aku melihat seorang pria tua yang waktu itu yang mengalah
dengan ku saat di meja resepsionis saat hari kecelakaan CL terjadi. Sementara
pria di kursi roda itu adalah Taeyang, dengan perasaan kaget aku langsung
berdiri dan menatap mereka dengan tatapan yang menurut ku aku juga tidak tahu
apa yang aku rasakan saat ini.
“Taeyang?”, tanya ku tidak
percaya ke pada pria di kursi roda itu.
“GD…”, Taeyang menghentikan
kata-katanya lalu memegang tangan pria tua itu.
“Aku bisa sendiri appa.”,
jelasnya pada pria tua itu. Ternyata pria tua berjas hitam itu adalah ayahnya
Taeyang.
Taeyang menghampiri ku dengan
menjalankan kursi rodanya sendiri.
“Maafkan aku GD, saat itu aku
sedang kalut, aku tidak bermaksud mencelakakan CL?”, jelasnya pada ku dengan
tangis yang mulai membasahi wajah tampannya.
“Bukan kepada ku kau harus
meminta maaf tetapi kepada orang tua CL dan juga CL.”, jawab ku dingin.
Taeyang hanya bisa tertunduk
malu sambil berderai air mata. Aku pun tidak kuasa melihatnya selemah ini, aku
pun menghampiri Taeyang dan memeluknya sebagai sahabat.
“Sudahlah ini semua sudah
terjadi, sekarang kita hanya bisa berdoa saja untuk kebaikan kita semua.”,
jelas ku, mata ku pun memerah karena menahan air mata yang akan keluar. Taeyang
hanya bisa mengangguk pasrah dan mencoba menerima kejadian yang telah ada.
Akhirnya mulai hari itu Taeyang
sering bergantian menjaga CL dengan ku. Aku tahu Taeyang masih mencintai CL
tetapi selama ini dia dibutakan oleh harta dan kesenangan sesaat. Dan mulai
saat itu aku dan Taeyang berjanji akan menjadi sahabat yang baik dan selalu
menjaga wanita yang kami cintai dengan setulus hati.
# enam bulan kemudian #
Sudah enam bulan CL tidak
sadarkan diri, aku masih tetap menunggunya dan menjaganya di ruang I.C.C.U. Malam
ini adalah jadwal kerja paruh waktu di café bersama Seung Ri, aku pun bersiap karena
sebentar lagi aku di jemput oleh Seung Ri. Saat aku hendak keluar kamar
tiba-tiba layar monitor menunjukkan bunyi dan gerakan yang aneh, sontak aku
segera merapat ke samping ranjang CL dan menggenggam tangannya. Jari-jari CL
sedikit demi sedikit mulai bergerak, kelopak matanya juga sedikit demi sedikit
bergoyang. Aku segera memencet tombol darurat yang ada disamping tempat tidur
CL dan tidak lama kemudian suster dan dokter pun masuk ke dalam ruangan.
“Apa yang terjadi dengan CL
dokter?”, tanya ku panik saat dokter memeriksa CL.
“Ini suatu ke ajaiban Tuhan.”,
kata dokter dan aku pun hanya bisa terdiam melihat kesibukan dokter yang tengah
memeriksa CL. Tidak lama kemudian mata CL terbuka dia memandang sekelilingnya
dengan tatapan yang lemah.
Aku hanya bisa menangis karena
kaget menerima kenyataan bahwa CL sudah sadarkan diri, “CL…”, kata ku lirih.
“Suster tolong segera hubungi
orang tua nona ini, ada yang perlu aku bicarakan dengan mereka.”, kata dokter
itu seraya meninggalkan ruangan.
“Baik dokter.”, jawab suster itu
singkat lalu mereka semua meninggalakan ruangan ini.
Aku pun menghampiri CL yang
masih lemah di ranjangnya. Ku tatap wajahnya yang sedang tersenyum lemah kearah
ku. Ku usap air mata ku yang sudah terlanjur jatuh membasahi wajah ku. “CL…”,
panggil ku lirih.
“GD…”, jawabnya lemah.
“Sssst~ sudah kau istirahat saja
dulu, kau baru sadar dari koma mu jadi kau harus banyak istirahat.”, pinta ku.
CL hanya bisa tersenyum manis
kearah ku. Aku pun membalas senyuman manisnya aku segera mengirim pesan singkat
kepada Seung Ri…
“Seung Ri-ah, hari ini tolong
liburkan aku dari tempat kerja karena CL baru saja sadar dari komanya.
Tolong kau beritahu T.O.P hyung,
dan yang lainnya aku akan berjaga di rumah sakit.”
Tulis ku pada Seung
Ri dan tidak lama berselang Seung Ri
membalas pesan ku…
“Baik hyung, akan aku sampaikan berita ini pada yang lainnya dan
kami akan segera ke sana.”
Lalu aku pun segera meminta izin ke luar ruangan pada CL untuk menelepon
orang tuanya.
“Aku segera kembali, aku mau
menelepon orang tua mu dulu.”, jelas ku pada CL
CL hanya bisa mengangguk
menyetujui. Aku segera keluar ruang I.C.C.U lalu menelepon orang tua CL dan
menjelaskan pada mereka bahwa CL telah sadar dari koma yang dideritanya.
Setelah selesai menelepon orang
tua CL aku mengingat seseorang yang penting, aku pun segera menelepon Taeyang
untuk mengabarkan kabar bahagia ini. Telepon ku diangkat pada saat deringan
pertama.
“Yeoboseo?”
“Taeyang-sshi, CL sudah sadarkan
diri, cepatlah kau datang ke rumah sakit.”, pinta ku pada Taeyang.
“Baiklah GD aku segera ke sana , tolong jaga dia
sampai aku datang.”, pinta Taeyang lalu mematikan sambungan teleponnya dengan
ku. Aku pun segera masuk ke dalam ruang I.C.C.U lagi dan duduk di samping CL.
“Tadi aku sudah menelepon
teman-teman yang lain serta orang tua mu dan memberi tahu mereka bahwa kau
sudah sadar dari koma mu dan aku juga…”,
ku hentikan pembicaraan ku lalu menatap wajah CL yang tampak bingung.
“Tadi aku juga memberi tahu
Taeyang tentang ke adaan mu yang sudah sadar dari koma mu.”, jelas ku sambil
menundukkan kepala karena merasa bersalah.
“Oppa?”, tanyanya kaget,
“Bagaimana keadaan oppa GD?”, tanyanya mulai panik.
“Tenanglah CL jangan seperti
ini, kau baru saja siuman.”, pinta ku.
“Baiklah, tetapi ceritakan
tentang keadaan oppa?”, pintanya.
Aku pun menarik nafas panjang
untuk menenangkan diri ku lalu aku pun bercerita pada CL yang sedang terbaring
lemah.
“Setelah kejadian hari itu kau
mengalami benturan yang sangat parah di kepala sementara Taeyang mengalami
kelumpuhan karena kedua kakinya terjepit saat kecelakaan terjadi.”, jelas ku
lirih.
CL hanya bisa menangis dan memangil-manggil Taeyang dengan lirih,
“Oppa… Oppa… Oppa…”
Aku hanya bisa terdiam dan tanpa
ku sadarai aku ikut menangis bersama CL.
Setelah tiga puluh menit
kemudian teman-teman kami dan juga orang tua CL datang ke rumah sakit aku pun
bergantian dengan mereka keluar masuk I.C.CU untuk melihat ke adaan CL di
dalam. Pertama ke dua orang tua CL masuk kedalam setelah mereka T.O.P dan
Park Bom pun masuk ke
dalam dan begitu seterusnya. Aku hanya menunggu di luar ruang I.C.CU dan hanya
menunggu satu orang yang masih di nantikan CL setelah apa yang sudah terjadi
selama ini pada CL.
Tepat setelah T.O.P dan Park Bom keluar ruangan di saat itu
Taeyang datang dengan mengenakan kursi roda yang sekarang akan setia menemani
langkah Taeyang serta ayah Taeyang yang setia menemani Taeyang.
Kami pun menatap ke datangan
Taeyang bersama ayahnya dengan perasaan yang bercampur aduk. Mendadak Taeyang
menghentikan langkahnya saat melihat Bom bangkit untuk menghampiri Taeyang.
“Kau! Mau apa kau datang ke
sini! Mau buat CL mati! Ini semua gara-gara kelalaian mu!”, tuntut Bom dengan
emosi yang berapai-api.
“Tenagkan diri mu Bom-ah.”,
pinta T.O.P sambil memegangi bahu Bom yang kemudian di tepis oleh Bom.
“Park Bom, maafkan aku, aku tahu
ini semua salah ku, tujuan ku datang kesini untuk menebus kesalahan ku pada
CL.”, pinta Taeyang lirih.
“Percuma, ini semua sudah
terlambat!” pangkas Bom.
“Sudahlah Bom-ah, aku yang
memberi tahu ke adaan CL yang sudah sadar, dia juga punya hak karena dia masih
tunangan CL.”,jelas ku pada Bom.
“Apa maksud mu GD? Kau membela
si b*******k ini GD!,” tanyanya penuh amarah. Aku hanya bisa mengangguk
mengiyakan.
“Sudahlah Bom, ini rumah sakit,
jangan buat keributan disini.”, pinta T.O.P lagi.
Bom hanya bisa melipat kedua
tangannya di dada dan segera duduk disamping Sandara dengan perasaan yang masih
kesal.
Setelah kejadian itu tidak lama
suster keluar dan memanggil nama ku, “Tuan G Dragon?”, tanyanya. Aku pun
bangkit dan menghampiri suster itu.
“Iya saya G Dragon, ada apa
suster?,” tanya ku heran.
“Nona Chaerin meminta kepada
anda untuk membawa semua orang yang ada diruang tunggu untuk masuk kedalam, ada
sesuatu yang ingin dia sampaikan, tetapi saya mohon jangan membuat keributan.”,
jelas suster tersebut.
“Baiklah.”, jawab ku singkat
lalu masuk bersamaan dengan yang lain. Saat Taeyang hendak masuk dia menoleh ke
arah ayahnya,
“Kali ini biar GD saja yang
membantu ku appa.”, pintanya pada ayahnya.
Aku hanya mengangguk dan segera
mendorong kursi roda Taeyang ke dalam ruang I.C.C.U
Sesampainya kami di kamar CL
kami pun segera berdiri di samping-samping ranjang CL. CL menatap tunangannya
dengan lirih, “Oppa…”, panggilnya lemas. Segera Taeyang memegang tangan CL yang
terkulai lemah.
“Aku disini.”, jawabnya.
“Oppa maafkan aku, maaf bila
persahabatan ku dengan GD membuat mu cemburu, maaf bila aku tidak bisa
mendampingi mu lagi..”, ucapnya pelan.
“Anniya, aku yang harusnya
meminta maaf pada mu, aku yang sudah membuat hubungan kita seperti ini, aku
mohon maafkan aku chagiya?”, pinta Taeyang sambil meneteskan air mata
kesedihan.Mereka berdua pun menangis bersama-sama. Kami yang melihat hal ini
juga ikut larut dalam kesedihan dan ikut menangis bersama-sama.
CL pun menoleh ke arah Bom,
“Bom-eonnie, Sandara-eonnie,
Minzy-ah, terima kasih sudah menjadi sahabat ku selama ini, maafkan aku bila
aku tidak mendengarkan saran-saran kalian, memiliki sahabat seperti kalian
adalah hal yang terindah sepanjang hidup ku, sekali lagi terima kasih.”, ucap
CL
“CL-ah…”, ucap Sandara sambil
menangis tersedu-sedu.
“CL-ah, aku sangat mencintai mu
dan juga persahabatan kita yang terjalin selama ini,”, ucap Bom menimpali.
“CL-eonnie, ku mohon jangan
berkata seperti itu lagi, aku yakin kau akan kembali sehat dan bisa berkumpul
bersama lagi.,”pinta Minzy sambil mengeleng-gelengkan kepala.
CL hanya tersenyum halus kearah
mereka dan melanjutkan pembicaraannya lagi.
“T.O.P-hyung tolong jaga GD
baik-baik dan terima kasih kalian sudah menjadi bagian dalam persahabatan kita
selama ini.”
T.O.P, Seung Ri,
dan Daesung hanya bisa menganggukkan kepala sambil menangis tersedu-sedu. Lalu
tatapan CL kembali kepada Taeyang. Dia menatap tunangannya itu dengan senyuman
manis yang berkembang di tengah-tengah tangis haru yang membasahi pipinya.
“Oppa, aku tidak menyesal telah
mengenal mu dan menjadikan diri mu
bagian terpenting di dalam hidup ku selama ini, aku sudah memaafkan
segala kesalahan mu pada ku karena aku percaya kau melakukan ini semua karena kau cinta pada ku.”, ucap CL sambil mengerahkan
tenaganya untuk mencium tangan Taeyang yang sedari tadi erat menggenggam
tangannya.
“Ku mohon jangan berbicara
seperti itu, aku janji setelah kau sembuh kita akan segera menikah dan hidup
bahagia selamanya.”, ucap Taeyang.
CL hanya bisa tersenyum manis ke
arah Taeyang.
Lalu CL menoleh ke arah orang
tuanya yang berada disamping kanan ranjangnya.
“Eomma, Appa, terima kasih telah
melahirkan dan menjaga ku selama ini, terima kasih untuk segalanya dan maafkan
atas kesalahan ku selama ini kepada kalian.”, ucap CL lirih kepada ke dua orang
tuanya. Mereka hanya bisa menangis melihat anaknya seperti ini. Lalu CL
menggenggam tangan ku,
“GD-ah, terima kasih sudah mau
menjadi sahabat ku selama ini, terima kasih atas bantuan mu dan kepercayaan mu
selama ini kepada ku. Jujur aku juga mencintai mu tetapi rasa cinta ku pada mu
tidak sebesar rasa cinta ku pada oppa, aku juga mencintai mu GD, maaf bila aku
telat mengatakan ini pada mu.”, ucapnya.
Aku pun secara perlahan mencium
bibir CL,entah apa yang sedang aku lakukan tetapi hal ini aku lakukan dengan
spontan.
“Saranghae CL…”
CL pun tersenyum dan secara
perlahan mata CL mulai tertutup dan suara di monitor pun menjadi datar dan kami
pun hening di dalam tangis yang membanjiri ruangan ini.
# dua tahun setelah ke matian CL
#
Hari ini tepat dua tahun CL
meninggalkan bumi ini, aku pun sudah berjanji kepada yang lain untuk
mengunjungi makamnya. Aku sudah menunggu yang lainnya didepan gerbang pemakaman
cukup lama dan tidak lama kemudian yang lainnya pun datang.
“Dari mana saja kalian?”, tanya
ku kesal.
“Maafkan kami, tadi aku dan T.O.P.
sedang mencoba gaun pernikahan kami.”, ucap Bom senang sambil merangkul
T.O.P yang berdiri di sebelahnya.
“Kalian yang menikah kenapa yang
lain juga ikut terlambat?”, gerutu ku kesal. Mereka hanya bisa tertawa berirama
saat melihat kekesalan ku.
“Ayo cepat aku sudah ada janji
ditempat lain.”, ucap ku ke pada yang lain
“Waaaah~ hyung kamu sudah punya
pacar ya?”, tanya Seung Ri.
“Rahasia.”, jawab ku usil sambil
mengedipkan mata pada Seung Ri.
“Hyung~”, rengek Seung Ri.
Aku pun meninggalkan Seung Ri
yang tengah merengek pada ku. Kami pun segera ke makam CL tanpa mempedulikan
rengekan Seung Ri lalu kami pun berdoa untuk ke abadian CL
di surga. Setelah selesai berdoa aku pun memisahkan diri dari mereka dan segera
pergi ke laut. Tempat dimana sejarah persahabatan dan cinta aku pada CL
terjalin.
Setelah melalui tiga puluh menit
perjalanan aku pun sampai di pantai yang aku maksud, disana aku menelusuri
pinggiran pantai sambil mengingat-ingan kenangan ku tentang CL. Setelah aku
merasa lelah maka aku putuskan untuk beristirahat dan tidur sebentar di hamparan
pasir pantai yang hangat. Udara hari ini sangat cerah namun tidak panas makanya
aku berani memutuskan untuk beristirahat sejenak.
Entah sudah berapa lama aku
tertidur di pasir pantai sampai aku menyadari matahari sudah mau berlabuh di
ujung samudra sana.
Aku pun bangkit dan membersihkan sisa-sisa pasir yang tertinggal di baju dan
celana khaki yang ku kenakan saat aku tertidur tadi. Aku pun beranjak pulang
tetapi sesaat langkah ku terhenti melihat siluet gadis di tepi pantai. Rasanya
aku pernah melihat gadis itu, aku pun membersihkan mata ku lalu menatap siluet
itu lagi. Dan ternyata siluet itu tampak seperti CL yang sedang tersenyum
sambil menunggu ku. Karena tidak kuasa aku pun meneteskan air mata bahagia ini
sambil tersenyum ke arah siluet itu, CL Saranghae…
# The End…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar